Mengenal Seaglider, Alat Mata-Mata Bawah Laut yang Mampu Jalankan Misi Ribuan Kilometer

Agregasi Sindonews.com, · Selasa 05 Januari 2021 08:58 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 05 337 2338953 mengenal-seaglider-alat-mata-mata-bawah-laut-yang-mampu-jalankan-misi-ribuan-kilometer-zDYskjrpMO.jpg Foto: TNI AL

JAKARTA – Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudho Margono menjelaskan bahwasanya drone yang ditemukan di Kepualauan Selayar, Sulawesi Selatan merupakan seaglider. Alat tersebut dipastikan dapat menyelam hingga 2.000 meter di bawah permukaan laut.

(Baca juga: Klarifikasi KSAL soal Temuan Drone Bawah Laut di Selayar)

Dalam rangka penyelidikan lebih lanjut, TNI AL membawa seaglider tersebut ke Pusat Hidrografi dan Oseanografi Angkatan Laut yang terletak di Ancol, Jakarta Utara.

Drone bawah laut ini juga dilengkapi dengan sejumlah sensor yang dapat merekam kedalaman laut, arah arus, suhu, kadar oksigen, kesuburan laut, hingga suara ikan. Menariknya, perangkat pengumpul data bawah laut itu tidak memiliki nama negara pembuat atau pemiliknya.

(Baca juga: Cita-Cita Mulia Syekh Ali Jaber, Jadikan Generasi Muda Lombok Tahfidz Quran)

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto, Juwana, pun menduga Seaglider itu merupakan perangkat mata-mata, bukan milik swasta.

"Ini menambah kuat dugaan Seaglider merupakan perangkat mata-mata dan bukan dimiliki oleh swasta," kata Hikmahanto Juwana, Selasa (5/1/2021).

Dilansir dari Wikepedia, Seaglider adalah Autonomous Underwater Vehicle (AUV) menyelam dalam yang dirancang untuk misi yang berlangsung berbulan-bulan dan menempuh jarak ribuan mil. Dalam aplikasi militer , Seaglider lebih sering disebut sebagai Unmanned Underwater Vehicle (UUV).

Seaglider awalnya dikembangkan oleh University of Washington dengan nama iRobot. Lalu iRobot menerima lisensi lima tahun eksklusif untuk memproduksi Seaglider bagi pelanggan di luar University of Washington pada bulan Juni 2008.

Pada Mei 2013, Kongsberg Underwater Technology, Inc. mengumumkan, mereka telah menyelesaikan negosiasi dengan Pusat Komersialisasi Universitas Washington untuk mendapatkan hak tunggal memproduksi, memasarkan, dan melanjutkan pengembangan teknologi Seaglider.

Seaglider dapat digunakan untuk mengukur suhu, salinitas, dan kuantitas lain di lautan, mengirimkan kembali data menggunakan telemetri satelit global. UUV Seaglider digunakan di seluruh dunia, mengumpulkan properti fisik kelautan dan melakukan berbagai misi lain untuk ahli kelautan, termasuk Angkatan Laut AS, lembaga pemerintah, dan organisasi penelitian.

Seaglider "terbang" melalui air dengan kebutuhan energi yang sangat sederhana menggunakan perubahan daya apung untuk daya dorong yang digabungkan dengan bentuk hidrodinamik gaya hambat rendah yang stabil. Didesain untuk beroperasi pada kedalaman hingga 1.000 meter, lambung mengompresi saat tenggelam agar sesuai dengan tekanan dari air laut.

Pada Mei 2010, Seaglider dikerahkan di Teluk Meksiko untuk membantu memantau dan mengumpulkan data selama insiden tumpahan minyak Horizon Deepwater.

Kemudian di tahun 2013, Angkatan Laut AS menguji Seaglider untuk digunakan di kapal tempur Littoral. Pada 2016, mereka mengerahkan LBS-Glider dari T-AGS dan bersiap untuk menyebarkan dari DDG.

Melihat spesifikasi seaglider di atas, patut bagi kita, khususnya TNI AL untuk waspada terhadap infiltrasi dari "kapal selam" mini tanpa awak ini. Mengingat perairan Indonesia merupakan wilayah strategis dalam perdagangan dan politik dunia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini