Sepak Terjang Djoko Tjandra : Dari Pelarian hingga Ditangkap dan Divonis Hari Ini

Djairan, iNews · Selasa 22 Desember 2020 13:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 22 337 2332067 sepak-terjang-djoko-tjandra-dari-pelarian-hingga-ditangkap-dan-divonis-hari-ini-EVu8YwZ5Fb.jpg Djoko Tjandra. (Foto : Okezone.com/Arif Julianto)

Divonis 2 Tahun Penjara dan Kabur

Kasus Bank Bali mencuat pada 1999, yang diselidiki polisi dan Kejaksaan Agung (Kejagung). Djoko Tjandra didakwa melakukan korupsi dan dituntut 18 bulan penjara. Namun, ia divonis bebas pada 28 Agustus 2000. Majelis hakim PN Jakarta Selatan beralasan perbuatan Djoko Tjandra bukan pidana, melainkan perdata.

Delapan tahun kemudian, Kejagung mengajukan PK ke MA. Pada 2009, Djoko Tjandra dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman dua tahun penjara, Ia juga didenda dan membayar ganti rugi. Namun sayang, sehari sebelum MA mengabulkan permohonan PK Kejagung, Djoko Tjandra kabur dari Indonesia ke Port Moresby, Papua Nugini pada Juni 2009.

Dalam pelariannya, Djoko Tjandra sempat menerima status kewarganegaraan Papua Nugini dan mendapatkan paspor negara tersebut tahun 2012. Namun, Ombudsman Papua Nugini menyatakan status kewarganegaraan Djoko Tjandra melanggar hukum dan selayaknya dicabut.

Masuk ke Indonesia Tanpa Terdeteksi

Lama menghilang, kasus Djoko Tjandra kembali menyeruak saat dirinya berupaya mengajukan PK pada 8 Juni 2020. PN Jaksel pun memutuskan tidak menerima permohonan PK yang diajukan Djoko Tjandra.

Ia berhasil masuk ke Indonesia tanpa terdeteksi pihak Direktorat Jenderal Imigrasi, hingga bisa mulus membuat e-KTP dan surat jalan hingga bisa wara wiri dengan aman. Usai mendaftar PK dan akhirnya ditolak, Djoko Tjandra kembali meninggalkan Indonesia kabur ke Malaysia.

Baca Juga : Jelang Vonis, Djoko Tjandra: Seharusnya Bebas

Hingga akhirnya, sejumlah perwira Polri dicopot lantaran diduga terlibat memuluskan usaha Djoko Tjandra melakukan perjalanan tanpa terdeteksi. Seperti Brigjen Prasetijo Utomo dicopot dari jabatan Kepala Biro Koordinasi dan Pengawasan PPNS Bareskrim Polri, dan sudah menjadi tersangka.

Kemudian, Irjen Napoleon Bonaparte dicopot sebagai Kepala Divisi Hubungan Internasional, dan Brigjen Nugroho Slamet Wibowo dicopot dari jabatan Sekretaris NCB Interpol Indonesia. Djoko Tjandra diduga bisa membuat e-KTP dan mendapatkan surat jalan setelah red notice-nya dihapus.

Bahkan Lurah Grogol Selatan, Asep Subhan juga dicopot dari jabatannya karena membantu pembuatan e-KTP Djoko Tjandra. Kejagung juga mencopot Kepala Sub Bagian Pemantauan dan Evaluasi 2 pada Biro Perencanaan Jaksa Agung Muda Pembinaan, Pinangki Sirna Malasari.

Ia terbukti melanggar disiplin dengan bertemu Djoko Tjandra di Malaysia pada 2019. Polri juga menetapkan pengacara Djoko Tjandra, Anita Kolopaking sebagai tersangka terkait kasus pembuatan surat jalan palsu.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini