Share

Stigma Negatif Masyarakat Disebut Menghambat Upaya Memutus Penyebaran Covid-19

Binti Mufarida, Sindonews · Senin 21 Desember 2020 18:26 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 21 337 2331652 stigma-negatif-masyarakat-disebut-menghambat-upaya-memutus-penyebaran-covid-19-3plpyOpAtx.jpg Ilustrasi (Dok Okezone)

JAKARTA - Stigma negatif tekait virus corona (Covid-19) masih melekat erat di masyarakat. Bahkan, banyak yang merasa sulit untuk menindaklanjuti keluhan atau kasus yang terjadi di lingkungan sekitar mereka sehingga berdampak terhadap upaya pemutusan penularan Covid-19.

“Ya memang ini sesuatu yang sangat sulit, karena stigma,” ungkap Tim Pakar Satgas Covid-19 Bidang Perubahan Perilaku sekaligus Kepala Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia, Turro Wongkaren dalam dialog secara virtual dari Media Center Satgas Covid-19, Graha BNPB Jakarta, Senin (21/12/2020).

Turro menyebutkan, stigma negatif Covid-19 yang melekat erat di masyarakat ada dua. Pertama adalah stigma negatif yang ada di dalam diri sendiri. “Yang pertama stigma di dalam diri sendiri pun itu juga penting. Karena dia khawatir misalnya kalau ibu atau bapak yang bekerja, dia yang menyebarkan. Jadi, agak malu kalau dia ternyata menjadi penyebar,” katanya.

Kedua, kata Turro adalah stigma dari pandangan masyarakat. Ia pun menyayangkan bahwa stigma negatif dari masyarakat ini masih ada. “Yang kedua itu adalah stigma yang berhubungan dengan cara masyarakat melihat seseorang. Dan ini yang sebenarnya sama, dua-duanya sama-sama menyedihkan karena seharusnya tidak ada.”

Lebih menyedihkan lagi, kata Turro, jika stigma negatif yang diberikan masyarakat itu memberikan ketakutan-ketakutan, terutama ketika terpapar Covid-19. “Tapi salah satunya dikarenakan enggak cuma stigma yang dilihat, yang diberikan orang lain. Tetapi, juga ketakutan-ketakutan yang dari dalam diri sendiri itu yang banyak,” ucapnya.

Baca Juga : BPOM Tegaskan Tak Hanya Indonesia yang Pesan Vaksin Sinovac

Meski begitu, Turro mengatakan pemberian stigma negatif juga tergantung di wilayah tempat tinggal. “Karena memang tergantung dari wilayahnya tentunya,” katanya.

Namun, saat ini pandangan masyarakat terhadap Covid-19 sudah sedikit berubah ketika awal terjadinya pandemi.

“Tapi banyak sekarang ini, kita sedikit berbeda katakanlah bulan April pada waktu bulan April. Begitu banyak yang tidak kita ketahui tentang penyakit ini. Dan masyarakat juga bener-bener sangat menghindari,” ucap Turro.

Baca Juga : Update Corona di Indonesia 21 Desember 2020: Positif 671.778 Orang, 546.884 Sembuh dan 20.085 Meninggal

“Tapi sekarang kalau saya lihat pelan-pelan, masyarakat sudah mulai membuka ‘oh ya ini penyakit, oh ya memang ini perlu penanganan medis’. Tapi addition time, orang takut kalau sampai terkena, kalau sampai dia dinyatakan positif, maka ada berbagai hal yang dia harus selesaikan,” tutur Turro.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini