Perantara Suap Djoko Tjandra Akui Serahkan Uang kepada 2 Jenderal Polisi

Arie Dwi Satrio, Okezone · Kamis 17 Desember 2020 14:12 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 17 337 2329428 perantara-suap-djoko-tjandra-akui-serahkan-uang-kepada-2-jenderal-polisi-eI7aedAqzs.jpg Foto: Illustrasi Shutterstock

JAKARTA - Pengusaha Tommy Sumardi mengakui telah menyerahkan uang dugaan suap ke Irjen Napoleon Bonaparte, selaku mantan Kepala Divisi Hubungan Internasional (Kadiv Hubinter) Polri, serta Brigjen Prasetijo Utomo selaku mantan Kepala Biro Koordinator Pengawas PPNS Bareskrim Polri. Tommy Sumardi sendiri merupakan terdakwa perantara suap Djoko Tjandra.

Tommy menegaskan, bahwa ia tidak pernah merekayasa kasus layaknya yang pernah dituduhkan oleh Brigjen Prasetijo Utomo dan Irjen Napoleon Bonaparte. Ditekankan Tommy, semua yang disampaikan di dalam persidangan adalah benar adanya. Menurutnya, tidak ada keterangannya yang mengada-ada.

"Yang pasti, peristiwa penyerahan uang itu benar adanya, sebagian pihak khususnya pihak terdakwa Napoleon Bonaparte dan Prasetijo Utomo menuduh saya merekayasa kasus, sungguh tidak masuk akal dan mengada-ada," ujar Tommy saat membacakan pledoi atau nota pembelaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis (17/12/2020).

 Baca juga: Didakwa Terima Suap Rp6 Miliar dari Djoko Tjandra, Irjen Napoleon: Saya Dizalimi

"Untuk apa saya merekayasa kasus, sementara saya sendiri menderita dalam penjara, tidak dapat bertemu istri dan anak-anak saya," imbuhnya.

Tommy sempat menitihkan air mata saat mengingat putrinya. Ia pun mencurahkan isi hatinya selama mendakam di dalam penjara. Tommy mengaku rindu dengan anak dan istrinya.

Baca juga:  Irjen Napoleon Minta Tambahan Rp7 Miliar untuk Petinggi, Polri: Berarti Dia Mengaku Terima Suap

"Sebelum saya di penjara, setiap malam dia tidur bersama saya dan istri, dia tidak akan tidur apabila saya belum masuk kamar tidur. sekarang setiap hari dia menanyakan, dimana bapaknya? dan istri saya menyampaikan bahwa bapak sedang pergi ke Kalibata," bebernya.

"Saya beritahu sama istri saya bahwa saking kangennya dengan saya, semua baju yang pernah saya pakai dicium-cium sama anak perempuan saya, hancur hati saya mendengar cerita ini," sambungnya.

 

Kepada Majelis Hakim Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Tommy kembali meyakinkan bahwa kasus suap dari Djoko Tjandra untuk dua jenderal polisi bukan sebuah rekayasa. Peristiwa penyerahan uang yang diduga berkaitan dengan red notice Djoko Tjandra, kata Tommy, adalah benar adanya.

"Majelis hakim yang mulia, disini saya tegaskan saya masih waras, hanya orang gila yang merekayasa kasus untuk memenjarakan dirinya sendiri. Saya punya keluarga, punya anak, dan pekerjaan, untuk apa saya meninggalkan semua ini hanya demi merekayasa kasus? sungguh tidak masuk akal," paparnya.

Atas perbuatannya yang memberikan uang suap dari Djoko Tjandra untuk dua jenderal polisi tersebut, Tommy meminta maaf. Ia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

"Majelis hakim yang saya muliakan, saya sudah berusia 63 tahun, saya ingin mengisi sisa hidup saya dengan tenang bersama keluarga saya, demi tulus mohon maaf sebesar-besarnya atas kekeliruan dan kesalahan saya, saya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan saya lagi," ucapnya.

Sebelumnya, Tommy Sumardi dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) agar dihukum 1 tahun 6 bulan penjara. Jaksa meyakini Tommy Sumardi terbukti bersalah atas kasus dugaan suap pengurusan red notice Djoko Tjandra. Selain pidana penjara, jaksa juga menuntut Tommy Sumardi untuk membayar denda sejumlah Rp100 juta subsider 6 bulan pidana badan.

Tommy Sumardi sendiri didakwa turut membantu terpidana kasus pengalihan hak tagih Bank Bali, Joko Soegiarto Tjandra (Djoko Tjandra) menyuap dua jenderal polisi. Dua jenderal polisi itu yakni, Irjen Napoleon Bonaparte selaku Kepala Divisi Hubungan Internasional (Kadiv Hubinter) Polri, serta Brigjen Prasetijo Utomo selaku Kepala Biro Koordinator Pengawas PPNS Bareskrim Polri.

Tommy Sumardi diduga menjadi perantara suap dari Djoko Tjandra untuk Irjen Napoleon dan Brigjen Prasetijo. Suap itu sengaja diberikan agar dua jenderal polisi tersebut bisa mengupayakan untuk menghapus nama Joko Soegiarto Tjandra dari Daftar pencarian Orang (DPO) yang dicatatkan di Direktorat Jenderal Imigrasi (Ditjen imigrasi).

Dalam surat dakwaan Jaksa, Irjen Napoleon Bonaparte disebut menerima uang sebesar 200 ribu dolar Singapura dan 270 ribu dolar Amerika Serikat. Sementara Brigjen Prasetyo, disebut turut menerima uang senilai 150 ribu dolar Amerika. Uang itu berasal dari Djoko Tjandra.

Djoko Tjandra diduga menyuap dua jenderal polisi tersebut untuk mengupayakan namanya dihapus dari DPO yang dicatatkan di Ditjen Imigrasi, dengan menerbitkan surat yang ditujukan kepada Dirjen Imigrasi Kemenkumham RI.

Adapun, surat yang diterbitkan yaitu surat dengan nomor : B/1000/IV/2020/NCB-Div HI, tanggal 29 April 2020; surat nomor : B/1030/IV/2020/NCB-Div HI tanggal 04 Mei 2020; dan surat nomor : B/1036/IV/2020/NCB-Div HI tgl 05 Mei 2020.

Atas dasar penerbitan surat tersebut, pihak Imigrasi kemudian melakukan penghapusan status DPO atasnama Joko Soegiarto Tjandra dari sistem Enhanced Cekal System (ECS) pada Sistim Informasi Keimigrasian (SIMKIM) Direktorat Jenderal Imigrasi. Hal itulah yang kemudian membuat Djoko Tjandra bebas keluar-masuk Indonesia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini