Share

Komisaris PT Sharleen Raya Penyuap Mantan Anggota DPR Divonis 2 Tahun Penjara

Arie Dwi Satrio, Okezone · Rabu 16 Desember 2020 19:44 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 16 337 2328972 komisaris-pt-sharleen-raya-penyuap-mantan-anggota-dpr-divonis-2-tahun-penjara-bJHxjqc9P1.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

JAKARTA - Direktur sekaligus Komisaris PT Sharleen Raya (Jeco Group), Hong Artha John Alfred divonis dua tahun penjara oleh Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Hong Artha juga diganjar untuk membayar denda sebesar Rp150 Juta subsidair tiga bulan kurungan.

Hakim menyatakan terdakwa Hong Artha John Alfred terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama. Hong Artha terbukti telah menyuap mantan Angggota DPR Damayanti Wisnu Putranti dan bekas Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) IX Maluku dan Maluku Utara.

"Menjatuhkan pidana penjara selama dua tahun dan denda Rp150 juta, yang apabila tidak dibayarkan maka diganti dengan pidana kurungan tiga bulan," kata Ketua Majelis Hakim saat membacakan amar putusannya di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (16/12/2020).

Hakim juga menolak permohonan Justice Collaborator (JC) Hong Artha. Sebab, menurut Hakim, vonis yang dijatuhkan terhadap Hong Artha sudah sesuai dengan perbuatannya.

Adapun, pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan terhadap Hong Artha tersebut didasari hal-hal yang memberatkan juga meringankan. Hal-hal yang memberatkan yakni, karena Hong Artha dinilai tidak mendukung upaya pemerintah dalam pemberantasan korupsi.

Kemudian, Hong Artha juga dinilai merusak citra masyarakat terhadap Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), khususnya BPJN. Sementara hal-hal yang meringankan yakni, terdakwa belum pernah dihukum, sopan, dan menyesali perbuatannya.

Baca Juga : Tolak Jadi Kuasa Hukum, Hotman Paris: Pengacara Senior yang Dekat Habib Rizieq Banyak!

Sebelumnya, Hong Artha dituntut oleh Jaksa penuntut umum pada KPK dengan pidana dua tahun penjara. Selain pidana penjara, Hong Artha juga dituntut untuk membayar denda Rp150 Juta subsidair tiga bulan kurungan.

Hong Arta bersama Direktur Utama PT Windhu Tunggal Utama Abdul Khoir dan Komisaris PT Cahaya Mas Perkasa Sokok Seng alias Aseng dinilai telah memberi suap Rp11,6 miliar kepada mantan anggota DPR RI Damayanti Wisnu Putranti dan bekas Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) IX Maluku dan Maluku Utara Amran HI Mustary.

Suap tersebut dimaksudkan agar ketiganya mendapatkan paket proyek Program Aspirasi dari anggota Komisi V di wilayah kerja BPJN IX Maluku dan Maluku Utara berdasarkan Daftar Iisan Proram dan Anggaran Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tahun anggaran 2016.

Berdasarkan surat dakwaan, pemberian uang tersebut dilakukan dalam tiga rangkaian perbuatan yakni, pemberian uang Rp 8 miliar dalam bentuk dollar AS kepada Amran untuk suksesi selaku Kepala BPJN IX Maluku dan Maluku Utara. Uang tersebut diberikan dalam dua tahap yakni Rp 7 miliar pada 13 Juli 2015 dan Rp 1 miliar pada akhir Juli 2015.

Kemudian, pemberian 'dana satu pintu' sebesar Rp2,6 miliar dalam bentuk dollar AS kepada Amran untuk pengurusan paket proyek program aspirasi dari Komisi V DPR RI. Uang tersebut diserahkan Abdul Khoir kepada Amran melalui seorang bernama Imran S Djumadil pada 22 Agustus 2015.

Terakhir, pemberian uang sebesar Rp1 miliar dalam bentuk dollar AS kepada Damayanti Wisnu Putranti yang diserahkan pada 26 November 2015 melalui seorang bernama Erwantoro dan Dessy A Edwin.

Atas perbuatannya, Hong Artha didakwa telah melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Juncto pasal 65 ayat (1) KUHP.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini