KPK Perpanjang Penahanan Edhy Prabowo dan Empat Tersangka Suap Benih Lobster

Arie Dwi Satrio, Okezone · Senin 14 Desember 2020 16:04 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 14 337 2327451 kpk-perpanjang-penahanan-edhy-prabowo-dan-empat-tersangka-suap-benih-lobster-3oyCUfTw0J.jpg Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperpanjang masa penahanan Menteri Kelautan dan Perikanan non-aktif, Edhy Prabowo (EP), pada hari ini. Tersangka kasus dugaan suap terkait perizinan ekspor benih lobster itu diperpanjang masa tahanannya selama 40 hari kedepan sejak 15 Desember 2020 hingga 23 Januari 2021.

Tak hanya Edhy, KPK juga memperpanjang masa tahanan empat tersangka lainnya. Keempat tersangka yang juga diperpanjang penahanannya yaitu, Stafsus Menteri Kelautan dan Perikanan, Safri (SAF); Pengurus PT Aero Citra Kargo (ACK), Siswadi (SWD); Staf Istri Menteri Kelautan dan Perikanan, Ainul Faqih (AF); serta Direktur PT DPP, Suharjito (SJT).

"Hari ini, 14/12/2020 dilakukan perpanjangan penahanan terhadap lima orang tersangka masing-masing selama 40 hari dimulai tanggal 15 Desember 2020 sampai 23 Januari 2021," kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri melalui pesan singkatnya, Senin (14/12/2020).

Lebih lanjut, kata Ali, kelima tersangka kasus dugaan suap terkait perizinan ekspor benih lobster tersebut ditahan di Rutan cabang KPK pada Rutan Gedung Merah Putih KPK. Kelimanya diperpanjang penahanannya karena penyidik masih butuh waktu untuk mengumpulkan bukti tambahan.

"Perpanjangan penahanan dilakukan karena penyidik KPK masih memerlukan waktu untuk melengkapi berkas perkara para tersangka tersebut," pungkasnya.

Sejauh ini, KPK baru menetapkan tujuh tersangka kasus dugaan suap terkait perizinan ekspor benih lobster. Ketujuh tersangka itu yakni, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo (EP); Stafsus Menteri Kelautan dan Perikanan, Safri (SAF) dan Andreau Pribadi Misata (APM).

Kemudian, Pengurus PT Aero Citra Kargo (ACK), Siswadi (SWD); Staf Istri Menteri Kelautan dan Perikanan, Ainul Faqih (AF); dan pihak swasta Amiril Mukminin (AM). Sementara satu tersangka pemberi suap yakni, Direktur PT DPP, Suharjito (SJT).

Edhy bersama Safri, Andreau Pribadi Misanta, Siswadi, Ainul Faqih, dan Amril Mukminin diduga menerima suap sebesar Rp 10,2 miliar dan USD 100 ribu dari Suharjito. Suap tersebut diberikan agar Edhy memberikan izin kepada PT Dua Putra Perkasa Pratama untuk menerima izin sebagai eksportir benur.

Sebagian uang suap tersebut digunakan oleh Edhy dan istrinya, Iis Rosyati Dewi untuk belanja barang mewah di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat pada 21-23 November 2020. Sekitar Rp750 juta digunakan untuk membeli jam tangan Rolex, tas Tumi dan Louis Vuitton serta baju Old Navy.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini