Tragedi 75 Tahun Bumi Hangus Serdadu Inggris di Tanah Bekasi

Fahmi Firdaus , Okezone · Sabtu 12 Desember 2020 15:34 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 12 337 2326411 tragedi-75-tahun-bumi-hangus-serdadu-inggris-di-tanah-bekasi-tsD8COh40t.jpg Tentara Inggris bakar rumah warga di Bekasi (foto: Imperial War Museum)

PERISTIWA bumi hangus tidak hanya terjadi di Kota Bandung, Jawa Barat. Namun sebuah wilayah di pinggir timur Jakarta, tepatnya di Bekasi juga pernah menjadi lautan api saat masa revolusi. Peristiwa Bekasi Lautan Api tak lepas dari rangkaian peristiwa jatuhnya sebuah Pesawat Dakota sekutu yang berisikan sekira 25 personel militer Inggris dari Mahratta Light Infantry.

(Baca juga: Komando Operasi Merapi, Aksi Sarwo Edhie Tumpas Perwira Pro PKI)

Pada 13 Desember 1945 atau tepatnya 75 tahun silam, pasukan Inggris memborbardir Bekasi dari segala arah. Serdadu Inggris mencari gerilyawan yang menghabisi 25 tentara Inggris.

Peristiwa ini bermula saat pesawat dengan tujuan Jakarta-Semarang itu terpaksa mendarat darurat setelah mengalami kerusakan mesin di sebuah kawasan di Rawa Gatel, Cakung yang dulunya, masih wilayah Bekasi pada 23 November 1945.

Jatuhnya pesawat itu sontak jadi perhatian warga. Seperti halnya masyarakat saat ini yang acap berkerumun jika terjadi suatu insiden atau peristiwa, masyarakat di Cakung saat itu juga begitu. Namun kerumunan masyarakat itu dianggap seperti pengepungan oleh para personel sekutu yang selamat.

(Baca juga: Habib Rizieq Menyerahkan Diri, Diaz Hendropriyono: Sampai Bertemu di 2026!)

Panglima Tertinggi Sekutu di Indonesia Jenderal Philip Christison, jelas menuntut para tahanan dibebaskan dan dikembalikan ke Jakarta. Tuntutan itu dilancarkan pada pemerintah Indonesia yang kemudian, Sutan Sjahrir, Perdana Menteri saat itu, meminta penjelasan Letkol Moeffreini Moe’min.

Semua korban selamat jatuhnya pesawat itu ditahan. Namun selama dalam perjalanan maupun saat penahanan para gerilyawan, semua tentara tersebut hanya tinggal nama.

Letkol Moeffreini dipanggil karena dianggap bertanggung jawab atas pengamanan di teritorial itu selaku Komandan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Resimen V/Cikampek. Dalam penjelasannya pada Sjahrir, Letkol Moeffreini tak bisa berbuat apa-apa karena para serdadu Inggris itu sudah dalam keadaan tak bernyawa.

Seperti dikutip dari buku ‘Sejarah Bekasi: Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini’ karya Endra Kusnawan, disebutkan kemarahan sekutu berujung pada tudingan, bahwa pelakunya berasal dari gerilyawan Laskar Banteng Hitam Indonesia di bawah naungan H. Darip.

Sejumlah unit kekuatan sekutu pun diterjunkan ke Bekasi pada 29 November 1945, meski akhirnya gagal setelah dihadang perlawanan TKR dan sejumlah laskar. Tapi pada 13 Desember 1945, pasukan Inggris dengan kekuatan lebih besar merangsek garis demarkasi di Kali Cakung.

Selain membawa serdadu lebih banyak dengan misi “Punitive Expedition” (ekspedisi pemberian hukuman), mereka turut membawa sejumlah jerigen minyak tanah untuk membuat Bekasi jadi lautan api. Desas-desus ini sedianya sudah tercium sebelumnya, sehingga gerilyawan sudah lebih dulu keluar dari Bekasi.

Tinggal tersisa para warga di rumah mereka masing-masing. Pasukan sekutu pun menyisir rumah-rumah warga demi memburu gerilyawan dan memerintahkan warga sipil Bekasi yang saat itu berpopulasi sekira lima ribu jiwa, keluar untuk mengungsi.

Tidak puas membakari ratusan rumah dan bangunan mulai dari kawasan Kampung Dua Ratus hingga alun-alun dan beberapa daerah lain, pasukan sekutu turut menghujani Bekasi dengan tembakan-tembakan meriam tank, artileri dan bom-bom dari pesawat.

Meski sudah menyisir dan memaksa warga keluar dari rumahnya, bombardemen dan pemusnahan Inggris pada 13-17 Desember 1945 itu tercatat meninggalkan 14 orang luka-luka di pihak Indonesia. Belum lagi dengan sekira 3.379 warga terpaksa jadi tunawisma.

Dua hari setelah sekutu menjadikan Bekasi Lautan Api, pemerintah Indonesia melalui Perdana Menteri Sutan Sjahrir, melancarkan protes lewat pidato radio yang kemudian, beritanya diumumkan pada 19 Desember 1945.

Dalam pengumuman resminya itu, Sjahrir menyatakan bahwa tindakan sekutu sudah kelewat batas. Protes dilancarkan dan tak lupa, Sjahrir mengingatkan kepada rakyat, agar tidak lagi memicu insiden yang bisa dijadikan alasan sekutu untuk “bertindak” lagi terhadap rakyat.

Peristiwa ini juga jadi headline di media-media nasional saat itu. Sebut saja Kedaulatan Rakjat (17 Desember 1945) dan Merdeka (21 Desember 1945). Tindakan Inggris ini ternyata juga mengundang kecaman dunia internasional, seperti yang dimuat media-media asing seperti Daily Mail, Daily Worker, News Chronicle dan Truth.

Kedua media asing itu bahkan menyetarakan aksi pemusnahan Bekasi seperti halnya pemboman dan pembakaran Nazi Jerman terhadap sebuah Kota Lidice di Cekoslovakia di masa Perang Dunia II.

Pascapemusnahan dan pembakaran, Bekasi bak kota hantu. Sementara itu para pengungsi yang sudah berada di luar wilayah Bekasi, sempat terlantar hingga akhirnya datang bantuan uang, pakaian dan bahan-bahan makanan dari pemerintah pusat di Jakarta dan Kabupaten Jatinegara.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini