Share

Jaksa Cecar Saksi soal Kebun Sawit yang Dibeli Menantu Nurhadi

Arie Dwi Satrio, Okezone · Jum'at 11 Desember 2020 19:16 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 11 337 2326077 jaksa-cecar-saksi-soal-kebun-sawit-yang-dibeli-menantu-nurhadi-EI7LQfoTlN.jpg Sidang lanjutan terkait kasus dugaan suap dan gratifikasi pengurusan perkara MA menghadirkan saksi Amir Widjaja di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (11/12/2020). (Foto : Okezone/Arie Dwi Satrio)

JAKARTA - Jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggali keterangan seorang saksi Amir Widjaja dalam sidang lanjutan kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait pengurusan perkara di Mahkamah Agung, untuk terdakwa Nurhadi dan Rezky Herbiyono.

Amir Widjaja merupakan pemilik lahan kebun kelapa sawit di Desa Pancaukan, Kecamatan Barumun, Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara. Sidang terhadap Amir Widjaja dilaksanakan melalui daring.

Dalam persidangan, Jaksa mencecar Amir Widjaja terkait lahan kebun sawit seluas 150 hektare di Desa Pancaukan, Padang Lawas, yang dibeli menantu mantan Sekretaris MA Nurhadi, Rezky Herbiyono. Jaksa mendalami ihwal proses penjualan lahan kebun sawit milik Amir Widjaja kepada Rezky Herbiyono.

Rezky Herbiyono diduga membeli lahan kebun sawit milik Amir Widjaja melalui Sekretaris Pengadilan Tinggi Agama Medan, Hilman Lubis serta kakaknya, Bahrain Lubis yang merupakan mantan Kepala Biro Perencanaan dan Organisasi MA.

"Gimana ceritanya kok Pak Bahrain bisa nyuruh Anda menemui Pak Nurhadi di Hotel Aryaduta?" tanya Jaksa Nurharis kepada Amir di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Jumat (11/12/2020).

Amir menceritakan, awalnya ia mengenal Nurhadi dan Rezky lewat Hilman Lubis. Hilman memperkenalkan Nurhadi dan Rezky kepada Amir sebagai orang yang akan membeli lahannya.

Baca Juga : Selebgram Cantik Ini Ungkap Pembelian Tas Mewah oleh Anak Nurhadi

"Ya Pak Hilman yang hubungi saya. Semula hanya bilang, yang mau membeli itu adalah menantunya Sekretaris MA. Karena menantunya pengusaha SPBU di Jawa Timur, di mana-mana ada," kata Amir menjawab pertanyaan Jaksa.

Jaksa kembali mengonfirmasi kebenaran bahwa orang yang akan membeli lahannya adalah Nurhadi. Namun, ditekankan Amir, orang yang akan membeli lahannya bukan Nurhadi, melainkan Rezky Herbiyono.

"Jadi saudara dihubungi Pak Hilman Lubis. Pembelinya adalah Sekretaris MA?" tanya Jaksa ke Amir.

"Pembelinya bukan Sekretaris MA, tapi menantunya," ucapnya.

Jaksa kemudian mengorek kembali kesaksian Amir soal proses negosiasi penjualan tanah untuk Rezky Herbiyono. Amir menjelaskan, proses negosiasi dilakukan lewat Hilman Lubis.

"Ya soal harga itu saya melalui Pak Hilman, sudah deal saya baru ke Pekanbaru, bertemu Pak Bahrain, Pak Nurhadi, baru sepakatlah kira-kira," kata Amir.

Menanggapi hal tersebut, kuasa hukum Nurhadi dan Rezky Herbiyono, M Rudjito menyatakan tim Jaksa tidak relevan mengorek kesaksian Amir Widjaja dalam perkara dugaan suap dan gratifikasi ini. Sebab, kata Rudjito, kesaksian Amir Widjaja tidak ada kaitannya dengan dakwaan yang disusun tim Jaksa terhadap Nurhadi dan Rezky.

Baca Juga : Menantu Nurhadi Diklaim Sudah Kembalikan Uang Rp35 Miliar ke Hiendra Soenjoto

"Kan ini tidak ada kaitan dengan pemberian hadiah pengurusan perkara. Jadi dalam perkara ini atau dalam konteksnya dengan kesaksian hari ini, KPK itu numpang untuk membuktikan TPPU. Predicate crime dari TPPU-nya yaitu membeli kebun sawit," ucap Rudjito di Pengadilan Tipikor.

"Padahal, dalam dakwaan soal kebun sawit itu tidak ada. Jadi KPK ini numpang untuk mencari-cari apakah ada predikat crime dalam perkara ini dalam konteksnya dengan TPPU, yang sebetulnya saksi-saksi hari ini tidak relevan dengan Pasal 12 a atau Pasal 11 ataupun Pasal 12 B," imbuhnya.

Sebagaimana diketahui, KPK sempat menyita sejumlah lahan di Padang Lawas, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu. Lahan yang disita tersebut berkaitan dengan kasus dugaan suap dan gratifikasi pengurusan perkara di MA yang menyeret Nurhadi dan Rezky Herbiyono.

Nurhadi dan menantunya, Rezky Herbiyono, telah didakwa oleh Jaksa KPK. Keduanya didakwa menerima suap sebesar Rp45.726.955.000. Uang suap Rp45,7 miliar itu diduga berasal dari Direktur Utama (Dirut) PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT), Hiendra Soenjoto.

Uang yang diberikan Hiendra tersebut untuk mengupayakan Nurhadi dan Rezky Herbiyono dalam memuluskan pengurusan perkara antara PT MIT melawan PT Kawasan Berikat Nusantara (PT KBN) terkait gugatan perjanjian sewa menyewa depo kontainer di Cilincing, Jakarta Utara.

Tak hanya itu, Nurhadi dan Rezky juga didakwa menerima gratifikasi. Keduanya diduga menerima gratifikasi sebesar Rp37.287.000.000 dari sejumlah pihak yang berperkara di lingkungan Pengadilan tingkat pertama, banding, kasasi, hingga peninjauan kembali.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini