Eks Dirut Jasa Marga Didakwa Rugikan Negara Rp202 Miliar Terkait Subkontraktor Fiktif

Arie Dwi Satrio, Okezone · Kamis 10 Desember 2020 22:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 10 337 2325476 eks-dirut-jasa-marga-didakwa-rugikan-negara-rp202-miliar-terkait-subkontraktor-fiktif-eA61FA2FEt.jpg Sidang kasus pengerjaan subkontraktor fiktif Waskita Karya. (Foto : Okezone/Arie Dwi Satrio)

JAKARTA – Jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendakwa mantan Direktur Utama (Dirut) PT Jasa Marga, Desi Arryani. Desi didakwa telah melakukan korupsi terkait pekerjaan subkontraktor fiktif untuk membiayai pengeluaran di luar anggaran PT Waskita Karya sejak 2009 hingga 2013.

Desi Arryani didakwa melakukan korupsi bersama-sama dengan mantan Kepala Divisi (Kadiv) II PT Waskita Karya, Fathor Rachman; mantan Direktur Utama PT Waskita Beton Precast, Jarot Subana; mantan Wakadiv Sipil PT Waskita Karya, Fakih Usman; serta mantan Kabag Keuangan Divisi PT Waskita Karya, Yuly Ariandi Siregar. Mereka didakwa telah merugikan negara Rp202.296.416.008 (Rp202 miliar).

"Terdakwa melakukan atau turut serta melakukan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan, secara melawan hukum," kata Jaksa Ronald F Worotikan saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis (10/12/2020).

Kelima terdakwa tersebut didakwa memperkaya diri sendiri dan orang lain terkait pekerjaan subkontraktor fiktif PT Waskita Karya. Jaksa menyebut Desi Arryani diperkaya Rp3,4 miliar; Fathor Rachman Rp3,6 miliar; Jarot Subana Rp7,1 miliar; Fakih Usman Rp8,8 miliar; dan Yuly Ariandi Siregar Rp47,3 miliar.

Sementara pihak lain yang diduga juga diperkaya terkait pekerjaan subkontraktor fiktif ini yaitu, Haris Gunawan Rp1,52 miliar; Dono Parwoto, Rp1,36 miliar; Imam Bukori Rp6,18 miliar; Wagimin, sebesar Rp20,5 miliar; serta Yahya Mauluddin Rp150 juta.

Pekerjaan subkontraktor fiktif tersebut juga disebut memperkaya sejumlah korporasi. Korporasi itu diantaranya, PT Safa Sejahtera Abadi diperkaya sebesar Rp8,16 miliar; CV Dwiyasa Tri Mandiri sejumlah Rp3,83 miliar; PT MER Engineering sebesar Rp5,79 miliar; serta PT Aryana Sejahtera senilai Rp1,7 miliar.

Baca Juga : 5 Tersangka Kasus Korupsi Subkontraktor Fiktif Waskita Karya Segera Disidang

"Yaitu merugikan keuangan negara sebesar Rp202.296.416.008, atau setidak-tidaknya sekitar jumlah tersebut," ucapnya.

Awalnya, Jarot Subana dan Desi Arryani melakukan rapat-rapat koordinasi pada Desember 2009. Dalam rapat tersebut, diduga ada pembahasan tentang kebutuhan penyediaan dana non budgeter untuk membiayai pengeluaran di luar anggaran PT Waskita Karya.

Selanjutnya, untuk membahas penyediaan dana tersebut, dilakukan rapat-rapat dan pertemuan antara lain dihadiri oleh Desi Arryani, Fathor Rachman, Jarot Subana, Fakih Usman, Haris Gunawan, dan Dono Parwoto.

Dalam pertemuan itu disepakati strategi untuk menghimpun dana non budgeter dengan cara membuat kontrak pekerjaan subkontraktor fiktif. Nantinya, pembayaran atas pekerjaan kepada perusahaan-perusahaan subkontraktor fiktif tersebut dikembalikan lagi (cash back) kepada Divisi Sipil/Divisi III/Divisi II PT Waskita Karya.

Adapun, perusahaan-perusahaan subkontraktor fiktif yang ditunjuk, nantinya diberikan fee 'peminjaman bendera' sebesar 1,5 persen sampai dengan 2,5 persen dari nilai kontrak.

Untuk memudahkan proses administrasi khususnya pengembalian kembali (cash back) uang yang diterima oleh perusahaan-perusahaan tersebut kepada Divisi Sipil, diusulkan agar menggunakan atau 'meminjam bendera' perusahaan subkontraktor milik pejabat atau pegawainya.

Bahwa pada kurun waktu antara tahun 2010 sampai dengan tahun 2013, PT Waskita Karya mengerjakan 14 proyek utama, yaitu:

1. Proyek normalisasi kali Bekasi Hilir, Jawa Barat;

2. Proyek Banjir Kanal Timur (BKT) paket 22, Jakarta ;

3. Proyek Bandara Kuala Namu, Sumatera Utara;

4. Proyek Bendungan Jati Gede, Sumedang, Jawa Barat;

5. Proyek normalisasi kali pesanggarahan paket 1, Jakarta;

6. Proyek PLTA Genyem, Papua;

7. Proyek tol Cinere-Jagorawi (Cijago) Seksi 1, Jawa Barat;

8. Proyek fly over Tubagus Angke, Jakarta;

9. Proyek fly over Merak-Balaraja, Banten;

10. Proyek Jalan Layang non tol Antasari-Blok M (Paket Lapangan Mabak), Jakarta;

11. Proyek Jakarta Outer Ring Road (JORR) Seksi W 1, Jakarta;

12. Proyek Tol Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa Paket 2, Bali;

13. Proyek Tol Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa Paket 4, Bali;

14. Proyek Jembatan AJI Tulur-Jejangkat, Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Atas perbuatannya, para terdakwa didakwa melanggar Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Juncto Pasal 18 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Baca Juga : Kasus Proyek Fiktif Waskita Karya, KPK Panggil Mantan Pejabat Pemprov DKI

Setelah mendengarkan Jaksa KPK membacakan surat dakwaan, para terdakwa melalui kuasa hukumnya masing-masing menyatakan tidak mengajukan eksepsi atau nota keberatan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini