Tangkal Ekstremisme, Menag : Guru Agama Berperan Perkuat Moderasi

Fahreza Rizky, Okezone · Jum'at 04 Desember 2020 14:20 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 04 337 2321627 tangkal-ekstremisme-menag-guru-agama-berperan-perkuat-moderasi-I7McIIIJ0g.jpg Foto: Illustrasi Shutterstock

JAKARTA - Menteri Agama (Menag), Fachrul Razi meminta guru agama memperkuat moderasi beragama di kalangan siswa. Selain itu, para pendidik juga perlu secara intensif memberikan pembinaan pada berbagai aktivitas pelajar. Hal ini untuk menutup celah terjadinya tindak ekstremisme.

Hal tersebut dikatakan Menag saat menjadi keynote speech pada FGD Praktik Baik Inisiatif Pencegahan Kekerasan (IPK) / Preventing Violence Extremism (PVE) di Sekolah, Kamis 3 Desember 2020.

“Saya minta guru dan pengawas pendidikan agama lebih intens berpartisipasi dalam memberikan pembinaan atas organisasi siswa,” ujarnya melalui keterangan tertulis yang dikutip pada Jumat (4/12/2020).

Baca juga:

Sepanjang 2020, Densus 88 Tangkap 32 Orang Kelompok MIT   

Gubernur Lemhannas Sebut MIT Ali Kalora Lakukan Pelanggaran Hukum Berat

Ali Kalora Cs Belum Tertangkap, IPW Sebut Gegara Polisi Takut Masuk Hutan 

Menag menuturkan, peran guru pendidikan agama Islam (PAI) sangat penting untuk memerkuat moderasi di kalangan siswa. Para pendidik juga harus terlibat aktif dalam membina aktivitas keagamaan mereka.

“Guru PAI perlu secara optimal memainkan peranan strategisnya, termasuk dalam membina aktifitas keagamaan dan menguatkan moderasi beragama para siswa,” jelas Menag.

Menag kembali menjelaskan tiga jalur yang bisa saja menjadi pintu masuk ekstremisme beragama ke sekolah. Pertama, jalur guru. Guru adalah pemegang peran terpenting dalam proses transformasi pengetahuan di sekolah.

 

Kedua, jalur organisasi siswa ekstra kurikuler bidang keagamaan yang mengambil pola mentoring dengan pelibatan aktor yang memiliki ikatan atau jaringan yang memiliki pemahaman keagamaan ekstrems.

Ketiga, jalur kurikulum pendidikan. Kurikulum sebagai acuan/rujukan para guru dalam menyampaikan pemahamannya, termasuk kurikulum pendidikan agama.

“Meski, tidak selalu pintu masuk pemikiran ekstrem ini melalui kurikulum pendidikan agama, karena bisa saja disisipkan melalui mata pelajaran umum,” ujar Menag.

Kementerian Agama, kata dia, telah bekerjasama dengan Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kemendikbud dalam mereview kurikulum pendidikan agama. Saat ini, Kemenag telah menerbitkan 12 buku Pendidikan Agama Islam dengan muatan moderasi.

Menag mengapresiasi penerbitan buku kumpulan praktik baik implementasi Inisiatif Pencegahan Kekerasan (IPK). Hasil best practice IPK ini adalah modeling pencegahan kekerasan pada jenjang pendidikan menengah.

Ini akan semakin menambah referensi bagi para pihak yang berkepentingan, terutama guru pendidikan agama dan sekolah untuk turut berkontribusi dalam mencegah tumbuh kembangnya ekstremisme dalam beragama.

“Saya baca sekilas, naskah buku PVE juga mencoba menutup tiga pintu masuk ekstremisme keberagamaan yang selama ini menjadi kekhawatiran kita semua,” tuturnya.

“Saya berbahagia karena moderasi betul-betul sudah menjadi manhaj seluruh masyarakat. Mari kita bersama-sama dan saling bahu membahu melakukan pengarusutamaan moderasi beragama dalam berbagai lini kehidupan dan juga di berbagai jenjang pendidikan,” tandasnya.

Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam (AGPAI) dengan The Asia Foundation. Program kemitraan ini didesain dalam rangka menguatkan upaya pencegahan tindak ekstremisme (Preventing Violence Extremism) di kalangan pelajar dalam rangka pewujudan Sekolah Damai.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini