KPK Kaji Penerapan Pasal Pencucian Uang untuk Edhy Prabowo

Arie Dwi Satrio, Okezone · Rabu 02 Desember 2020 12:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 02 337 2320121 kpk-kaji-penerapan-pasal-pencucian-uang-untuk-edhy-prabowo-XAmOdB9NEN.jpg Juru bicara KPK, Ali Fikri (foto: Okezone.com)

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka peluang menjerat mantan Menteri Keluatan dan Perikanan, Edhy Prabowo dengan pasal tindak pidana pencucian uang (TPPU). KPK sedang menganalisa peluang kemungkinan penerapan pasal TPPU untuk Edhy Prabowo.

"Tentu akan dilakukan analisa terhadap peluang kemungkinan penerapan pasal TPPU," kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri melalui pesan singkatnya, Rabu (2/12/2020).

Baca juga:

KPK Buka Peluang Jerat PT ACK Tersangka Korporasi di Kasus Suap Edhy Prabowo

Menakar Peluang Fadli Zon dan Sandiaga Uno Jadi Menteri KKP Gantikan Edhy Prabowo

Ali memastikan, penyidik bakal menerapkan pasal TPPU kepada Edhy Prabowo jika menemukan bukti permulaan yang cukup. Bukti permulaan yang cukup itu terkait adanya penyamaran atau pengalihan hasil tindak pidana korupsi berupa aset atau barang.

Untuk menelusuri lebih jauh ihwal aliran uang dugaan suap terkait kongkalikong perizinan ekspor benih lobster yang menjerat Edhy Prabowo, KPK berencana memanggil sejumlah saksi. KPK bakal mengonfirmasi para saksi dengan bukti yang telah dikantongi penyidik.

"Setelah nanti memeriksa sejumlah saksi, akan dilakukan analisa lebih lanjut dari hasil pemeriksaan," pungkasnya.

 

Sejauh ini, KPK baru menetapkan tujuh tersangka kasus dugaan suap terkait perizinan ekspor benih lobster. Ketujuh tersangka itu yakni, Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo (EP); Stafsus Menteri Kelautan dan Perikanan, Safri (SAF) dan Andreau Pribadi Misata (APM).

Kemudian, Pengurus PT Aero Citra Kargo (ACK), Siswadi (SWD); Staf Istri Menteri Kelautan dan Perikanan, Ainul Faqih (AF); dan pihak swasta Amiril Mukminin (AM). Sementara satu tersangka pemberi suap yakni, Direktur PT DPP, Suharjito (SJT).

Edhy bersama Safri, Andreau Pribadi Misanta, Siswadi, Ainul Faqih, dan Amril Mukminin diduga menerima suap sebesar Rp 10,2 miliar dan USD 100 ribu dari Suharjito. Suap tersebut diberikan agar Edhy memberikan izin kepada PT Dua Putra Perkasa Pratama untuk menerima izin sebagai eksportir benur.

Sebagian uang suap tersebut digunakan oleh Edhy dan istrinya, Iis Rosyati Dewi untuk belanja barang mewah di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat pada 21-23 November 2020. Sekitar Rp750 juta digunakan untuk membeli jam tangan Rolex, tas Tumi dan Louis Vuitton serta baju Old Navy.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini