Share

Viral Azan Seruan Jihad, Pengasuh Ponpes Lirboyo KH Kafabihi Mahrus Geram

Abdul Rochim, Koran SI · Rabu 02 Desember 2020 11:37 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 02 337 2320101 viral-azan-seruan-jihad-pengasuh-ponpes-lirboyo-kh-kafabihi-mahrus-geram-YjgYOzVCmi.jpg Foto: Instagram KH Yusuf Chudlory

JAKARTA - Video ajakan jihad yang dilakukan melalui azan dengan mengubah lafal azan, dan menjadi viral di media sosial (medsos), termasuk di sejumlah grup WhatsApp (WA) sangat meresahkan masyarakat.

Dalam video tersebut, terlihat sejumlah orang seperti hendak melakukan salat berjamaah. Seorang di antaranya kemudian mengumandangkan azan. Namun, bacaan azan terdengar berbeda dengan azan pada umumnya ketika hendak salat. Pada bacaan "Hayya alash-sholah" yang artinya mari menunaikan salat, diganti dengan "Hayya alal jihaad" yang artinya mari berjihad. Sejumlah orang yang berada di belakangnya kemudian menjawab secara kompak "Hayya alal jihaad" sambil mengepalkan tangan ke atas.

Baca juga:

Mengejutkan, Ini Alasan Sekelompok Pemuda Serukan Jihad Lewat Adzan

Heboh Ajakan Jihad Lewat Adzan, Pelaku: Kami Mohon Maaf dari Lubuk Hati yang Paling Dalam

Menanggapi hal ini, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur KH Kafabihi Mahrus menyatakan, bahwa pengubahan bacaan azan untuk berjihad seperti yang terdengar dari sejumlah video viral tersebut tidak bisa dibenarkan.

"Tidak bisa dibenarkan "hayya alash-shalah" diganti dengan "hayya alal jihad" dan syariat itu ada tuntutanannya, yang menuntun adalah Rasulullah. Sekarang yang mengubah itu siapa itu, berani-beraninya dia mengubah adzan yang telah dilaksanakan oleh Rasulullah dan para sahabat, para ulama, mereka berani-beraninya mengubah adzan," ungkap Kiai Kafabihi Mahrus melalui flayer yang diunggah oleh penceramah yang juga politisi PKB, KH Yusuf Chudlory melalui akun Instagram @yusuf_ch, dikutip Rabu (2/12/2020).

Gus Yusuf- sapaan akrab KH Yusuf Chudlory pun menimpali pesan KH Kafabihi Mahrus dengan cuitan, "Bismillah ...kulo nderek @serambilirboyo mawon #happyduniaakhirat."

Sebelumnya, Ketua Harian Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas mengatakan, dalam negara bangsa (nation state) yang telah merdeka seperti Indonesia, jihad harus dimaknai sebagai upaya sungguh-sungguh dari segenap komponen bangsa untuk mewujudkan cita-cita nasional.

"Apa itu? Mewujudkan perdamaian dunia, mencerdaskan kehidupan bangsa, memakmurkan ekonomi warga serta menciptakan tata kehidupan yang adil dan beradab," tuturnya, pada Senin 30 November 2020.

Oleh karena itu, kata Robikin, di tengah kehidupan yang plural seperti di Indonesia ini, semua orang harus memperkuat toleransi dan saling menghargai, baik sesama maupun antarpemeluk suatu agama, etnis, budaya, dan lainnya.

"Mari kita kokohkan persatuan dan kesatuan. Kita perkuat persaudaraan sesama warga bangsa dan persaudaraan kemanusiaan sebagai sesama keturunan anak cucu Nabi Adam AS," seru Robikin.

Pihaknya meminta masyarakat agar tidak terpengaruh atas berbagai hasutan, apalagi terprovokasi. "Agama jelas melarang keterpecah-belahan dan menyuruh kita bersatu dan mewujudkan perdamaian di tengah kehidupan masyarakat," katanya.

Terpisah, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu'ti mengatakan, pihaknya belum mengetahui dasar hukum syar'i yang dijadikan landasan untuk mengubah lafal azan untuk kepentingan jihad.

"Saya belum menemukan hadits yang menjadi dasar azan tersebut. Saya juga tidak tahu apa tujuan mengumandangkan adzan dengan bacaan "hayya alal jihad"," ujar Abdul Mu'ti.

Karena itu, pihaknya meminta aparatur keamanan dapat melakukan penyelidikan dan memblokir supaya video azan tersebut tidak semakin beredar dan meresahkan masyarakat. Selain itu, pihaknya juga mendorong Balitbang Kementerian Agama dapat segera meneliti.

"Ormas-ormas Islam perlu segera memberikan tuntunan kepada para anggota agar tetap teguh mengikuti ajaran agama Islam yang lurus," urainya.

Belakangan, tujuh warga Majalengka, Jawa Barat yang ada dalam salah satu video azan seruan berjihad, akhirnya menyatakan permohonan maaf, baik secara lisan maupun tertulis di atas materai Rp6.000. Mereka mengakui bahwa perbuatannya itu telah menimbulkan kegaduhaan di tengah masyarakat.

Bupati Majalengka H Karna Sobahi mengaku ketika mendengar kabar ada tujuh warganya yang ada di dalam video azan seruan berjihad dan langsung mengintruksikan Camat Argapura untuk menyelidiki kebenaran video tersebut, dan segera mengambil langkah-langkah strategis untuk menyelesaikan persoalan ini agar tidak meluas.

"Ya betul, dari laporan Pak Camat Argapura salah satu video viral azan jihad itu salah satunya warga kami. Tapi alhamdulillah mereka sudah diberikan pengarahaan dan sudah mereka menyadari kesalahannya. Dan malam tadi secara sadar dan sukarela telah membuat pernyataan permohonan maaf secara tertulis dan lisan melalui visual video,"papar Karna melalui pesan singkatnya sambil mengirimkan video laporan warganya, dikutip dari pwimajalengka, Rabu (2/12/2020).

Dari video permohonan maaf itu, tampak tujuh orang yang melakukan azan "hayya alal jihad" mengungkapkan permohonan maaf di Balai Desa Sadasari, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Pada surat pernyataan itu, mereka menandatangani di atas materai Rp6.000 dan disaksikan Plt Desa Sadasari Abdul Miskad serta saksi saksi lainnya.

"Melalui surat pernyataan ini kami tujuh orang memohon maaf kepada semua pihak, atas video yang sempat viral sebelumnya. Permohonan maaf ini kami sampaikan kepada warga Desa Sadasari, pemerintah desa dan seluruh umat Islam di seluruh tanah air,"kata salah seorang pelaku azan, Anggi Wahyudin, didampingi enam orang rekannya saat membacakan surat pernyataan maaf di video tersebut.

Menurut dia, dalam video yang telah di buat sebelumnya telah berbau SARA dan isu agama. Namun perlu diketahui dalam pembuatannya itu tidak ada tendensi kepada pihak manapun.

"Kami tidak bermaksud memitnah, menuduh, menyerang pihak manapun. Jika ada pihak yang merasa risih dan tidak nyaman, kami memohon maaf dari lubuk hati yang paling dalam dan kami mengaku bersalah,"paparnya.

Pihaknya mengaku telah berbuat khilaf dan berjanji tidak mengulangi hal serupa. "Kami berharap agar semua pihak dan umat Islam secara keselurahan memaafkan kesalahan kami,"pintanya.

Keenam orang warga Desa Sadasari terdiri Anggi Wahyudin, Candra Purnama, Asep Kurniawan, Ahmad Kusaeri, Sahaad dan Fuad Azhari. Serta Ahmad Syarif Hidayat warga Desa Kumbung Kecamatan Rajagaluh menandatangani surat pernyataan tersebut.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini