Share

Terima USD 20 Ribu, Brigjen Prasetijo: Wih Ji Uang Lo Banyak Banget!

Arie Dwi Satrio, Okezone · Selasa 01 Desember 2020 15:37 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 01 337 2319591 terima-usd-20-ribu-brigjen-prasetijo-wih-ji-uang-lo-banyak-banget-pObr8siGLt.jpg Foto: Kalteng.go.id

JAKARTA - Jaksa Penuntut Umum (JPU) membongkar pengakuan terdakwa Brigjen Prasetijo Utomo soal uang 20 ribu dolar AS dari rekan Djoko Tjandra, Tommy Sumardi. Pengakuan tersebut tertuang dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Brigjen Prasetijo Utomo saat menjalani proses penyidikan.

(Baca juga: Begini Alur Uang Djoko Tjandra Mengalir ke Tommy Sumardi)

Dalam BAPnya, Brigjen Prasetijo Utomo mengakui telah menerima uang dari terdakwa Tommy Sumardi sebesar 20 ribu dolar AS. Demikian hal tersebut terungkap dalam sidang lanjutan perkara dugaan suap terkait pengurusan penghapusan nama Joko Soegiarto Tjandra (Djoko Tjandra) dari daftar red notice Polri, untuk terdakwa Tommy Sumardi, pada hari ini.

Dalam BAP tersebut, Jaksa membeberkan, Tommy Sumardi pernah mendatangi ruangan Brigjen Prasetijo Utomo, pada 4 Mei 2020. Saat itu, Tommy Sumardi meminta Prasetijo untuk menemaninya bertemu dengan Irjen Napoleon Bonaparte selaku Kadiv Hubinter Polri.

"Kemudian saya tanya 'kenapa' dijawab haji Tommy 'tahu rese dia, gue dibilang nggak komitmen', dan kemudian saya dampingi Pak Haji Tommy ke ruangan Pak Kadivhubinter ke lantai 11 di Gedung TNCC," kata jaksa saat membacakan BAP Prasetijo di ruang sidang Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Selasa (1/12/2020).

(Baca juga: Asal Muasal Jaksa Pinangki Mengenal Djoko Tjandra)

Setibanya di ruangan Irjen Napoleon Bonaparte, Tommy dan Brigjen Prasetijo bertemu dengan sekretaris pribadinya (Sespri). Saat itu, Sespri Napoleon Bonaparte mengatakan bahwa bosnya belum ada di ruangan. Alhasil, Tommy dan Prasetijo menunggu Napoleon di sebuah rumah makan.

"Sambil menunggu Pak Kadiv, saya diajak ke restoran merah delima untuk temui teman Haji Tommy, setelah beberapa saat saya bersama Haji Tommy, kemudian ketika saya akan masuk gedung TNCC Haji Tommy menuju ke mobil di parkiran," beber Jaksa merujuk BAP Prasetijo Utomo.

"Kemudian Haji Tommy naik mobil Alphard warna putih jemput saya dan mengatakan 'bro masuk dulu', dan Haji Tommy memperlihatkan uang 10 ikat mata uang dolar Amerika ke saya, kemudian saya mengatakan 'wih ji uang lo banyak banget', kemudian dijawab Haji Tommy 'udah lu mau tahu aja', 'ini buat lo' dengan spontan Haji Tommy memberikan ke saya dua ikat (uang), masing-masing USD 10 ribu. Total USD 20 ribu," sambung Jaksa.

Jaksa kemudian menyebut bahwa Prasetijo Utomo sempat meragukan pemberian uang tersebut. Namun, Tommy meyakini ke Prasetijo bahwa itu adalah uang persahabatan.

"Saya tanya 'nggak apa ini ji?' dia jawab 'kan lu temen gua masa nggak boleh ngasih temen'," ucap Jaksa menirukan apa yang ada dalam BAP Prasetijo.

Setelah itu kami cari parkiran, dan saya turun dari mobil Haji Tommy, kemudian turun saat itu kita naik ke lantai 11 ruangan Kadivhubinter, saat itu Pak Haji Tommy bawa paper bag warna hitam atau cokelat, kemudian saya tanya katanya 'lo mau tahu aja', sesampainya di Kadivhubinter kami tidak ketemu (Irjen Napoleon). Ini gimana BAP saudara?" tanya jaksa menyambung membaca BAP.

Prasetijo pun lantas mengakui menerima uang itu. Dia mengatakan uang itu adalah uang persahabatan dari Tommy.

"Di dalam mobil tersebut tiba-tiba dia ambil, terus kemudian dia ambil uang serahkan ke saya 'ini bro untung lo', 'Ji ini apaan?' 'udah ambil aja', 'ini uang untuk lo, uang persahabatan, udah kan lo sering bantu saya'," kata Prasetijo sambil menirukan percakapannya dengan Tommy.

Prasetijo menegaskan dirinya hanya menerima uang USD 20 ribu. Dia mengaku tidak menerima uang selain itu. "Nggak ada (penerimaan lain), hanya itu aja," sebutnya.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Sekadar informasi, Pengusaha Tommy Sumardi didakwa turut membantu terpidana kasus pengalihan hak tagih Bank Bali, Joko Soegiarto Tjandra (Djoko Tjandra) menyuap dua jenderal polisi. Dua jenderal polisi itu yakni, Irjen Napoleon Bonaparte selaku Kepala Divisi Hubungan Internasional (Kadiv Hubinter) Polri, serta Brigjen Prasetijo Utomo selaku Kepala Biro Koordinator Pengawas PPNS Bareskrim Polri.

Tommy Sumardi diduga menjadi perantara suap dari Djoko Tjandra untuk Irjen Napoleon dan Brigjen Prasetijo. Suap itu sengaja diberikan agar dua jenderal polisi tersebut bisa mengupayakan untuk menghapus nama Joko Soegiarto Tjandra dari Daftar pencarian Orang (DPO) yang dicatatkan di Direktorat Jenderal Imigrasi (Ditjen imigrasi).

Dalam surat dakwaan Jaksa, Irjen Napoleon Bonaparte disebut menerima uang sebesar 200 ribu dolar Singapura dan 270 ribu dolar Amerika Serikat. Sementara Brigjen Prasetyo, disebut turut menerima uang senilai 150 ribu dolar Amerika. Uang itu berasal dari Djoko Tjandra.

Djoko Tjandra diduga menyuap dua jenderal polisi tersebut untuk mengupayakan namanya dihapus dari DPO yang dicatatkan di Ditjen Imigrasi, dengan menerbitkan surat yang ditujukan kepada Dirjen Imigrasi Kemenkumham RI.

Adapun, surat yang diterbitkan yaitu surat dengan nomor : B/1000/IV/2020/NCB-Div HI, tanggal 29 April 2020; surat nomor : B/1030/IV/2020/NCB-Div HI tanggal 04 Mei 2020; dan surat nomor : B/1036/IV/2020/NCB-Div HI tgl 05 Mei 2020.

Atas dasar penerbitan surat tersebut, pihak Imigrasi kemudian melakukan penghapusan status DPO atasnama Joko Soegiarto Tjandra dari sistem Enhanced Cekal System (ECS) pada Sistim Informasi Keimigrasian (SIMKIM) Direktorat Jenderal Imigrasi. Hal itulah yang kemudian membuat Djoko Tjandra bebas keluar-masuk Indonesia.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini