Epidemiolog Ingatkan Penanganan Pandemi Covid-19 di Jawa Simpan Bom Waktu

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Selasa 01 Desember 2020 08:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 01 337 2319188 epidemiolog-ingatkan-penanganan-pandemi-covid-19-di-jawa-simpan-bom-waktu-AH0XE3GusT.jpg Foto: Illustrasi Shutterstock

JAKARTA - Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman menyebut penangangan pandemi Covid-19 Indonesia seperti menyimpan bom waktu untuk di wilayah Pulau Jawa.

Dicky mengatakan, studi epidemologi tidak memiliki keraguan apapun bahwa setiap adanya kerumunan dan mobilasasi massa maka berdampak pada kenaikan kasus Covid-19 dalam satu wilayah.

"Yang menjadi masalah adalah perlu waktu untuk melihat itu dan kedua bagaimana cakupan 3T (testing, tracing, dan treatment) untuk melihat dampaknya," kata Dicky saat dihubungi Okezone, Selasa (1/12/2020).

Baca juga:

Kasus Corona Meningkat, 1 Tower Isolasi Mandiri di Wisma Atlet Dialihfungsikan

Update Corona 30 November 2020: Positif 538.883 Orang, 450.518 Sembuh dan 16.945 Meninggal 

Dicky meminta, pemerintah harus bisa mencegah setiap potensi kerumunan mulai demonstrasi, Pilkada, libur panjang, hingga acara lainnya lantaran kasus Covid-19 belum dapat dikendalikan.

"Dengan positivity rate yang di atas 10 persen sejak 9 bulan lalu, dan cenderung meningkat menunjukkan bahwa kita sedang dalam kondisi tidak aman untuk melakukan itu, yang akan memperburuk situasi pengendalian kita dan memperburuk gelombang pandemi kita dan merugikan kita secara ekonomi kita," ujarnya.

 

Ia pun mengingatkan, saat ini wilayah pandemi Covid-19 yang terburuk bukan berlangsung di DKI Jakarta. Pasalnya, Ibu Kota memiliki cakupan testing yang jauh lebih baik dari wilayah lainnya di Tanah Air.

"Jakarta itu cakupan testingnya jauh lebih baik dan bisa lebih terlihat. Tapi daerah lain seperti di Jateng, Jabar, dan Jatim jauh lebih serius dan saya ingatkan mereka menyimpan bom waktu wabah yang sebentar lagi akan merugikan bukan hanya provinsinya tapi secara nasional," tegas Dicky.

Dicky mendorong agar pemerintah melakukan perbaikan cakupan testing di Jawa lantaran provinsi Jabar, Jateng, hingga Jatim merupakan provinsi besar yang cakupan testingnya masih kecil di bawah standar WHO.

"Harus diingat Jawa ini terkoneksi dan itu selalu yang saya bilang harus ada peran pemerintah pusat untuk menyamakan strategi pengebdalikan pandemi ini setiap pulau supaya merata," lanjut dia.

"Intervensinya tidak bisa dibiarkan berlarut-larur dengan cakupan testing rendah. Jadi kalau bicara cakupan Indonesia harusnya itu cakupan testing Jabar, Jatim, dan jateng itu di 30 ribuan sehari. Jadi total Indonesia minimal 100 ribu sehari," tambah dia.

Dicky berharap, cakupan testing Covid-19 dilakukan dengan kombinasi jumlah penduduk dan eskalasi penyebaran virus corona di wilayah tersebut.

"Dan kita masih punya PR panjang. Artinya semua jenis kerumunan itu memperburuk antara lain harus dicegah dan mininalisir," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini