5 Kegiatan Kerumunan yang Akhirnya Jadi Klaster Covid-19

Dita Angga R, Sindonews · Jum'at 27 November 2020 01:14 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 27 337 2316998 5-kegiatan-kerumunan-yang-akhirnya-jadi-klaster-covid-19-XLH6dPg5Lr.jpg Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito (Foto: BNPB)

JAKARTA - Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito kembali menekankan betapa berbahayanya kerumunan di masa pandemi Covid-19 ini. Dia mengatakan, berkerumun dapat meningkatkan potensi penularan.

“Berdasarkan data nasional terdapat berbagai kegiatan kerumunan yang berdampak pada timbulnya klaster penularan Covid di berbagai daerah di Indonesia,” katanya saat konferensi pers, Kamis (26/11/2020).

Baca Juga:  Cawalkot Depok Mohammad Idris Terpapar Covid-19 Bukan di Acara Habib Rizieq

Berikut kegiatan kerumunan yang akhirnya menjadi klaster penularan:

1. Klaster sidang GPIB Sinode yang menghasilkan 24 kasus di 5 provinsi. Kemudian, menyebar ke lima provinsi, yakni Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan NTB. Klaster ini berawal dari kegiatan agama yang dilakukan di BogorJawa Barat dengan 685 peserta.

2. Klaster kegiatan bisnis tanpa riba yang menghasilkan 24 kasus di 7 provinsi. Klaster ini menimbulkan korban jiwa sebanyak 3 orang atau case fatality rate mencapai 12,5%. Klaster ini berawal dari kegiatan yang dilakukan di Bogor melibatkan 200 peserta. Kasusnya berkembang dan menyebar ke berbagai provinsi lainnya yaitu Lampung, Kepulauan Riau, DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Papua.

3. Klaster Gereja Bethel Lembang di Jawa Barat yang kegiatannya melibatkan 200 peserta. Kerumunan ini menghasilkan 226 kasus dengan infection rate mencapai 35%.

4. Klaster Ijtima Ulama di Gowa, Sulawesi Selatan dengan total peserta sekitar 8.761 orang. Kegiatan ini menghasilkan 1248 kasus di 20 provinsi.

5. Klaster Pondok Pesantren Temboro di Jawa Timur yang menimbulkan 193 kasus di 6 provinsi dengan lebih dari 14 kabupaten/kota dan 1 negara lain.

“Jadi ini adalah penting untuk menjadi perhatian publik bahwa kondisi kerukunan itu harus dihindari,” tuturnya.

Baca Juga:  Jenazah Bupati Situbondo Dimakamkan dengan Protokol Covid-19

Dia mengatakan, bahwa periode inkubasi antara terpapar virus dan gejala rata-rata hanya 5 hari. Di mana, gejala dapat muncul 2 hari kemudian.

“Jika bisa disimpulkan bahwa ada waktu sekitar 3 hari untuk kontak erat tersebut dilacak dan diisolasi segera sebelum terus melanjutkan ke lingkaran yang lebih luas lagi,” ujarnya.

“Saya minta kesadaran dan kerjasamanya untuk tidak berkerumun. Apa yang kita semai itu juga yang akan kita tuai," tuturnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini