Menilik Proses KPK Menangkap Menteri Edhy Prabowo

Arie Dwi Satrio, Okezone · Kamis 26 November 2020 03:19 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 26 337 2316290 menilik-proses-kpk-menangkap-menteri-edhy-prabowo-Lvo9aEhLrR.jpg KPK konferensi pers penangkapan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo (Foto: Youtube KPK)

JAKARTA - Tim Satuan Tugas (Satgas) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menggelar Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada Rabu, 25 November 2020, dini hari dan menciduk Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo. Operasi senyap lembaga antirasuah tersebut digelar di Bandara Soekarno Hatta (Soetta), Tangerang Selatan, Depok, dan Bekasi.

Dalam OTT tersebut, tim mengamankan 17 orang termasuk Edhy Prabowo. Adapun 16 orang lainnya yakni, istri Edhy Prabowo, IRW; Stafsus Menteri KKP, Safri (SAF); Dirjen Tangkap Ikan KKP, ZN; Ajudan Menteri KKP, YD.

Kemudian, Protokoler KKP, YN; Humas KKP, DES; Dirjen Budi Daya KKP, SMT; Direktur PT Dua Putra Perkasa (DPP) Suharjito (SJT); Pengurus PT Aero Citra Kargo (ACK) Siswadi (SWD); Pengendali PT PLI, DP; Pengendali PT ACK, DD; Istri SWD, NT; staf Menteri KKP, CM; staf Istri Menteri KKP, Ainul Faqih (AF); Staf Menteri KKP, SA; serta Staf PT Gardatama Security, MY.

"Dalam kegiatan tangkap tangan ini, KPK telah mengamankan 17 orang pada hari Rabu tanggal 25 November 2020 sekitar jam 00.30 WiB di beberapa tempat," kata Wakil Ketua KPK, Nawawi Pomolango saat menggelar konpers di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (26/11/2020), dini hari.

Baca Juga: Diduga Pakai Uang Suap, Ini Barang Mewah yang Dibeli Edhy Prabowo dan Istri di AS

Giat penindakan tersebut, dilancarkan tim satgas KPK setelah mengantongi informasi dari masyarakat. Informasi itu berkaitan adanya dugaan penerimaan uang oleh penyelenggara negara pada 21 sampai 23 November 2020.

"KPK kembali menerima informasi adanya transaksi pada rekening bank yang diduga sebagai penampung dana dari beberapa pihak yang sedang dipergunakan bagi kepentingan Penyelenggara Negara untuk pembelian sejumlah barang mewah di luar wilayah Indonesia," ungkap Nawawi.

Selanjutnya, pada Selasa, 24 November 2020, KPK memutuskan untuk bergerak dan membagi menjadi beberapa tim di area Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, Tangerang Selatan, Depok dan Bekasi untuk menindaklanjuti adanya informasi tersebut.

Lantas, pada Rabu, 25 November 2020, sekira pukul 00.30 WIB, tim KPK mengamankan 17 orang. Mereka yang diamankan ini lantas dibawa ke Gedung Dwiwarna KPK untuk diperiksa lebih lanjut.

"Dari hasil tangkap tangan tersebut ditemukan ATM BNI atas nama AF, Tas LV, Tas Hermes, Baju Old Navy, Jam Rolex, Jam Jacob n Co, Tas Koper Tumi dan Tas Koper LV," ujar Nawawi.

Setelah dilakukan pemeriksaan secara intensif dan gelar perkara, KPK menetapkan tujuh orang sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait perizinan tambak, usaha, dan atau pengelolaan perikanan atau komoditas perairan sejenis lainnya tahun 2020 alias suap ekspor benur lobster.

Ketujuh orang itu yakni, Menteri KKP, Edhy Prabowo (EP); Stafsus Menteri KKP, Safri (SAF); Staf khusus Menteri KKP, Andreau Pribadi Misata (APM). Kemudian, Pengurus PT ACK, Siswadi (SWD); Staf Istri Menteri KKP, Ainul Faqih (AF); dan Amiril Mukminin (AM). Sementara satu tersangka pemberi suap yakni, Direktur PT DPP, Suharjito (SJT).

Baca Juga: Edhy Prabowo Bakal Buka-bukaan soal Suap Ekspor Benih Lobster

Atas perbuatannya, para penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 Ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP, Juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

Sedangkan sebagai pemberi suap, SJT disangkakan melanggar Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP Juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini