Hindari Kerumunan Massa, Kedatangan Pemilih ke TPS Dibagi 5 Waktu

Riezky Maulana, iNews · Selasa 24 November 2020 14:49 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 24 337 2315243 hindari-kerumunan-massa-kedatangan-pemilih-ke-tps-dibagi-5-waktu-3NzEwfine2.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Komisi Pemilihan Umum (KPU) membagi waktu kedatangan pemilih di Tempat Pemungutan Suara (TPS) menjadi lima waktu. Hal itu dilakukan guna menghindari adanya kerumunan pada hari H pelaksanaan pemungutan suara Pilkada Serentak 2020 pada 9 Desember 2020.

Hal itu disampaikan Ketua KPU Arief Budiman saat mengikuti rapat analisa dan evaluasi tahapan Pilkada Serentak bersama Menko Polhukam Mahfud MD, Mendagri Tito Karnavian, dan Ketua Bawaslu di Kantor Kemenko Polhukam, Jalan Mrdan Merdeka Barat. Jakarta Pusat, Senin (23/11/2020).

“Jadi jumlah DPT yang ada di TPS tersebut akan dibagi kedatangannya menjadi lima kelompok, kelompok pertama jam 07.00-08.00 pagi, kelompok kedua jam 08.00-09.00 pagi, begitu seterusnya sampai dengan terakhir jam 12.00 sampai jam 13.00 siang,” ujarnya.

Lebih lanjut Arief menjelaskan, KPU telah melakukan simulasi terkait gelaran Pilkada Serentak. Adapun simulasi yang dilakukan yakni pemungutan dan perhitungan suara di 104 kabupaten/kota.

Dari hasil simulasi tersebut, sambung Arief, didapati tingkat partisipasi pemilih cukup menggembirakan. Tingkat partisipasi menurutnya mencapai hasil di angka 75 hingga 77 persen.

Baca juga: Pilkada 2020, KASN: 344 ASN Langgar Netralitas Disanksi

Di kesempatan yang sama, Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Abhan mencatat telah terjadi 1.763 pelanggaran protokol kesehatan selama massa kampanye. Didetilkan Abhan, 1.210 di antaranya diberikan peringatan tertulis dan 168 lainnya dikenakan tindakan pembubaran.

"Kenapa yang dibubarkan lebih sedikit, daripada yang diperingkatkan dengan tertulis. Jadi kasusnya ketika peringatan kami layangkan memang tenggang waktunya satu jam, kalau tidak mengindahkan maka bisa dibubarkan," ucapnya.

Lebih lanjut Abhan menjelaskan, rata-eata pelanggar protokol tersebut dapat membubarkan diri menjelang tenggat waktu yang diberikan habis. Abhan memberi contoh, dari waktu 60 menit yang diberikan, mereka bisa membubarkan diri di menit ke-50.

"Jadi belum ada satu jam mereka bubar. Sehingga tidak bisa kami lakukan pembubaran. Tetapi itu kami catat sebagai pelanggaran. Ada juga yang diperingatkan secara lisan, tidak sampai tertulis sudah bubar,“ ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini