Komjen (Purn) Setyo Wasisto Bersaksi di Sidang Djoko Tjandra

Arie Dwi Satrio, Okezone · Senin 23 November 2020 16:36 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 23 337 2314628 komjen-purn-setyo-wasisto-bersaksi-di-sidang-djoko-tjandra-X6nVG4IBlZ.jpg Komjen (Purn) Setyo Wasisto saat jadi saksi di sidang Djoko Tjandra (foto: Okezone/Arie)

JAKARTA - Mantan Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Polri, Komjen Purn Setyo Wasisto dihadirkan oleh tim Jaksa penuntut umum untuk bersaksi, dalam sidang lanjutan perkara kepengurusan red notice buronan Djoko Tjandra, pada hari ini. Setyo Wasisto bersaksi untuk terdakwa Brigjen Prasetijo Utomo.

Jaksa menghadirkan Setyo Wasisto untuk digali keterangannya dalam kapasitasnya sebagai Sekretaris NCB Interpol Indonesia periode 2013-2015. Dalam kesaksiannya, Setyo mengaku sempat melayangkan dua surat terkait pelacakan buronan Djoko Tjandra.

Kata Setyo, surat itu ditujukan Polri kepada dua negara anggota Interpol yakni, Taiwan dan Korea Selatan (Korsel). NCB Interpol Indonesia, diungkapkan Setyo, pernah menyurati Taiwan pada 2014, lantaran ada informasi tentang keberadaan Djoko Tjandra di sana.

"Pertama, saya pernah menyurat ke Interpol Taiwan karena ada info jika saudara Djoktjan sering ke sana. Sehingga kami minta kerja sama dengan interpol Taiwan untuk meminta atensi," beber Setyo di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (23/11/2020).

Baca juga:

Hakim Tolak Keberatan Napoleon Bonaparte Terkait Dugaan Suap Djoko Tjandra   

Pimpinan KPK Kecewa Polri & Kejagung Tak Kirim Salinan Berkas Djoko Tjandra   

Setahun berselang, sambung Setyo, NCB Interpol Indonesia kembali mengirimkan surat. Surat kedua ditujukan untuk negara Korea Selatan. Sebab, kata Setyo, Polri mendapat informasi keberadaan Djoko Tjandra di Negeri Gingseng tersebut.

"Kedua, kami pernah menyurat ke Interpol dan perwakilan polisi Korea. Kami mendapat info putra atau putri Djoktjan menikah di Korea. Dalam kurun waktu jabatan saya. Saya lupa, Taiwan 2014, Korea 2015 kalau tidak salah," jelasnya.

 

Selama menjabat sebagai Sekretaris NCB Interpol Indonesia, Setyo memastikan jika status red notice Djoko Tjandra masih aktif. Dia menjelaskan, status tersebut keluar atas permintaan Kejaksaan Agung pada 2009.

"Saya melakukan surat menyurat dengan merujuk nomor kontrol red notice saudara Djoko Tjandra dan itu selalu kami tembuskan ke Lyon, Prancis dan tidak pernah ada penolakan yang berarti. Menurut saya (red notice Djoko Tjandra) masih berlaku," ungkapnya.

Setyo memaparkan, status red notice Djoko Tjandra masih aktif merujuk pada adendum baru pada 20 Februari 2014. Pada adendum itu disebutkan, kasus yang merundung Djoko Tjandra merupakan kasus tindak pidana korups, bukan tindak pidana umum.

Dengan demikian, dia lantas membuat surat yang ditujukan pada negara-negara anggota Interpol yang diduga dikunjungi oleh Djoko Tjandra. Pasalnya, negara-negara yang masuk dalam Interpol akan memberikan atensi kepada buronan yang terjerat tindak pidana korupsi.

"Setahu saya dari Interpol akan lebih atensi kalau itu kasus korupsi. Kalau penggelapan tindak pidana biasa. Itu akan diatensi oleh interpol pusat ketika kasus korupsi," ucapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini