Gaduh Postingan Anies Baca Buku, Fadjroel Pun Unjuk Buku saat di Nusakambangan

Djairan, iNews · Senin 23 November 2020 11:26 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 23 337 2314316 gaduh-postingan-anies-baca-buku-fadjroel-pun-unjuk-buku-saat-di-nusakambangan-mE3PfMsLiD.jpg Tangkapan Layar Media Sosial

JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menghebohkan warganet setelah mengunggah foto dirinya menikmati akhir pekan sambil membaca buku karangan Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, How Democracies Die.

Postingan Anies itu tak luput dari beragam komentar hingga penafsiran politik di akun media sosial orang nomor satu di DKI tersebut.

(Baca juga: Jika FPI Ngotot Gelar Reuni 212, Pangdam Jaya: Saya Akan Tindak Tegas!)

Untuk diketahui, buku How Democracies Die mengupas ancaman kematian demokrasi karena terpilihnya pemimpin otoriter, disertai beberapa kasus di sejumlah negara. Tak berselang lama, beberapa jam kemudian Juru bicara Presiden Joko Widodo M. Fadjroel Rachman mengunggah gambar buku berjudul Democracy Without The Democrats: On Freedom, Democracy, and The Welfare State.

(Baca juga: Anies Baca Buku How Democracies Die, Netizen: Judul Bukunya Kode Keras!)

Buku tersebut adalah karangan Fadjroel sendiri ketika dirinya dipenjara saat era orde baru, tepatnya di penjara Nusakambangan dan Sukamiskin. Meski tubuhnya dipenjara rezim Presiden Soeharto saat itu, kata Fadjroel, tapi tidak dengan pikirannya yang mampu menerobos luasnya dunia dan zaman.

“Buku #DemocracyWithoutTheDemocrats: On Freedom, Democracy, and The Welfare State, sebagian besar ditulis dari Penjara Nusakambangan & Sukamiskin, plus artikel saya di @hariankompas. Tubuh di penjara rezim totaliter Suharto/Orba, tapi pikiran menerobos keluasan dunia & zaman ~ FR,” ujar Fadjroel melalui akun twitter pribadinya @fadjroeL dikutip pada Senin (23/11/2020).

Melalui buku itu, Fadjroel menyampaikan pesan bahwa perjuangan demokratisasi demokrasi merupakan perjuangan tanpa akhir. Perjuangan demokrasi sejak kemerdekaan, kata Fadjroel, tak berjalan mulus karena dihadang tantangan antidemokrasi berujung dorongan reformasi pada 21 Mei 1998.

“Dan sekarang terus membongkar lembaga, regulasi dan orang2 yang memanfaatkan demokrasi utk menghancurkan demokrasi ~ FR,” kata dia.

Sekadar diketahui, Fadjroel pernah ditangkap dan ditahan selama tiga tahun saat orde baru, karena terlibat dalam aksi menuntut penurunan Presiden Soeharto kala itu. Fadjroel menjadi tahanan politik yang berpindah-pindah di enam penjara termasuk Nusakambangan dan Sukamiskin. Di mana yang paling berat baginya adalah satu tahun di penjara militer.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini