Aksi Kontroversial FPI Berujung Ancaman Pembubaran oleh Rezim SBY

Bima Setiyadi, Koran SI · Jum'at 20 November 2020 15:02 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 20 337 2313087 aksi-kontroversial-fpi-berujung-ancaman-pembubaran-oleh-rezim-sby-DSqtbgmM2v.jpg ilustrasi: okezone

JAKARTA - Kedatangan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab ke Tanah Air beberapa waktu lalu menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Karena sejumlah acara yang dihadiri Habib Rizieq menimbulkan kerumunan massa.

(Baca juga: Koopssus Unjuk Kekuatan di Petamburan, Munarman: Kasihan Kalau Dibentuk Hanya Itu Tugasnya!)

Masyarakat pun meminta kepada pemerintah untuk membubarkan FPI. Bahkan sejumlah prajurit TNI turun tangan mencopot baliho HRS dan mengancam membubarkan Organisasi Masyarakat (Ormas) FPI tersebut.

Namun tahukah Anda, wacana pembubaran Ormas FPI bukan kali pertama terjadi. Pada Juni 2006, Pemerintahan SBY melalui Menko Polhukam Widodo AS sempat ingin membubarkan ormas FPI berdasarkan peraturan yaitu Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Masyarakat karena aksi anarkis yang dilakukan oleh FPI.

(Baca juga: #KamiBersamaHRSdanAnies Jadi Trending Topic Twitter )

Kendati demikian, ini hanya berupa wacana, dan belum dipastikan. Kabarnya pendirian ormas di Indonesia harus berdasarkan Pancasila sedangkan FPI berdasarkan syariat Islam dan tidak mau mengakui dasar lainnya.

Setelah itu, pada 2008, wacana pembubaran Ormas FPI kembali muncul setelah Insiden Monas. Dimana saat itu terjadi peristiwa penyerangan yang dilakukan FPI terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKBB) di silang Monas pada 1 Juni 2008. Wacana itupun kandas dengan alasan Ormas FPI tidak berlandaskan hukum.

Puncak wacana pembubaran Ormas FPI terjadi pada 2016. Dimana saat itu, FPI menggelar aksi Demontrasi kasus penistaan agama terhadap Gubernur DKI Jakarta, BAsuki TJahaja Purnama (Ahok). Beberapa aksi digelar dan tak jarang berujung ricuh. Wacana kembali gagal.

Front Pembela Islam bukanlah organisasi kemarin sore. FPI sudah berkiprah selama 18 tahun di negara ini. Seperti yang terlihat di wikipedia, FPI dideklarasikan secara terbuka di Pondok Pesantren Al-Umm, Tangerang, pada 25 Robi’uts Tsani 1419 Hijriyyah atau 17 Agustus 1998. Pendirian organisasi ini hanya empat bulan setelah Presiden Soeharto mundur dari jabatannya, karena pada saat pemerintahan orde baru presiden tidak mentoleransi tindakan ekstrimis dalam bentuk apapun. FPI pun berdiri dengan tujuan untuk menegakkan hukum Islam di negara sekuler

FPI menjadi sangat terkenal karena aksi-aksinya yang kontroversial sejak tahun 1998, terutama yang dilakukan oleh laskar paramiliternya yakni Laskar Pembela Islam. Rangkaian aksi penutupan klab malam, tempat pelacuran dan tempat-tempat yang diklaim sebagai tempat maksiat, ancaman terhadap warga negara tertentu, penangkapan (sweeping) terhadap warga negara tertentu, konflik dengan organisasi berbasis agama lain adalah wajah FPI yang paling sering diperlihatkan dalam media massa.

Di samping aksi kontroversial yang dilakukan, FPI juga melibatkan diri dalam aksi-aksi kemanusiaan antara lain pengiriman relawan ke daerah bencana tsunami di Aceh, bantuan relawan dan logistik saat bencana gempa dan beberapa aktivitas kemanusiaan lainnya.

Tindakan FPI sering dikritik berbagai pihak karena tindakan main hakim sendiri yang berujung pada perusakan hak milik orang lain. Pernyataan bahwa seharusnya Polri adalah satu-satunya intitusi yang berhak melakukan hal tersebut dijawab dengan pernyataan bahwa Polri tidak memiliki insiatif untuk melakukannya.

Sebagai pimpinan FPI, Habib Rizieq menyatakan bahwa FPI merupakan gerakan lugas dan tanpa kompromi sebagai cermin dari ketegaran prinsip dan sikap. Menurut Rizieq kekerasan yang dilakukan FPI dikarenakan kemandulan dalam sistem penegakan hukum dan berkata bahwa FPI akan mundur bila hukum sudah ditegakkan. Ia menolak anggapan bahwa beberapa pihak menyatakan FPI anarkis dan kekerasan yang dilakukannya merupakan cermin kebengisan hati dan kekasaran sikap.

FPI didirikan oleh sejumlah ulama, haba’ib, serta aktivis muslim dipelopori seorang tokoh keturunan Hadrami bernama Rizieq Shihab. Meskipun secara formal baru terbentuk pada 17 Agustus 1998, tetapi FPI sebelumnya telah merintis kemunculannya di publik lewat pengajian, tabligh akbar, audiensi dengan unsur-unsur pemerintahan, serta silaturahmi dengan tokoh-tokoh agama terkemuka.

Rizieq Shihab adalah tokoh yang sangat berpengaruh di kalangan keturunan Hadrami di Indonesia. Ayahnya, Sayyid Husein, adalah pendiri Gerakan Pandu Arab Indonesia sekaligus seorang agitator perlawanan terhadap Belanda yang terkemuka.

Ia sendiri awalnya dikenal sebagai intelektual Islam yang sempat mengenyam pendidikan di LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab). Ia kemudian melanjutkan pendidikan di jurusan Dirasah Islamiyah, Fakultas Tarbiyah, King Saud University Arab Saudi.

Rizieq sempat pulang dan menjadi mubalig di Jakarta pada 1992. Kemudian, ia mencoba melanjutkan studi di Universitas Antar Bangsa Malaysia, namun tidak selesai karena permasalahan biaya. Akhirnya Rizieq pulang ke Indonesia dan diangkat menjadi Kepala Madrasah Aliyah Jami’at Khair pada 1994.

Posisinya di Jami’at Khair itu mulai menandai kiprahnya sebagai mubalig yang keras mengkritik segala perilaku maksiat dan kemungkaran rezim Orde Baru. Reputasi ini dipertahankan Rizieq Shihab sekaligus membantunya mendirikan FPI.

Saat ini, Habib Rizieq Shihab menyandang gelar sebagai Imam Besar FPI. Posisi tersebut disandangnya sejak Musyawarah Nasional FPI III pada 2013 lalu.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini