Pandemi Covid-19, Kegembiraan Anak-Anak Belum Bisa Dikembalikan

Felldy Utama, iNews · Jum'at 20 November 2020 13:39 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 20 337 2312998 pandemi-covid-19-kegembiraan-anak-anak-belum-bisa-dikembalikan-bRDeQ0HehS.jpg Keceriaan anak-anak saat bermain di Istana Kepresidenan (Foto : Okezone.com)

JAKARTA - Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi menyebut bahwa pandemi Covid-19 sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia, tak terkecuali anak-anak.

Yudian menyebut, hari ini bertepatan dengan perayaan Hari Anak Dunia (World Children Day) di mana biasanya perayaan untuk anak-anak ini selalu disambut dengan rasa penuh suka cita. Akan tetapi, keadaan ini berubah ketika Covid-19 melanda dunia.

"Tapi di masa pandemi seperti ini, kita belum bisa memberikan kegembiraan yang seharusnya mereka terima karena ada situasi seperti ini," kata Yudian dalam acara peluncuran Pancamain Indonesia oleh BPIP, di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Jumat (20/11/2020).

Bahkan, kata dia, ada sebagian pihak mengatakan bahwa pandemi ini telah menciptakan krisis tambahan untuk anak-anak di seluruh dunia, bukan saja Indonesia. Tak bisa dipungkiri, kondisi ini merupakan bagian dari ujian Tuhan.

"Jadi siapapun itu nanti diuji, situasi ini sudah merubah kita, bahkan mengkawatirkan sekali bagi perubahan perjalanan hidup anak-anak kita di masa yang akan datang," ujarnya.

Baca Juga : Jamaah Umrah Kembali Diberangkatkan, Kemenag Perketat Protokol Kesehatan

Baca Juga : Polri Tunda Gelar Perkara Dugaan Pelanggaran Protokol Kesehatan Habib Rizieq

Yudian menuturkan, sejumlah dampak yang jelas adalah penutupan sekolah atau proses pembelajaran yang berganti secara daring (online). Bahkan, ia mengutip catatan Unesco yang menyatakan bahwa penutupan sekolah mempengaruhi 1,6 miliar murid di 190 negara atau setara dengan 90 persen anak usia sekolah di seluruh dunia.

Belum lagi, dampak lainnya yang dirasakan misalnya anak-anak tidak bisa bertemu kawan-kawan sebaya, berkurangnya kesempatan pergerakan fisik, hingga kehilangan rutinitas.

"Ini semua merupakan faktor yang mengkhawatirkan yang akan mempengaruhi perkembangan mental dan fisik anak-anak kita ke depan," tutur dia.

Catatan tersebut, kata dia, bukanlah berarti menganjurkan agar sekolah dibuka kembali tanpa mempertimbangkan protokol kesehatan. Tetapi yang menjadi poin adalah bagaimana bisa mengembangkan, menciptakan rangka medium dalam metode pembelarajan alternatif yang bisa turut berkontribusi bagi anak-anak.

Hal ini penting untuk memastikan perkembangan anak- anak tanpa mengorbankan kesehatan fisik, mental, dan kebahagiaan mereka.

"Dalam hal inilah, kami ingin berkontirbusi pada acara-acara alternatif dalam proses pembelajaran dan pengembangan karakter anak yang sesuai dengan tugas dan fungsi pokok BPIP dalam pembinaan ideologi Pancasila memperkenalkan Pancamain Indonesia," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini