Pemetaan BMKG, Wilayah Ini yang Paling Terdampak Fenomena La Nina

Binti Mufarida, Sindonews · Sabtu 14 November 2020 12:41 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 14 337 2309478 pemetaan-bmkg-wilayah-ini-yang-paling-terdampak-fenomena-la-nina-rc0mifXPtE.jpg Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)

JAKARTA - Sebagian wilayah Indonesia saat ini telah memasuki musim hujan. Namun, Kepala Pusat Meteorologi Publik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Fachri Rajab mengatakan pada tahun ini intensitas curah hujan akan lebih tinggi dari normal akibat fenomena La Nina.

“Kita perkirakan musim hujan tahun ini, jumlah curah hujannya akan lebih banyak dari normalnya karena ada fenomena La Nina. La Nina kita deteksi dari pertengahan September kemarin sudah aktif. Fenomena La Nina ada di Samudera Pasifik sana ya, tapi dampaknya ke Indonesia,” kata Fachri dalam diskusi Polemik Trijaya “Kita Jaga Alam - Alam Jaga Kita” secara virtual, Sabtu (14/11/2020).

Pada bulan September kemarin, kata Fachri indeks suhu di Samudera Pasifik lebih rendah dari batas normalnya. “Batas dikatakan La Nina itu kalau di bawah minus 0,5 derajat. Dan terakhir pengukuran di akhir Oktober kemarin 1,1, jadi memang sudah La Nina dengan intensitas menengah atau moderat. Nah dengan adanya La Nina ini musim hujan, curah hujannya lebih tinggi daripada normalnya,” katanya.

Sehingga, kata Fachri yang perlu diwaspadai adalah bencana hidrometeorologi akibat fenomena La Nina ini. “Yang perlu kita waspadai akibat dari hujan lebat dan angin kencang ini adalah bencana hidrometeorologi,” katanya.

Lalu apa saja bencana hidrometeorologi ini? “Banjir, banjir bandang, longsor itu kalau di musim hujan. Kalau di periode peralihan ada puting beliung. Dan kalau di musim kemarau ada kekeringan dan karhutla. Jadi yang perlu kita waspadai adalah banjir bandang, banjir dan longsor. Ini yang perlu kita antisipasi,” ungkap Fachri.

Nah, kata Fachri, wilayah Indonesia mana yang berpotensi terdampak? “Hampir di seluruh wilayah Indonesia punya potensi yang sama. Tingkat potensi risikonya juga hampir sama. Namun, kalau kita terjemahkan lagi dalam skala yang lebih detail itu akan ketahuan titik dimana yang rawan,” katanya.

Fachri mengatakan bahwa pemerintah daerah melalui BPBD telah mempunyai peta titik-titik rawan. “Badan geologi juga sudah punya titik pergerakan tanah. Jadi kalau secara umum semua hampir punya potensi yang sama.”

Namun, kata Fachri ada beberapa wilayah di Indonesia yang paling berpotensi terdampak La Nina. “Kalau dari konteks La Nina dampak dari La Nina itu cukup signifikan di Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Tapi, bukan berarti cuaca di Sumatera akan baik-baik saja, tidak. Karena Sumatera juga sudah musim hujan juga. Itu yang perlu kita waspadai juga,” tegasnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini