Kisah Pilot Jepang Terbangkan Jenderal Soedirman dengan Pesawat Pembom

Fahmi Firdaus , Okezone · Kamis 12 November 2020 11:20 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 12 337 2308371 kisah-pilot-jepang-terbangkan-jenderal-soedirman-dengan-pesawat-pembom-VATXbtldVv.jpg Foto: Dispenau

JENDERAL Soedirman terpilih menjadi panglima pertama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 12 November 1945 atau tepat 75 tahun silam. Ia menghabiskan masa jabatan sebagai panglima tentara di bawah pimpinan Presiden Soekarno selama lima tahun.

(Baca juga: Peristiwa 12 November: Jenderal Soedirman Jadi Panglima)

Okezone kembali mengulas sejarah Jenderal Soedirman pada masa revolusi Salah satunya saat dibawa terbang oleh pilot Jepang menggunakan pesawat pembom ringan peninggalan Jepang jenis Shoki Ki-48.

Dikutip dari buku ‘Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan H AS Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI’ karya Haril M Andersen, di suatu hari tanggal 27 April 1946, Jenderal Soedirman dengan ditemani beberapa pejabat militer dan sipil di Malang melakukan inspeksi pemulangan serdadu Jepang, sekaligus beliau mengunjungi Pangkalan Bugis.

(Baca juga: Rekam Jejak Mulyono, Jenderal yang Buang Pangkat Bintang Empat Depan Prajurit)

Pangkalan ini berada di bawah naungan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Udara Malang pimpinan Lettu Imam Soepeno sebagai ketuanya dan Lettu Hanandjoeddin yang menjabat Komandan Pertahanan Teknik Udara, sekaligus kepala Hanggar I.

Pangkalan ini sering terdengar capaian-capaian positifnya hingga ke telinga Jenderal Soedirman, lantaran tergolong sangat baik dalam merenovasi dan memperbaiki sejumlah alutsista udara peninggalan Jepang.

Soedirman memperhatikan hanggar yang terdapat sederetan pesawat-pesawat Cukiu dan Pesawat Pangeran Diponegoro I dan II. Saat melihatnya, Pak Dirman seketika berkeinginan menjajal salah satu pesawat itu.

Dia pun lalu memilih pesawat Pangeran Diponegoro I. Pesawat yang aslinya merupakan pesawat pembom ringan peninggalan Jepang jenis Shoki Ki-48.

Pesawat dengan kecepatan maksimal 510 km/jam itu di masa Perang Pasifik, acap disalahartikan sebagai Pesawat Messerschmitt Me-109 milik Jerman karena miripnya. Ditambah lagi motor pesawatnya berlisensi Daimler DB-601A buatan Jerman

Penamaan Pesawat Pangeran Diponegoro I itu sendiri dicetuskan Lettu Imam Soepeno. Uji terbangnya sendiri setelah mengalami beberapa perbaikan, dilakukan seorang pilot (orang) Jepang yang sudah mengubah namanya jadi Atmo.

Atmo jadi satu dari beberapa pilot Jepang yang memilih bertahan di Indonesia pasca-Perang Dunia II. Mereka bersedia jadi pilot penguji pesawat dengan jaminan perlindungan (dari sekutu) dengan status penerbang Indonesia dari Panglima Divisi VII Surapati Jenderal Mayor Imam Soeja’i.

Soedirman bertanya, siapa yang sudah mengujicobakan pesawat tersebut.

“Siap Panglima Besar! Penerbang Atmo yang sudah mengujicobanya,” jawab Jenderal Mayor Imam Soeja’i.

“Kalau begitu, saya minta Atmo untuk menerbangkannya lagi. Saya mau coba naik pesawat ini,” timpal Jenderal Soedirman.

Saat dipanggil Atmo bersama teknisi Mochammad Usar sebagai pendamping, barulah Jenderal Soedirman tahu bahwa dia akan dipiloti eks penerbang Jepang. Kendati begitu, tak ada niatan Pak Dirman batal terbang dan tetap menaruh percaya pada sang pilot.

Pesawat itu pun take off atau lepas landas dengan lancar. Dari penuturan Atmo dan Usar selepas terbang, disebutkan bahwa Soedirman meminta pesawat berkeliling di atas Kota Banyuwangi, lalu ke langit Bali, setelah itu kembali ke Pangkalan Bugis.

Tidak lama kemudian, pesawat pun landing dengan mulus. Wajah-wajah tegang perwira lainnya yang menunggu di landasan, mencair setelah melihat kepuasan Pak Dirman setelah keluar dari pesawat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini