Amukan Mesin Perang Inggris Tidak Ciutkan Nyali Arek Surabaya

Avirista Midaada, Okezone · Rabu 11 November 2020 10:37 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 11 337 2307728 amukan-mesin-perang-inggris-tidak-ciutkan-nyali-arek-surabaya-jQPTZFpVyF.jpg foto: ist

SURABAYA – Sebelum pertempuran sengit pada 10 November 1945, sebenarnya terjadi pertempuran permulaan selama tiga hari di Surabaya antara tentara Inggris dan sekutu dengan arek – arek Surabaya. Pertempuran ini terjadi pada 28 – 30 Oktober 2020 di beberapa titik salah satunya di Gedung Internatio di daerah Krembangan.

(Baca juga: Misteri Kematian Mallaby Picu Palagan Surabaya)

“Sebelum itu terjadi pertempuran tiga hari tanggal 28 – 30 Oktober, bermula pada pendaratan tentara Inggris pada 25 oktober di Tanjung Perak, Brigade 49 ini menguasai wilayah – wilayah, tanpa seizin pemerintah Jawa Timur, khususnya Surabaya sehingga menimbulkan gesekan dengan pejuang,” ucap Periset perang Surabaya Achmad Zaki Yamani, kepada Okezone belum lama ini.

Tak hanya itu, Tentara Inggris yang awalnya membuat kesepakatan hanya boleh masuk 800 meter dari bibir pantai Surabaya ini juga menyebarkan pamflet agar arek – arek Surabaya menyerahkan senjata rampasan yang didapatnya dari Jepang.

(Baca juga: Mengenang Perjuangan Kolonel Sentot, Komandan Pasukan Setan yang Kebal Peluru)

“Inggris melanggar kesepakatan awal bahwa TKR dan polisi boleh memegang senjata, tetapi dari pihak Inggris mengatakan menjadi tidak boleh, dari sebelumnya boleh. Ini yang menjadi pejuang TKR marah sehingga saat dilucuti (senjatanya) ya melawan, karena sama – sama memegang senjata, dan ini terjadi selama tiga hari sehingga menyebabkan tentara Inggris terdesak,” paparnya.

Dari pertempuran tiga hari ini Inggris mengalami kekalahan, namun taktik Inggris akhirnya memanggil pimpinan negara Indonesia yakni Presiden Ir. Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta untuk datang ke Surabaya melakukan perundingan.

“Hal ini akhirnya menyebabkan terjadi pertempuran tiga hari dimenangkan para pejuang, TKR, polisi rakyat. Karena terdesak Inggris mendatangkan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Soekarno, termasuk menteri penerangan kala itu. Untuk melakukan perundingan dan gencatan senjata,” ungkap periset perang dari Begandring Soerabaia ini.

Namun sesaat setelah Bung Karno dan Bung Hatta kembali ke Jakarta lanjut Zaki, pertempuran kembali meletus di kawasan Gedung Internatio. Para pejuang Indonesia yang tengah melintasi tiba – tiba ditembaki oleh tentara Inggris yang berada di dalam gedung. Pertempuran memuncak saat panglima tentara Inggris Brigadir Jenderal Mallaby tewas terkena ledakan granat.

“Gugurnya Mallaby ini melecut Inggris mengirim pasukan lebih banyak lagi ke Surabaya. Tercatat dari mulai awal November hingga sebelum 10 November 1945, ada sekitar 24 ribu pasukan infanteri yang diturunkan diam – diam,” tuturnya.

Zaki menambahkan setelah ultimatum penyerahan senjata tak digubris arek Surabaya, perang pun akhirnya meledak di Kota Surabaya pada 10 November. Kota Surabaya diberondong serangan dari darat, laut, dan udara sejak 10 November hingga 20 hari ke depan.

“Inggris yang memperkirakan Surabaya ditaklukkan tiga hari meleset, bahkan hampir 20 hari itu. Sehingga hal ini mengakibatkan Inggris mengalami kerugiannya yang banyak baik secara suplai (dana) maupun tentara yang tewas,” tukasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini