Taktik Perang Ateng Sarton Merepotkan Belanda saat Agresi Militer

Asep Supiandi, Koran SI · Selasa 10 November 2020 14:05 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 10 337 2307267 taktik-perang-ateng-sarton-merepotkan-belanda-saat-agresi-militer-JCB9Im0jTG.jpg Nama Ateng Sarton diabadikan sebagai nama jalan (Sindonews)

PURWAKARTA – Bagi warga Purwakarta, sosok Ateng Sarton mungkin tidak familiar. Bahkan namanya diabadikan menjadi nama jalan kecil yang berada di Kelurahan Nagri Kidul atau tepatnya di seberang kantor PLN APJ Purwakarta. Jalan tersebut tembus ke Stasiun Kereta Api dan ke Pasar Simpang melewati Kampung Kertabumi.

(Baca juga: Veteran Berusia Hampir Seabad Ini Menyambung Hidup di Tengah Kelumpuhan)

Tidak banyak literatur yang menggambarkan sosok yang sempat disegani dimasanya, yakni ketika penjajah Belanda masih bercokol di republik ini.

Beberapa informasi yang berhasil dihimpun, Ateng Sarton bukanlah tentara, melainkan pemuda pejuang yang sepak terjangnya selalu merepotkan Belanda pada 1945-1947 atau saat agresi militer ke 1 dan ke 2. Kala itu usia Ateng Sarton terbilang cukup muda, yakni di bawah 30 tahun.

Namun di usianya yang muda, Ateng berjuang membela Tanah Air dengan membuat serangkaian perlawanan di wilayah Purwakarta sebelah selatan dari mulai Kecamatan Jatiluhur, Sukatani, Plered dan Tegalwaru. Bahkan hingga ke daerah Panglejar, saat ini masuk ke Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat.

(Baca juga: Kisah Kopral Bakri, Legenda Hidup Marinir Berusia Hampir 100 Tahun)

Sejarawan Purwakarta, Ahmad Said Widodo, mengakui sangat minim data untuk menelusuri data dan sepak terjang pemuda pejuang itu. Sehingga wajar generasi saat ini banyak yang tidak mengenal Ateng Sarton kecuali nama sebuah jalan di Kelurahan Nagri Kidul.

Berdasarkan keterangan kerabat Ateng Sarton, yakni Ibu Fatimah saat masih hidup sempat menuturkan kepadanya, akibat perlawanannya, pemerintah Kolonial Belanda sempat mencapai pada puncak kekesesalannya. Sehingga harus mengerahkan mata-mata untuk mengintai dan menelusuri keberadaanya.

Pada suatu ketika, penjajah berhasil menemukan Ateng di rumahnya di sekitar daerah Kaum Purwakarta. Saat itu, dia sedang demam dan tak berdaya begitu tentara Belanda menangkapnya.

“Pada saat itu, beliau dibawa ke Sungai Cimunjul yang lokasinya di sebelah selatan Pertigaan Suryo. Di situ Ateng Sarton di suruh berdiri di atas batu, kemudian sekelompok regu tembak memberondongnya dengan senapan,”ungkap Said kepada MNC Media, Selasa (10/11/2020).

Ateng Sarton pun meninggal di tempat itu setelah meneriakan takbir tiga kali dan pekikan merdeka tiga kali. Tentara dan anggota regu tembak itu pun kemudian meninggalkan jasad pemuda pejuang yang berstatus masih bujangan itu dengan tertelungkup di sungai. Sejak saat itu tidak diketahui jasadnya kemana.

“Bisa saja dibawa dan diurus warga sekitar atau mungkin juga hanyut terbawa arus sungai. Sebab sampai sekarang tidak diketahui kuburannya di mana,”ungkap Widodo.

Harapan dia di Hari Pahlawan ini, harus ada upaya serius dari Pemkab Purwakarta untuk menelusuri dan membuat penelitian sejarah. Sebab, banyak pejuang-pejuang dia masa kemerdekaan dari Purwakarta yang hingga hari ini tidak diketahui. Sehingga bisa menjadi motivasi kuat generasi muda dalam mengisi kemerdekaan ini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini