Kasus Pembobolan BNI, Bareskrim Limpahkan Tersangka Maria Pauline ke Kejati DKI

Muhamad Rizky, Okezone · Jum'at 06 November 2020 11:21 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 06 337 2305178 kasus-pembobolan-bni-bareskrim-limpahkan-tersangka-maria-pauline-ke-kejati-dki-bvdPdAPUGm.jpg Maria Lumowa. Foto: Yorri Farli

JAKARTA – Kasus dugaan pembobolan Bank BNI yang menjerat Mari Pauline Lumowa memasuki babak baru, sebab hari ini Bareskrim Polri melimpahkan tersangka dan barang bukti ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta. Ini merupakan pelimpahan tahap II.

"Tahap dua hari ini (tersangka Maria Puline Lumowa)," kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Brigadir Jenderal Helmy Santika saat dikonfirmasi, Jumat (6/11/2020).

Sebelumnya Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham), Yasonna H Laoly, turun langsung ke Serbia untuk menjemput Maria Pauline Lumowa. Yasonna dan delegasi Indonesia termasuk petugas Bareskrim Polri bertolak ke Beograd, Serbia, pada Sabtu 4 Juli 2020.

Lewat proses ekstradisi, Yasonna dan jajarannya berhasil membawa Maria Lumowa ke Indonesia. Meskipun Yasonna dan delegasi Indonesia kerap mendapat hambatan dalam upaya penangkapan Maria.

Maria Pauline Lumowa merupakan Bos PT Gramarindo Mega Indonesia yang lahir di Paleloan, Sulawesi Utara, 27 Juli 1958. Ia ditetapkan sebagai salah satu tersangka kasus pembobolan kas bank BNI cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif. Namun, ia melarikan diri ke luar Indonesia pada 17 tahun yang lalu.

Perkara Maria bermula pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003, saat Bank BNI mengucurkan pinjaman senilai 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro atau setara Rp 1,7 Triliun dengan kurs saat itu, kepada PT Gramarindo Group yang dimiliki Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu.

Baca Juga: Pengakuan BNI soal Maria Pauline Pembobol Rp1,7 Triliun 

Aksi PT Gramarindo Group diduga mendapat bantuan dari 'orang dalam' karena BNI tetap menyetujui jaminan L/C dari Dubai Bank Kenya Ltd., Rosbank Switzerland, Middle East Bank Kenya Ltd., dan The Wall Street Banking Corp yang bukan merupakan bank korespondensi Bank BNI.

Pada Juni 2003, pihak BNI yang curiga dengan transaksi keuangan PT Gramarindo Group mulai melakukan penyelidikan dan mendapati perusahaan tersebut tak pernah melakukan ekspor. Dugaan L/C fiktif ini kemudian dilaporkan ke Mabes Polri.

Namun Maria Pauline Lumowa ternyata sudah lebih dahulu terbang ke Singapura pada September 2003 atau sebulan sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh tim khusus yang dibentuk Mabes Polri.

Adapaun dalam kasus ini Maria dijerat Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi dan Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Baca Juga: Jalani Pemeriksaan, Maria Lumowa Dicecar 27 Pertanyaan

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini