Ma'ruf Amin Soroti Kekeliruan Pemahaman Ayat Terkait Jihad

Fahreza Rizky, Okezone · Selasa 03 November 2020 17:47 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 03 337 2303574 ma-ruf-amin-soroti-kekeliruan-pemahaman-ayat-terkait-jihad-LNooZLIgy5.jpg foto: Okezone

JAKARTA - Wakil Presiden RI, Ma'ruf Amin, menyebut, moderasi beragama perlu dikembangkan untuk membendung munculnya intoleransi serta tindakan negatif lainnya seperti penghinaan terhadap agama, kekerasan, dan lain-lain.

Hal tersebut diucapkan saat menjadi keynote speaker pada acara Rakornas Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) 2020 secara virtual, Selasa (3/11/2020).

"Mengedapkan sikap moderasi beragama juga perlu dikembangkan sebagai upaya untuk menanggulangi munculnya intoleransi beragama, ketegangan umat beragama, penghinaan terhadap agama dan tokoh agama, kekerasan atas nama agama, dan berbagai isu yang disebabkan oleh pemahaman keagamaan yang intoleran dan pemahaman radikal atau ekstrem yang mengarah pada aksi kekerasan, bahkan aksi terorisme," tuturnya.

Ma'ruf Amin melanjutkan, moderasi beragama yang dalam Islam disebut wasathiyyah, adalah proses meyakini, memahami dan mengamalkan ajaran agama secara adil dan seimbang, yang akan menghasilkan cara pandang, sikap, dan perilaku yang selalu mengambil posisi jalan tengah di antara dua hal, atau ekstremitas.

"Dua hal ini adalah: antara jasmani dan rohani; antara teks dan konteks; antara idealitas dan kenyataan; antara hak dan kewajiban; antara orientasi keagamaan dan orientasi kebangsaan; antara kepentingan individual dan kemaslahatan umat atau bangsa; serta keseimbangan antara masa lalu dan masa depan," jelasnya.

Menurut Ma'ruf, pemahaman Islam wasathiyah adalah pemahaman yang tidak tekstual dan tidak pula liberal, tidak berlebihan (ifrath) tetapi juga tidak gegabah (tafrith), dan tidak pula memperberat (tasyaddud) tetapi juga tidak mempermudah (tasahul).

"Pemahaman secara tekstual, yang hanya memahami teks-teks Alquran dan hadits tanpa penafsiran menghasilkan pemahaman yang statis, karena pemahaman seperti ini tanpa disertai dengan maksud-maksud utama yang terdapat dalam sebuah teks. Bahkan pemahaman pada teks-teks tertentu secara literal itu bisa menyesatkan, seperti ayat-ayat terkait dengan jihad," tutur Mustasyar PBNU itu.

"Melalui pemahaman moderat tersebut umat Islam bisa menerima NKRI sebagai konsensus nasional (mithaq al-wathani), yaitu Negara Kesepakatan atau Negara Konsensus (Dar al-Mitsaq) yang dibangun dan disepakati oleh founding fathers, dimana sebagian dari mereka adalah ulama dan tokoh agama," pungkas Ma'ruf.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini