Usut Tuntas Kasus Intan Jaya, Kogabwilhan III : Jangan Fokus pada 1 Kasus

Riezky Maulana, iNews · Senin 02 November 2020 19:21 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 02 337 2302993 usut-tuntas-kasus-intan-jaya-kogabwilhan-iii-jangan-fokus-pada-1-kasus-2STuXrLpaL.jpg TGPF Intan Jaya. (Dok TNI)

JAKARTA – Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III TNI mengaku amat menghormati temuan dari berbagai pihak terkait serangkaian kasus kekerasan dan penembakan yang terjadi di Intan Jaya, Papua. Baik itu dari Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) bentukan Menko Polhukam Mahfud MD hingga temuan Tim Investigasi Komnas HAM.

"TNI sangat menghargai rekomendasi TGPF termasuk temuan pihak lain," kata Kepala Penerangan Kogabwilhan III Kolonel Czi IGN Suriastawa dalam keterangan tertulis, Senin (2/11/2020).

Dia menjelaskan, sejak awal TNI mendukung keputusan pemerintah terkait hal ini serta aktif mengamankan TGPF selama tugas investigasi di lapangan. Menurutnya, TNI menjunjung tinggi proses hukum yang berlaku. Itu termasuk jika ternyata dari proses hukum, terdapat keterlibatan oknum prajurit.

Lebih lanjut dia menuturkan, sejak beberapa hari yang lalu, Tim Investigasi TNI AD telah terjun di lapangan sebagai tindak lanjut rekomendasi temuan TGPF. Akan tetapi, Suriastawa juga mengingatkan, rangkaian kejadian di Intan Jaya mulai dari 14 hingga 19 September telah menelan lima korban jiwa, yakni tiga warga sipil dan dua prajurit TNI.

"Jangan hanya fokus pada satu kasus dan mengesampingkan kasus lainnya karena ini adalah satu rangkaian kejadian," tuturnya.

Dia menuturkan, jika mengesampingkan adanya seluruh fakta dari rangkaian kejadian ini, akan mengaburkan masalah yang paling mendasar. Masalah mendasar tersebut, disampaikan Suriastawa, adalah adanya keterlibatan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

"Masalah yang paling mendasar, yaitu keberadaan gerombolan kriminal bersenjata, sumber masalah di Papua ini," tuturnya.

Sebagaimana diketahui, Komnas HAM telah merampungkan penyusunan laporan hasil investigasi terkait serangkaian kekerasan, dan penembakan di Intan Jaya Papua yang berujung pada kematian Pendeta Yeremia Zanambani. Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam yang menjadi Ketua Tim Investigasi mengatakan, dari investigasi didapatkan hasil ada serangkaian peristiwa selama dua hari, terhitung sejak 17 hingga 19 September 2020.

Anam menjelaskan, serangkaian kejadian tersebut bermula ketika penembakan dan meninggalnya Serka Sahlan serta perebutan senjatanya. Atas hal itu, terjadilah penyisiran, pencarian terhadap senjata, dan pengumpulan massa terkait senjata yang diduga dirampas OPM.

Baca Juga : TGPF Intan Jaya Rampung Periksa 25 Saksi, Termasuk Istri Pendeta Yeremia

"Penyisiran dan pencarian bahkan sebanyak dua kali, yaitu sekitar pukul 10.00 dan 12.00 WIT. Warga Hitadipa dikumpulkan dalam pencarian senjata dan mengirim pesan agar senjata segera dikembalikan dalam kurun waktu dua sampai dengan tiga hari," kata Anam saat konferensi pers daring, Senin (2/11/2020).

Baca Juga : Ini Hasil Investigasi Komnas HAM Soal Penembakan Pendeta di Intan Jaya Papua

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini