Ini Hasil Investigasi Komnas HAM Soal Penembakan Pendeta di Intan Jaya Papua

Riezky Maulana, iNews · Senin 02 November 2020 14:35 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 02 337 2302788 ini-hasil-investigasi-komnas-ham-soal-penembakan-pendeta-di-intan-jaya-papua-0KUCYrKCVs.jpg Foto: Illustrasi Shutterstock

JAKARTA - Komnas HAM telah merampungkan penyusunan laporan hasil investigasi terkait serangkaian kekerasan, dan penembakan di Intan Jaya Papua yang berujung pada kematian Pendeta Yeremia Zanambani. Penembakan terhadap pendeta Yeremia, pada Sabtu 19 September 2020 petang.

Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam yang menjadi Ketua Tim Investigasi mengatakan, investigasi dilakukan dengan cara mengunjungi langsung tempat kejadian dan melangsungkan olah TKP dan untuk menguatkan temuan tersebut, dibantu dengan keterangan ahli. Dari hasil investigasi didapatkan hasil bahwasanya ada serangkaian peristiwa selama dua hari, terhitung sejak tanggal 17 hingga 19 September 2020

Anam menjelaskan, serangkaian kejadian tersebut bermula ketika penembakan dan meninggalnya Serka Sahlan serta perebutan senjatanya. Atas hal itu, terjadilah penyisiran, pencarian terhadap senjata, dan pengumpulan massa terkait senjata yang diduga dirampas oleh OPM.

"Penyisiran dan pencarian bahkan sebanyak dua kali, yaitu sekitar pukul 10.00 dan 12.00 WIT. Warga Hitadipa dikumpulkan dalam pencarian senjata dan mengirim pesan agar senjata segera dikembalikan dalam kurun waktu dua sampai dengan tiga hari," kata Anam saat konferensi pers daring, Senin (2/11/2020).

Baca juga:

TGPF Selesai Kumpulkan Data Kasus Penembakan di Intan Jaya

Pemerintah Bentuk Tim Investigasi Gabungan Usut KKB di Intan Jaya

 KKB Kembali Tembaki Pos TNI di Papua, 1 Warga Jadi Korban   

Lebih lanjut Anam menuturkan, dalam pengumpulan massa tersebut, nama pendeta Yeremia, beserta lima nama lainnya disebut dan dicap sebagai musuh, oleh salah satu anggota Koramil di Distrik Hitadipa. Tak lama berselang, sekira pukul 13.10 WIT, terjadi penembakan terhadap salah seorang Anggota Satgas Apter Koramil di pos Koramil Persiapan Hitadipa atas nama Pratu Dwi Akbar Utomo.

"Yang mengumpulkan massa dan ngomong di jam 10-12 itu adalah anggota TNI bernama Alpius Hasim Madi," tuturnya.

 

Alpius pun diduga melakukan operasi penyisiran guna mencari senjata api yang dirampas. Bahkan, penembakan Pratu Dwi Akbar turut memicu rentetan tembakan lain, hingga sekitar pukul 15.00 WIT, Alpius dan pasukannya yang sedang melakukan penyisiran dilihat oleh warga sekitar.

"Alpius disebut menuju kandang babi sekitar waktu penembakan terhadap korban. Di saat bersamaan, terdapat pembakaran terhadap Rumah Dinas Kesehatan Hitadipa karena diduga sebagai asal tembakan terhadap Pratu Dwi Akbar atau lokasi persembunyian OPM. Setidaknya, dua orang saksi melihat api dan asap, serta sisa bara api dari lokasi kebakaran," ungkapnya.

Saat melakukan penyisiran senjata dan OPM, Alpius dan tiga sampai empat rekannya bertemu Miryam Zoani dan langsung menanyakan dimana kokasi Pendeta Yeremia. Miryam pun, sambung Anam, menyebut bahwa pendeta ada di kandang babi.

"Barulah sekitar 17.50 WIT istri almarhum mengetahui kalau almarhum terlakuka karena tembakan. Istri almarhum setelah dari rumahnya, menunggu sampai sore menjelang malam kok enggak sampai-sampai pendeta ini, terus balik lagi ke kandang babi," katanya.

Miryam, ketika kembali ke kandang babi menemukan Pendeta Yeremia telah dalam posisi telungkup dan mengeluarkan banyak darah. Menurut Anam, di lengan kiri korban terdapat luka terbuka dan mengeluarkan darah.

"Komnas HAM meyakini, disamping ada luka tembak, adanya potensi sayatan benda tajam lainnya pada lengan kiri korban. Diduga kuat ada dugaan penyiksaan atau tindakan kekerasan lainnya dilakukan terduga pelaku yang bertujuan meminta keterangan atau pengakuan. Bisa soal senjata yang hilang atau keberadaan dari OPM," ungkapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini