Aneka Ragam Tradisi Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia

Muhamad Rizky, Okezone · Jum'at 30 Oktober 2020 05:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 30 337 2301400 aneka-ragam-tradisi-peringatan-maulid-nabi-muhammad-saw-di-indonesia-1wg7kZLlKK.jpg Tradisi Panjang Jimat di Cirebon (Foto: Okezone)

3. Padang

Umat Muslim di Padang Pariaman juga menjalankan Tradisi Bunga Lado. Pada tradisi ini, masyarakat membuat pohon buatan yang nantinya akan dihiasi beragam uang kertas asli.

Adapun uang yang dipakai ialah pecahan Rp10 ribu dan Rp20 ribuan yang ditata rapi. Tradisi tersebut dilakukan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW atas rezeki yang telah diberikan selama menjalani hidupnya.

Dalam rangkaiannya, setelah mengarak pohon uang, masyarakat sekitar akan menyumbangkan uang tersebut untuk kesejahteraan umat seperti untuk pembangunan masjid. Tradisi ini pun dikenal sebagai ajang silaturahmi antarmasyarakat setempat.

Bungo yang artinya bunga dan Lado yang berarti cabai dalam bahasa Padang ini, merupakan sebuah tradisi yang juga dilakukan masyarakat Padang secara turun-temuran saat Maulid Nabi Muhammad SAW tiba.

4. Sulawesi Selatan

Maudu Lompoa adalah tradisi peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan dan budaya suku Bugis. Secara etimologi Maudu Lompoa berasal dari bahasa Bugis yang artinya Maulid Besar.

Dalam tradisi ini, masyarakat sekitar khususnya pemuda bergotong royong mengarak replika kapal atau julung-julung yang berisikan hidangan khas berupa nasi pamatra (setengah matang) beserta lauk pauk seperti ayam kampung dan telur warna-warni serta hiasan khas Sulawesi. Julung-julung akan diarak menuju pinggir Sungai Cikoang pada puncak perayaan Maudu Lompoa.

Panitia yang mengurus tradisi Maudu Lompoa Cikoang harus memiliki waktu yang panjang, sebab ritual ini mesti dipersiapkan sejak 40 hari sebelum Maulid Nabi Muhammad SAW tiba. Dalam Maudu Lompoa Cikoang, biasanya akan ada pertunjukan seni atraksi budaya yang berpadu dengan unsur agama.

Daerah yang biasanya melakukan tradisi ini setiap tahunnya, yaitu Sulawesi Selatan, khususnya Cikoang, Takalar. Untuk itu, tidaklah heran jika namanya sesuai dengan nama daerahnya.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini