Temui Menlu AS, GP Ansor Tunjukkan Islam Tidak Identik dengan Kekerasan

Abdul Rochim, Koran SI · Kamis 29 Oktober 2020 13:26 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 29 337 2301177 temui-menlu-as-gp-ansor-tunjukkan-islam-tidak-identik-dengan-kekerasan-Q0rrSlXLXT.jpg Ketum GP Anshor, Gus Yaqut (Foto : Sindo/Abdul Rochim)

JAKARTA - Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo bakal menggelar pertemuan dengan Gerakan Pemuda (GP) Ansor Nahdlatul Ulama (NU) di Jakarta, Kamis (29/10/2020) siang ini.

Pertemuan dengan tajuk "Nurturing The Share Civilization Aspirations of Islam Rahmatan Lil Alamin The Republic of Indonesia and The United Stated of America itu digelar di Hotel Four Season.

Ditemui sebelum menggelar pertemuan dengan Pompeo, Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, GP Ansor mem memiliki beberapa kesamaan tujuan. Pertama, Ansor ini ingin agar citra soal Islam, terutama di dunia Barat tidak melulu citra yang identik dengan kekerasan dan teror. "Ada sisi Islam yang lain, Islam yang penuh rahmah, Islam yang penuh kasih sayang yang di sini kita kenal dengan Islam rahmatan lil alamin," tuturnya.

Dikatakan Gus Yaqut, Islam rahmatan lil alamin sangat menghargai perbedaan- perbedaan,baik itu perbedaan agama, suku, ras dan lainnya.

Langkah ini sejalan dengan Deklarasi yang digagas Pompeo terkait hak asasi manusia yang tidak bisa dicabut. "Apa yang tidak bisa dicabut itu ya tentang kebebasan berkeyakinan, hak untuk hidup," katanya.

Pertemuan ini, kata Gus Yaqut, dimaksudkan untuk lebih pada menyamakan cara pandang antara Indonesia dan AS terhadap persoalan-persoalan tersebut. Diharapkan melalui pertemuan ini, peradaban dunia akan menjadi lebih baik. "Peradaban dunia yang bebas dari konflik dan menggunakan hak-hak dasar, hak asasi manusia tadi yang tidak bisa dicebut sebagai norma untuk menciptakan perdamaian," urainya.

Baca Juga : Jokowi Ingin Amerika Jadi Sahabat Indonesia

Gus Yaqut juga menegaskan bahwa Ansor ingin menunjukkan bahwa Islam yang didakwahkan oleh ulama pada umumnya di Indonesia adalah Islam yang moderat, Islam yang sangat berbeda dengan apa yang ditemui di dunia Barat seperti kejadian terakhir di Paris, Prancis.

"Bagaimana Islam itu berwajah keras (di Barat) dan apa intimidatif dan pemerintah Amerika dalam melihat Islam, itu ternyata tidak seperti gambaran Islam di dunia Barat. Oleh karena itu beliau mau datang ke sini, pengen melihat secara langsung dan mudah-mudahan ini juga menjadi bagian dari dakwah Nahdlatul Ulama bahwa islam itu ya memang seharusnya melindungi semuanya, menjadi rahmat bagi sekalian alam," paparnya.

Dijelaskan Gus Yaqut, pertemuan ini berawal dari Declaration on Humanitarian Islam yang dilakukan Ansor dua tahun lalu di Jombang. Yakni, bagaimana menterjemahkan Islam untuk kemanusiaan, Islam yang menghargai perbedaan.

"Setelah deklarasi itu, kita berkorespondensi dengan banyak pihak, salah satunya dengan Pemerintah Amerika Serikat. Nah alhamdulillah, dalam kurang lebih sebulan terakhir ini, kita mendapatkan respon positif dari Pemerintah Amerika, khususnya Mr Pompeo ini hingga beliau berkenan untuk hadir ke Indonesia," katanya.

Terkait kunjungan Pompeo ke Indonesia, Gus Yaqut mengatakan bahwa politik luar negeri Indonesia menganut paham bebas aktif. "Itu tidak berpihak, non-blok. Dan saya kira kita juga ingin Pemerintah Amerika ini memahami bahwa Indonesia ini dalam posisi yang tidak mengikuti blok sini, blok sana. Jadi mana yang terbaik dan paling adil untuk masyarakat dunia, saya kira itu menjadi pilihan Indonesia," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini