5 Fakta Fenomena La Nina dan Dampaknya di Indonesia

Harits Tryan Akhmad, Okezone · Sabtu 24 Oktober 2020 06:32 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 24 337 2298732 5-fakta-fenomena-la-nina-dan-dampaknya-di-indonesia-vShSAxbgol.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Sejumlah wilayah di Indonesia terancam cuaca ekstrem imbas La Nina. Fenomena cuaca ekstrem itu akan berlangsung hingga puncaknya pada Februari 2021. Lantas, apa itu La Nina?

Berikut sejumlah fakta dan dampak La Lina di Indonesia:

1. Mengenal Fenomena La Nina

Kepala Bidang Diseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Hary Tirto Djatmiko menjelaskan La Nina atau La Nina event sebuah kondisi penyimpangan atau anomali suhu permukaan laut Samudera Pasifik tropis bagian tengah dan timur yang lebih ringan daripada kondisi normalnya.

Kemudian, dikuti oleh perubahan sirkulasi atmosfer di atasnya, berupa peningkatan angin pasat Timuran lebih kuat dari kondisi normalnya dan telah berlangsung beberapa bulan.

"Kondisi La Nina dapat berlangsung dengan durasi selama beberapa bulan hingga 2 tahun," kata Hary, Jumat (23/10/2020).

Dia menambahkan, perubahan di Samudera Pasifik berupa interaksi laut dan atmosfer La Nina terjadi dalam siklus antar-tahunan dikenal sebagai El Nino dengan perulangan kejadian 2 sampai 8 tahun.

"La Nina berdampak pada peningkatan curah hujan di Pasifik barat Indonesia sebagian Asia Tenggara lainnya dan bagian utara Australia Brasil bagian utara dan sebagian pantai barat Amerika Serikat," tambahnya.

2. Dampak La Nina

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mewaspadai fenomena gerakan tanah dan dampak La Nina di Tanah Air. Wilayah Indonesia bagian tengah dan timur diketahui memiliki potensi gerakan tanah cukup tinggi pada Oktober 2020.

Adapun beberapa wilayah tengah dan timur Indonesia yang berpotensi terjadi pergerakan tersebut meliputi Sulawesi Tengah bagian tengah, Gorontalo, Sulawesi Selatan bagian utara, Kepulauan Maluku dan Papua. 

Ilustrasi. (Foto: Okezone.com)

Di sisi lain, pergerakan tanah tersebut mulai meluas ke sejumlah wilayah di Indonesia seperti sepanjang Pulau Sumatera di bagian barat dari Aceh hingga Lampung, Pulau Jawa di bagian barat dan selatan, Kalimantan Barat di bagian timur, Kalimantan Tengah bagian tengah, Kalimantan Timur bagian tengah dan Kalimantan Utara. 

Baca juga: BMKG Ingatkan Besarnya Dampak La Nina jika Tak Diantisipasi Sejak Dini

Selain itu, La Nina juga menyebabkan curah hujan lebih tinggi sehingga meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan longsor. 

3. Jabodetabek Alami Dampak La Nina Lebih Awal

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) akan mengalami dampak fenomena La Nina lebih awal dari wilayah lainnya.

Kabid Diseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Hary Tirto Djatmiko mengatakan, wilayah yang akan mengalami musim hujan lebih awal yakni di sebagian wilayah Sumatera dan Sulawesi serta sebagian kecil Jawa. 

"Termasuk Jabodetabek, Kalimantan, NTB dan NTT," kata Hary saat dihubungi Okezone, Kamis (22/10/2020). 

4. Wilayah yang Berpotensi Terdampak La Nina

Selanjutnya, Hary Tirto Djatmiko mengatakan, sejumlah wilayah di Indonesia akan terdampak fenomena La Nina mulai November 2020 hingga ke Januari 2021 mendatang. 

Wilayah yang berpotensi terdampak La Nina yakni Aceh, Sumatera Utara pesisir barat, Bangka bagian utara, Banten bagian selatan, Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 

Kemudian, lanjut Hary, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur bagian barat, Kalimantan Utara bagian timur, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat, dan Papua. "Berdasarkan catatan historis data hujan Indonesia, pengaruh La Nina tidak seragam tergantung pada bulan, daerah dan intensitas La Nina," ujar dia.

5. Masyarakat Diminta Waspada

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau seluruh mitra Pemerintah Daerah dan stakeholder serta masyarakat untuk tetap mewaspadai dampak La Nina.

Kabid Diseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Hary Tirto Djatmiko mengatakan perlunya peningkatan kewaspadaan dan antisipasi dini pada wilayah yang diprediksi akan mengalami musim hujan Atas Normal (lebih basah dari normalnya) meliputi Sumatera, Jawa (termasuk Jabodetabek) dan sebagian kecil kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara dan Papua.

"Menghadapi Puncak Musim Hujan 2020/2021 di bulan Januari dan Februari 2021, perlu diwaspadai wilayah yang rentan bencana hidrometeorologi seperti genangan, banjir, longsor dan banjir bandang," ujarnya. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini