Ma'ruf Amin Ingin Program Pencegahan Stunting Antarlembaga Terintegrasi

Fahreza Rizky, Okezone · Rabu 21 Oktober 2020 14:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 21 337 2297185 ma-ruf-amin-ingin-program-pencegahan-stunting-antarlembaga-terintegrasi-DbvUmFY4HT.jpg Wakil Presiden RI, KH Maruf Amin (foto: Dok Okezone.com)

JAKARTA - Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan, pihak yang terlibat dalam program pencegahan stunting sangat banyak, mulai dari kementerian/lembaga (K/L), pemerintah daerah hingga pemerintah desa. Banyaknya pihak yang terlibat menyebabkan program tersebut kurang tepat sasaran. Karenanya integrasi program antarlembaga harus dilakukan.

Hal tersebut dikatakan Ma'ruf dalam Rapat Koordinasi Teknis Nasional Percepatan Pencegahan Stunting yang diselenggarakan Kemensetneg secara virtual, Rabu (21/10/2020).

"Sudah banyak program dan kegiatan yang dibiayai oleh berbagai sumber anggaran untuk pencegahan stunting yang ditujukan untuk satu daerah bahkan sampai tingkatan desa, akan tetapi yang menjadi tantangan adalah bagimana memastikan seluruh program yang alokasi anggarannya berasal dari K/L, pemda, maupun sumber lainnya, dapat secara terintegrasi sampai di wilayah sasaran," ucapnya.

Baca juga:

Wapres Ma'ruf Minta Kepala Daerah Jadikan Pencegahan Stunting Prioritas Pembangunan

Wapres Ma'ruf Amin: Jangan Sampai Pandemi Menambah Jumlah Anak Stunting

Ma'ruf menuturkan, pencegahan stunting dapat dilakukan melalui dua cara. Pertama, intervensi gizi spesifik. Kedua, intervensi gizi sensitif. Intervensi model pertama adalah penanganan yang berhubungan dengan peningkatan gizi dan kesehatan. Sedangkan intervensi model kedua adalah penanganan melalui komponen pendukung seperti penyediaan air bersih dan sanitasi.

"Menurut berbagai literatur, intervensi gizi sensitif ini justru memiliki peran lebih besar sekitar 70 persen dalam upaya penurunan stunting. Pencegahan stunting harus dilakukan dengan intervensi gizi spesifik dan sensitif dalam 1.000 hari pertama kehidupan. Periode ini sangat penting karena semua organ tubuh dibentuk, tumbuh dan berkembang, pemenuhan gizi pada periode ini sangat penting dalam memastikan pertumbuhan dan perkembangan anak," tuturnya.

Ma'ruf mengungkapkan, sering kali satu wilayah hanya menerima satu program intervensi terkait pencegahan stunting. Padahal supaya lebih komprehensif dibutuhkan dua program intervensi sekaligus. Hal ini disebabkan karena banyaknya lembaga yang menangani pencegahan stunting sehingga mereka tak sinkron.

"Sering kali satu desa atau wilayah menerima satu program dari satu kementeriann yang fokus pada intervensi gizi spesifik, tapi tidak menerima program dari kementerian lainnya yang fokus pada intrvensi gizi sensitif," jelasnya.

Ma'ruf menambahkan, konvergensi (pemusatan) atau integrasi program intervensi pencegahan stunting oleh K/L harus dilakukan agar bisa diterima oleh masyarakat secara komprehensif. Dampaknya prevalensi stunting dapat diturunkan.

"Penrunan prevalensi stunting akan efektif bila satu wilayah menerima keseluruhan program. Konvergensi adalah kata yang mudah diucapkan tapi tak mudah untuk diwujudkan. Untuk mewujudkannya diperlukan upaya keras dari kita semua setiap lembaga yang terlibat diminta hilangkan ego sektoral karena konvergensi membutuhkan kerjasama berbagai pihak," tuturnya.

"Untuk mewujudkan konvergensi percepatan pencegahan stunting diperlukan kepemimpinan yang kuat. Di berbagai negara yang sukses, kepemimpinan kuat ini jadi kunci keberhasilan utama," sambungnya.

Ia melanjutkan, pada 2019 ada 27,7 persen atau 6,5 juta balita di Indonesia yang mengalami stunting karena kekurangan gizi dalam jangka waktu lama. Data itu bersumber dari hasil survei yang dilakukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

"Pada 2019 berdasarkan data survei status gizi balita Indonesia yang dilakukan Kemenkes, 27,7 persen anak balita Indonesia mengalami stunting, ini artinya ada sekitar 6,5 juta balita yang mengalami kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama yang menjadikannya stunting," ungkapnya.

Menurut Ma'ruf, masih banyaknya balita Indonesia yang mengalami stunting adalah kondisi memprihatinkan. Pasalnya stunting akan mempengaruhi kualitas masa depan generasi penerus bangsa.

"Anak-anak yang stunting akan mempunyai kemampuan kognitif yang lebih rendah, rentan terhadap penyakit tak menular, dan ketika dewasa mempunyai produktivitas yang rendah, dalam jangka panjang akan merugikan kita sebagai bangsa dan negara," pungkas dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini