Kejagung Tetapkan Komut PT Pelangi Putra Mandiri Tersangka Gratifikasi BTN

Erfan Maaruf, iNews · Rabu 21 Oktober 2020 05:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 21 337 2296944 kejagung-tetapkan-komut-pt-pelangi-putra-mandiri-tersangka-gratifikasi-btn-8HRZdSYIeh.jpg Komisaris Utama PT Pelangi Putra Mandiri Ghofir Effendy (Foto: Erfan Maaruf)

JAKARTA - Penyidik Jaksa Agung Tindak Pidana Khusus (Jam Pidsus) Kejaksaan Agung (Kejagung) kembali menetapkan Komisaris Utama PT Pelangi Putra Mandiri, Ghofir Effendy dalam kasus tindak pidana korupsi gratifikasi terhadap BTN. Dia merupakan tersangka ke lima dalam kasus tersebut.

"Iya benar jadi tersangka," kata Direktur Penyidikan Jampidsus Kejagung, Febri Ardiansyah di Gedung Bundar, Selasa (20/10/2020).

Pantauan di lokasi, Ghofir ditetapkan sebagai tersangka setelah menjalani pemeriksaan. Dia keluar dari gedung Jam Pidsus sekitar pukul 21.00 WIB dengan menggunakan rompi pink dengan tangan diborgol.

Baca Juga: Kejagung Tetapkan Mantan Dirut BTN Sebagai Tersangka dan Langsung Ditahan 

Dengan mengenakan masker, Ghofir diam seribu bahasa saat dicecar banyak pertanyaan oleh awak media dan langsung digiring ke mobil tahanan Kejagung. Dia dibawa ke rumah tahanan negara (Rutan) Salemba Cabang Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Ghofir akan menjalani tahanan selama 20 hari hingga tanggal 10 November 2020.

"Ditahan di Kejari Jaksel," pungkasnya.

Sejauh ini, penyidik Kejagung menetapkan tersangka empat tersangka di antaranya, mantan Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (BTN) periode 2012-2019 H Maryono, Direktur PT Pelangi Putra Mandiri Yunan Anwar, menantu Maryono atas nama Widi Kusuma Purwanto, dan Komisaris PT Titanium Property Ichsan Hasan sebagai tersangka.

Maryono dan Yunan terbukti melakukan tindak pidana korupsi atas pengajuan kredit pada 2014 senilai Rp117 miliar. Untuk memuluskan pengajuan kredit tersebut, tersangka Yunan Anwar memberikan Rp2,257 miliar kepada tersangka H Maryono. Pemberian kredit itu pun akhirnya dilakukan dengan mengambil alih dari Bank Pinjaman Daerah Kalimantan Timur.

Kemudian, penyidik melakukan pendalaman dan menemukan bukti tindak pidana serupa terhadap PT Titanium Properti pada 2013. Kali ini, kredit yang diajukan senilai Rp160 miliar dan uang pemulus dari tersangka Ichsan Hasan kepada Maryono senilai Rp870 juta.

Seluruh uang pemulus diberikan kepada Maryono melalui rekening menantunya Widi. Widi kemudian ditetapkan tersangka karena mengetahui alasan pemberian uang dari dua pihak pengaju kredit tersebut.

Atas perbuatan itu, Maryono disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 5 Ayat (2) jo Ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Sedangkan Yunan Anwar disangkakan melanggar Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini