Ini Arahan Satgas Covid-19 bagi Masyarakat saat Libur Panjang

Dita Angga R, Sindonews · Selasa 20 Oktober 2020 21:35 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 20 337 2296870 ini-arahan-satgas-covid-19-bagi-masyarakat-saat-libur-panjang-xNdZh4ofU0.jpg Foto: Illustrasi Shutterstock

JAKARTA - Pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan kasus, sebagai dampak libur panjang akhir Oktober ini. Satgas Penanganan Covid memberikan beberapa arahan untuk mencegah hal tersebut terjadi.

Seperti diketahui pada akhir Oktober ini akan ada libur panjang. Hal ini mengingat akan ada libur nasional Maulid Nabi Muhammad SAW tanggal 29 Oktober 2020. Lalu juga terdapat cuti bersama tanggal 28 dan 30 Oktober 2020.

“Pertama bagi masyarakat yang dalam keadaan mendesak, harus melakukan kegiatan di luar rumah selama periode libur panjang tersebut, maka kami ingatkan selalu patuhi protokol kesehatan 3M yakni memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak serta hindari kerumunan. Keputusan keluar rumah harus dipikirkan matang dengan pertimbangkan semua risiko yang ada,” kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito saat konferensi pers, Selasa (20/10/2020).

Baca juga:

Kasus Aktif Covid-19 Turun Drastis, Pemerintah Waspada Dampak Libur Panjang

Bertambah 3.602, Berikut Sebaran Penambahan Kasus Corona di 34 Provinsi

12.734 Orang di Indonesia Meninggal Terkait Covid-19, Angka Kematian 3,5%

Arahan berikutnya adalah Satgas mendorong agar masyarakat yang menerima kunjungan dari keluarga atau sanak saudara untuk tetap menjalankan protokol kesehatan 3M selama di rumah.

“Meskipun tamu merupakan bagian dari keluarga, tetap gunakan masker, cuci tangan, dan jaga jarak. Karena kita tidak tahu dengan siapa sebelumnya keluarga kita tadi berinteraksi,” ujarnya.

Lalu Satgas juga mendorong agar perusahaan atau perkantoran melakukan langkah antisipatif, bagi para karyawannya yang bepergian ke luar kota pada masa libur panjang ini. Perusahaan didorong untuk mewajibkan karyawan yang bepergian untuk melapor agar dapat didata oleh kantor.

“Terutama yang memutuskan ke wilayah zona oranye dan/atau merah. Selain itu perusahaan dan kantor didorong untuk mewajibkan pegawai melakukan isolasi mandiri jika merasakan gejala covid setelah libur panjang,” ungkapnya.

 

Antisipasi yang dilakukan pemerintah bukan tanpa alasan. Sebagaimana pengalaman sebelumnya seringkali ibur panjang menyebabkan terjadinya lonjakan kasus.

"Libur panjang terbukti berdampak pada kenaikan kasus positif di tingkat nasional. Hal ini dipicu karena terjadi kerumunan di berbagai lokasi yang dikunjungi masyarakat selama masa liburan. Selain itu ketidakpatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan," katanya.

Misalnya saja saat Idul Fitri bulan Mei lalu terjadi kenaikan jumlah kasus harian sebesar 69% hingga 93%. Kenaikan kasus terjadi ini dalam rentang waktu 10-14 hari setelah libur panjang. Hal serupa juga terjadi saat libur panjang tahun baru Islam Agustus lalu. Dimana terjadi kenaikan kasus harian dan kumulatif mingguan antara 58% sampai 118% dalam kurun waktu 10-14 hari setelah liburan.

"Selain itu, terjadi juga kenaikan absolute positivity rate atau hasil tes positif yang naik 3,9 persen dalam dua minggu di tingkat nasional," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini