Belajar "Zero Covid-19" dari Kabupaten Sitaro

Binti Mufarida, Sindonews · Kamis 15 Oktober 2020 17:27 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 15 337 2294233 belajar-zero-covid-19-dari-kabupaten-sitaro-FQTy2YOIeC.jpg Ilustrasi (Dok. okezone)

JAKARTA - Penegakan protokol kesehatan dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat, pemuka adat, dan tokoh agama jadi kunci Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) dalam menekan Covid-19.

Sejak Maret hingga Mei, Kabupaten yang namanya mengambil dari tiga kepulauan yaitu Siau, Tagulandang, dan Biaro ini menuai prestasi sebagai daerah dengan “Zero Covid-19”.

Bupati Kepulauan Sitaro Evangelian Sasingen mengatakan torehan itu yang membuat Sitaro menjadi salah satu kabupaten yang mendapatkan penghargaan tinggi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) saat puncak peringatan Pengurangan Risiko Bencana beberapa hari lalu.

Bupati Eva, panggilan akrab Evangelian Sasingen, mengatakan sebelum pemerintah mengumumkan secara resmi Covid-19, dirinya sudah menginformasikan kepada seluruh warga di sana untuk memperketat pengawasan di sepuluh pintu masuk pulau.

“Di setiap pintu ada pemeriksaan ketat. Awal-awal kami tidak menggunakan pelindung karena belum ada APD. Kami gunakan jas hujan sebagai pengganti,” ungkap Eva dalam talkshow “Zero Covid-19: Penerima Penghargaan BNPB” di Media Center Satgas Covid-19 Graha BNPB Jakarta, Kamis (15/10/2020).

Eva menjelaskan kasus Covid-19 sempat muncul di akhir Mei dan Juni dari satu klaster pasar. Saat itu, dirinya memutuskan menutup pasar untuk dilakukan sterilisasi. Untuk pasien positif langsung di-tracing sampai satu kelurahan. Begitu hasilnya reaktif mereka langsung ditampung di rumah singgah.

Selain membangun rumah singgah, Bupati Eva menambahkan pihaknya membentuk tim Gugus Tugas dari tingkat kecamatan, kelurahan, desa, sampai kampung. Tim gugus tugas ini memantau seluruh tamu yang masuk secara ketat dan dipantau sebelum beraktivitas di wilayahnya.

“Kami bangun rumah singgah di kabupaten, kecamatan, hingga desa semua ada. Setiap orang masuk harus diisolasi 2 minggu sebelum ke tempat tujuan,” tegasnya.

Sementara itu, Tokoh adat Kabupaten Kepulauan Sitaro Erland Jaya Salindeho mengatakan kerjasama masyarakat, budaya, dan pemerintah daerah sangat maksimal. Hanya saja tantangan yang dihadapi adalah sumber daya manusia di kampung-kampung terpencil. Namun semua itu teratasi dengan membentuk lembaga adat.

“Tentu kami mendukungnya dalam doa mendoakan pemerintah sebagaimana juga tercatat dalam Alkitab bahwa di Roma 13 ayat 4, pemerintah adalah hamba Allah. Dan kami memahami sungguh percaya bahwa ketika mereka dipilih ditetapkan Allah, telah meletakkan mereka melakukan tanggung jawab itu. Karena itu pertama-tama mendoakan mereka,” ungkap Erland.

Erland pun menegaskan bahwa sebagai tokoh agama terus bersinergi dengan pemeritah. “Kami bersinergi dengan pemerintah, kami terbuka ketika pemerintah meminta kami harus bergumul dalam doa di tempat lokasi misalnya terjadi bencana seperti tahun kemarin erupsi yang luar biasa, tetapi tidak memakan korban. Bupati memohon kepada para hamba Tuhan agar doa di lokasi dengan tindakan nyata itu dilakukan oleh kami para tokoh agama. Kami tetap bersinergitas dengan pemerintah,” tegas Erland.

Sementara itu, Eva menambahkan bahwa dengan dibentuknya lembaga adat akan memberikan hasil positif untuk membantu pemerintah mengedukasi masyarakat terutama saat penanganan Covid-19 maupun saat penanganan bencana alam.

“Pembentukan lembaga adat itu memberi hasil positif untuk mengedukasi masyarakat, pemberdayaan masyarakat, dan penanganan bencana alam,” ungkap Bupati Eva yang mendedikasikan penghargaan tinggi dari BNPB ini untuk seluruh warga Kepulauan Sitaro yang sudah bekerja sama dengan baik selama ini.

Sebelumnya, Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Doni Monardo mengapresiasi Kabupaten Sitaro dalam penanganan Covid-19 selama ini. Ia pun tetap mengingatkan agar upaya pengendalian penyebaran virus Covid-19 terus ditingkatkan. Selain itu, edukasi dan sosialisasi protokol kesehatan kepada masyarakat juga harus tetap dilakukan.

“Karena dengan adanya penguatan kerjasama semua pihak, maka upaya penanganan dapat dilaksanakan secara maksimal. Tentunya jika masyarakat sudah mengerti dengan penerapan protokol kesehatan ini, kita akan bisa meminimalisir atau menekan angka penyebaran virus corona,” kata Doni.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini