Serangan Pangeran Antasari ke Markas Penjajah Bikin Belanda Kewalahan

Fahreza Rizky, Okezone · Minggu 11 Oktober 2020 14:08 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 11 337 2291861 serangan-pangeran-antasari-ke-markas-penjajah-bikin-belanda-kewalahan-AS9uq2lj4K.jpg Tangkapan Layar Media Sosial

JAKARTA - Indonesia dikenal sebagai negeri para pahlawan. Dari Sabang hingga Merauke, banyak orang hebat yang mengorbankan jiwa raganya untuk merebut hak pusaka (kemerdekaan) dari rezim kolonial Belanda. Satu dari sekian banyak pahlawan ialah Pangeran Antasari.

(Baca juga: Mengenal Pangeran Antasari, Sultan Banjar yang Gigih Melawan Penjajah)

Dikutip dari Wikipedia, Pangeran Antasari lahir di Kayu Tangi, Kesultanan Banjar, pada 1797 atau 1809. Dia tutup usia di Bayan Bengok, Hindia Belanda, 11 Oktober 1862.

Antasari adalah Sultan Banjar. Pada 14 Maret 1862 ia dinobatkan sebagai pimpinan pemerintahan tertinggi di Kesultanan Banjar dengan menyandang gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin.

Seruan yang terkenal saat Pangeran Antasari didapuk menjadi pemimpin pemerintahan, panglima perang dan pemuka agama tertinggi adalah: "Hidup untuk Allah dan Mati untuk Allah!."

Dengan penobatan itu, tak ada alasan bagi Antasari untuk berhenti berjuang.

Pangeran Antasari dikenal gigih dalam tiap pertempuran. Semisal pada Perang Banjar, ia tanpa rasa gentar menyerang tambang batu bara milik Belanda di Pengaron pada pada tahun 1859.

Tak hanya itu, Antasari juga kerap melancarkan serangan ke pos-pos Belanda yang ada di wilayah Kerajaan Banjar, seperti di Martapura, Tabalong, sepanjang Sungai Barito, dan lain sebagainya.

Kegigihan Antasari dan pasukannya dalam melawan Belanda membuat rezim kolonial kewalahan. Berkali-kali pemerintah melobi Antasari agar takluk, namun upaya itu dimentahkan olehnya. Antasari enggan berkompromi terhadap orang asing yang menjajah negerinya.

Pada 11 Oktober 1862 Antasari akhirnya tutup usia karena sakit paru-paru dan cacar yang dideritanya. Perjuangan melawan rezim kolonial dilanjutkan oleh putranya bernama Muhammad Seman.

Pada 11 November 1958 makam Pangeran Antasari dipindahkan ke Taman Makam Perang Banjar, Kelurahan Surgi Mufti, Banjarmasin, atas persetujuan pihak keluarga.

Karena kegigihannya, Pangeran Antasari dianugerahi gelar pahlawan nasional dan kemerdekaan oleh pemerintah Indonesia berdasarkan SK No. 06/TK/1968 di Jakarta, tertanggal 27 Maret 1968. Tak hanya itu, sosok Antasari juga tersemat dalam uang kertas nominal Rp2.000.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini