Mengenang Perjuangan Pembebasan Irian Barat

Muhamad Rizky, Okezone · Sabtu 10 Oktober 2020 08:02 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 10 337 2291426 mengenang-perjuangan-pembebasan-irian-barat-UiUEK65WtK.jpg Demonstrasi menentang kekuasaan Belanda di Irian Barat (Foto: Arsip Nasional)

JAKARTA - Irian Barat yang kini dikenal sebagai Papua memiliki sejarah panjang sebelum kembali bergabung dengan Indonesia. Detik-detik masuknya Irian Barat ke Indonesia bermula pada 11 Juni 1964 lalu ketika Indonesia dan Belanda sepakat untuk membentuk komisi bersama.

Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia dalam Perjanjian Pengakuan Kedaulatan pada Desember 1949, meski enggan melepaskan Papua. Belanda dalam perjanjian itu menyebut bahwa wilayah Irian Barat akan dibicarakan setahun setelah pengakuan kedaulatan.

Setahun berlalu, pada 1950, Belanda masih menolak melepas Irian Barat. Alasannya wilayah ini merupakan daerah yang kaya akan sumber daya alam khususnya di bidang pertambangan.

Baca Juga: KKB Kembali Tembaki Pos TNI di Papua, 1 Warga Jadi Korban 

Presiden Soekarno tidak tinggal diam melihat hal itu. Perjuangan diplomasi kemudian dilakukan khususnya setelah Indonesia mendapatkan dukungan dari negara-negara peserta Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955.

Di sisi lain, Belanda juga mulai mencari dukungan khususnya dari Amerika Serikat (AS) agar Irian Barat tetap berada di dalam kekuasaannya. Hingga pada 1960, tidak ada perkembangan positif dari Pemerintah Belanda. Di saat yang sama PBB yang telah berupaya menyelesaikan Irian Barat, belum membuahkan hasil.

Alhasil, pada 1961 Presiden Soekarno memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda dan mulai mempersiapkan operasi militer untuk merebut Irian Barat. Saat itu, pemerintah menggaungkan Trikora (Tri Komando Rakyat) untuk membangkitkan semangat rakyat.

Baca Juga: Pemerintah Bentuk Tim Investigasi Gabungan Usut KKB di Intan Jaya

Pada 15 Januari 1962 sebuah pertempuran pecah di Laut Arafuru, Irian Barat, yang mana dalam pertempuran tersebut Pahlawan Nasional Komodor Yos Sudarso gugur. Kendati demikian, pemerintah berhasil menyusupkan beberapa tentara ke hutan belantara Irian Barat untuk melakukan serangan darat.

Dunia yang melihat kondisi tersebut cemas, Sekjen PBB U Thant menunjuk Duta Besar AS Elsworth Bunker untuk menjadi mediator Indonesia dengan Belanda.

Pada 15 Agustus 1962, ditandatangani oleh Perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian New York yang ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri Indonesia, Soebandrio dan delegasi Belanda Van Royen. Isi dari Perjanjian New York adalah dibentuk peralihan pemerintahan dari Belanda kepada PBB melalui suatu badan khusus.

PBB kemudian membentuk UNTEA sebagai badan peralihan kekuasaan di Irian Barat. Badan ini mulai efektif bekerja pada 1 Oktober 1962. Akhirnya pada 1 Mei 1963 UNTEA pun menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia, bendera merah putih pun berkibar di tanah Irian Barat.

Meskipun demikian perjuangan tersebut tidak sampai disana, saat itu Indonesia juga harus melaksanakan Penentuan Pendapat rakyat (Pepera) untuk mengetahui aspirasi rakyat Irian Barat. Pada 11 Juni 1964 dibentuk komisi bersama Indonesia dan Belanda guna memastikan proses referendum berjalan aman.

Sulitnya infrastruktur di Irian Barat dan perubahan politik di Indonesia menyebabkan Pepera baru dilaksanakan pada 1969, dengan dihadiri oleh utusan PBB masyarakat Irian Barat menyatakan memilih bergabung dengan Indonesia.

Hasil ini kemudian dilaporkan kepada Pemerintah Indonesia di Jakarta, Presiden Soeharto pun mengubah nama Irian Barat menjadi Irian Jaya dan menetapkannya sebagai provinsi ke-26. Namun, di era Abdurrahman Wahid (Gus Dur), namanya diganti menjadi Papua.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini