Pengembangan Vaksin Covid-19 Butuh Waktu Panjang, Begini Prosesnya

Dita Angga R, Sindonews · Selasa 06 Oktober 2020 21:04 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 06 337 2289496 pengembangan-vaksin-covid-19-butuh-waktu-panjang-begini-prosesnya-5EXDGEG5RQ.jpg Foto: Illustrasi Shutterstock

JAKARTA - Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengungkapkan, bahwa butuh waktu yang panjang untuk mengembangkan vaksin. Hal ini untuk memastikan bahwa vaksin yang dikembangkan amat bagi manusia.

“Vaksin yang nantinya akan masuk ke Indonesia harus dipastikan secara data, dan penelitian aman bagi masyarakat. Karena vaksin ini akan disuntikkan ke jutaan orang yang sehat. Pengembangan vaksin umumnya membutuhkan waktu dan proses yang cukup panjang,” katanya saat konferensi pers di Kantor Presiden, Selasa (6/10/2020).

Dia mengatakan, bahwa pengembangan vaksin dimulai dari penilitan dasar. Pada tahap ini ilmuwan menelusuri mekanisme potensial berdasarkan ilmu sains biomedis. Kemudian vaksin akan dibuat dalam jumlah terbatas untuk bisa memasuki pre klinis dan uji klinis I, II, dan III.

“Setelah penelitian dasar, vaksin masuk tahap uji pre klinis. Studi sel di laboratorium yakni studi in vitro dan in vivo,” ungkapnya

Setelah melewati tahap uji pre klinis, maka vaksin akan masuk uji klinis fase I. Pada uji klinis tahap I ini, vaksin akan diberikan ke sekelompok kecil orang untuk melihat respons imun dan kekebalan yang dipicu. Sementara pada fase II, vaksin diberikan kepada ratusan orang sehingga ilmuwan bisa mempelajari lebih lanjut tentang keamanan dan dosis yang tepat.

“Pada uji klinis fase III, vaksin diberikan kepada ribuan orang untuk memastikan keamanannya termasuk efek samping yang jarang terjadi dan keefektifannya. Uji coba ini melibatkan kelompok kontrol yang diberi placebo. Artinya, kelompok kontrol adalah masyarakat yang disuntik tapi tidak dengan vaksin,” ujarnya

 

Wiku menyebut, bahwa melalui proses uji klinis ini ilmuwan dapat mengetahui apakah vaksin akan menimbulkan efek samping atau tidak. Hal ini mengingat belum ada vaksin covid-19 yang sudah lulus uji klinis fase III sampai saat ini.

“Jadi kewaspadaan dan monitoring terhadap kemaanan vaksin tetap harus dilakukan,” katanya.

Lebih lanjut, Wiku mengatakan, yang menjadi fokus pada uji klinis adalah kemungkinan adanya Antibody Dependent Enhancement (ADE). Menurutnya, ADE adalah kondisi dari reaksi tubuh karena antibodi tubuh dalam melawan antigen. Dalam hal ini, bisa berupa virus atau bakteri.

“Dan antibodi tersebut bukan antibodi yang spesifik untuk melawan virus tersebut. Hal ini menimbulkan reaksi tubuh yang negatif. Terkait dengan efek samping ADE, sejauh ini hanya terlihat pada penyakit Dengue dan sejenisnya. Dan tidak pada virus lain. Fenomena ADE, terlihat pada MERS, SARS, Ebola, HIV, semata-semata ditemukan in silico dan in vitro dan tidak menggambarkan fenomena di manusia,” paparnya.

Dia mengatakan, sejauh ini fenomena ADE untuk SARS COV2 atau covid sudah diselidiki sejak percobaan pre klinis dan dinyatakan aman dan baik. Namun karena adanya perbedaan antara hewan percobaan dan manusia maka risiko ADE tetap harus diinvestigasi di tahap uji klinis.

"Inilah pentingnya uji klinis melalui semua fase. Jika sudah lulus fase tiga dan memberikan laporan yang baik, maka kandidat vaksin bisa meminta persetujuan edar dari lembaga pengawas. Kita tidak boleh terburu-buru dan harus berpegang teguh pada data hasil uji," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini