Saat Ribuan Pelajar Tangisi Kepergian Ade Irma Suryani, Perisai Jenderal Nasution

Fahmi Firdaus , Okezone · Selasa 06 Oktober 2020 10:24 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 06 337 2289048 saat-ribuan-pelajar-tangisi-kepergian-ade-irma-suryani-perisai-jenderal-nasution-K18HP3Z2Pd.jpg Foto: wikipedia

JENDERAL Abdul Haris Nasution masuk jadi salah satu perwira tinggi bidikan PKI untuk diculik pada Gerakan 30 September atau G30S/PKI.

Namun Nasution luput dari maut, meski harus merelakan salah satu ajudannya, Lettu (CZI) Pierre Andreas Tendean dan yang paling menyakitkan, putrinya, Ade Irma Suryani tewas tertembak peluru pasukan Cakrabirawa.

(Baca juga: Saat Kritis Bersimbah Darah, Ade Irma Suryani: Kenapa Ayah Ditembak?)

Dikutip dari buku ‘Tujuh Prajurit TNI Gugur: 1 Oktober 1965’, pada 30 September 1965 , saat kediaman Jenderal Nasution didatangi gerombolan Tjakrabirawa, Tendean orang pertama yang menghadapi dan mengaku sebagai Nasution. Tendean sempat lebih dulu diikat di pohon besar depan rumah oleh gerombolan pimpinan Lettu Doel Arief.

(Baca juga: Dipelukan Alpiah Makasebape Ade Irma Suryani Menghembuskan Napas Terakhirnya)

Tapi setelah mendapat sejumlah penganiyaan dan penyiksaan, barulah diketahui yang yang mereka tangkap itu bukan Nasution. Tendean dibiarkan sekarat dengan beberapa luka tembak sampai menghembuskan nafas terakhirnya.

Nasution sendiri, berhasil meloloskan diri dengan melompat pagar dan sembunyi di rumah Duta Besar Irak di sebelah kediamannya. Sementara keluarga Tendean baru tahu bahwa perwira TNI belasteran Indonesia-Prancis itu turut jadi korban kebengisan PKI, via siaran radio pada 4 Oktober 1965.

Salah satu gerombolan melihat sosok Nasution di balik pintu. Mereka pun sontak melontarkan tembakan. Nasution berusaha menghindar dengan menjatuhkan diri ke lantai. Bak mukjizat, peluru-peluru itu pun luput dari tubuh istri Nasution.

Tapi berondongan tembakan di dalam rumah mengenai tubuh Ade Irma yang sudah terbangun dari tidurnya. Sementara Nasution sudah meloloskan diri, sang istri yang kemudian mendekati Ade Irma, mendapati putrinya bersimbah darah.

Sembari tercekat menahan ledakan air mata, Johanna berharap putrinya bisa bertahan. “Ade hidup terus, ya”, ucap Johanna. “Ya mama. Hidup terus. Mengapa Ayah ditembak, mama?” jawab Ade Irma lagi.

Segera Johanna membawa putrinya ke RSPAD bersama keponakan Nasution, Saidi. Dalam perjalanan, Johanna juga sempat melaporkan kejadian itu ke Markas KKO (kini Marinir TNI AL) dekat RSPAD.

Nasution sendiri baru keluar dari persembunyian sekira pukul 06.30 WIB. Ade Irma sendiri di RSPAD menjalani operasi, tapi nyawanya tetap tak bertahan lama. Lima hari pascakejadian, Ade Irma Suryani dipanggil Yang Maha Kuasa, pada 6 Oktober 1965 atau tepat 55 tahun silam.

Duka nan sangat mendalam buat keluarga Nasution yang kemudian, menghaturkan doa ketika Ade Irma dimakamkan di Blok P, Kemayoran dengan diiringi tangis ribuan pelajar yang kehilangan sosok gadis berusia 5,5 tahun tersebut.

“Anakku yang tercinta. Engkau telah mendahului gugur sebagai perisai untuk Ayahmu. Engkau mendahului kami semua menghadap kepada Allah Ta’ala dan semoga engkau mendapat tempat yang sebaik-baiknya di sisi Tuhan,” cetus doa Nasution.

“Ya Allah, terimalah putri kami ini dengan segala kebaikannya. Kami mengantarkannya dengan ikhlas, mengembalikannya pada-Mu, karena Engkaulah yang empunya. Kami sekeluarga memanjatkan doa syukur kepada-Mu atas segala kebahagiaan yang jadi nikmat bagi kami selama dia ada di sisi kami. Sekarang dia kembali kepada-Mu sebagaimana semuanya akan kembali kepada-Mu. Amien,” tandas Nasution.

Sementara itu, Alpiah Makasebape (83) saksi hidup sejarah kelam keganasan G30S/PKI masih mengingat dengan jelas kejadian malam jahanam tersebut. Oma Tintang biasa dia disapa juga turut dipanggil oleh tim forensik untuk mengenali mayat Kapten Pierre Tendean usai dikeluarkan dari Lubang Buaya.

Perjalanan Oma Tintang sehingga menjadi pengasuh Ade Irma Suryani Nasution cukup panjang. Lahir di Tamako, 25 Desember 1936, di usia muda dia meninggalkan pekerjaannya sebagai perawat di Rumah Sakit Umum Liun Kendage, Tahuna dan memilih merantau meninggalkan kampung halaman.

Oma Tintang mengakui bahwa sebenarnya nama Ade tidak ada, nama Ade merupakan panggilan kesayangan pemberiannya kepada Irma Suryani Nasution.

“Saya merasa bangga karena bisa menjaga anak perempuan yang sudah saya dianggap sebagai putri sendiri,” ujarnya kepada Okezone beberapa waktu lalu.

Dia juga mengakui sebelum Ade Irma meninggal, ia sudah mendapati ada firasat buruk kepada putri bungsu sang jenderal. Kadang suka menangis tanpa sebab dan juga tidak suka makan.

Usai kejadian penculikan, dia sempat membawa Ade Irma ke rumah sakit. Namun dalam perjalanan ia mengaku turun dari mobil untuk melaporkan kejadian naas itu. Dia kemudian pergi ke markas Marinir untuk melaporkan kejadian yang terjadi di rumah Jenderal Nasution.

Tahun 1969 dia memilih pulang ke kampung halamannya. Komunikasi dengan keluarga Nasution masih tetap terjaga. Kenang-kenangannya berupa foto bersama keluarga Nasution masih tersimpan rapi. Begitu juga dengan kalung milik almarhumah Ade Irma yang diberikan kepadanya masih tersimpan dengan baik sampai sekarang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini