Kisah 'Hantu Laut', Prajurit Marinir Penjaga Perbatasan Indonesia

Arie Dwi Satrio, Okezone · Senin 05 Oktober 2020 12:21 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 05 337 2288541 kisah-hantu-laut-prajurit-marinir-penjaga-perbatasan-indonesia-bjo6qYce0b.jpg dok: Marinir

"SEBAGAI prajurit TNI, kehormatan tertinggi adalah menjaga kedaulatan NKRI, tetap semangat, jaga kesehatan, NKRI sudah harga mati di hati kita," tegas Letnan Satu (Lettu) Mar, M Adam Septian Keulana.

(Baca juga: Cerita Jenderal TNI AU Dimarahi Ibunya karena Terbangkan Jet Tempur F-16 di Atas Rumah)

Pesan itu terngiang-ngiang di kuping penulis ketika berbincang dengan salah satu prajurit Marinir yang menjaga perbatasan Indonesia - Malaysia, Lettu Mar, M Adam Septian Keulana.

Lettu Mar Adam merupakan Komandan Satgas Marinir Pam Ambalat XXVI. Beberapa bulan lalu, ia mendapat tugas dari kesatuannya untuk memimpin pasukan menjaga perbatasan Indonesia - Malaysia di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara. Sebatik sendiri merupakan pulau terdepan sekaligus terluar di Indonesia.

(Baca juga: Horor di Belantara Papua, Kisah Prajurit Kopassus Tersesat di 'Alam Lain')

Sebagai seorang prajurit Marinir, Adam harus siap dan tidak boleh menolak tugas dari kesatuan. Apalagi, tugas dalam menjaga kedaulatan negara. Ia pun harus rela meninggalkan keluarga demi menjaga perbatasan Indonesia.

Adam tak memungkiri ada rasa rindu yang tak terbendung dengan sang istri disaat-saat seperti ini. Terlebih, rumah tangga Adam dengan sang istri baru berjalan setahun. Namun, itu risiko ketika menjadi seorang prajurit Marinir.

(Baca juga: Diguyur Hujan Semalam, Ratusan Rumah di Jakarta Kebanjiran)

"Kangen ya pasti adalah. Kalau sama-sama masih manusia ya pasti ada rasa kangen. Tapi istri harus kuat, resiko nikah sama aparat ya seperti ini," tutur Adam saat berbincang dengan Okezone lewat sambungan telepon, Minggu, 4 Oktober 2020.

Tak hanya Adam, ada ratusan prajurit Marinir lainnya yang harus rela meninggalkan keluarga demi menjalankan tugas di Pulau Sebatik. Mereka harus meninggalkan keluarga selama sembilan bulan, tak boleh pulang, kecuali ada kebutuhan yang sangat mendesak.

"Selama penugasan 9 bulan di Sebatik kita tidak boleh pulang, kecuali apabila ada situasi menonjol seperti orang tua meninggal kita bisa memberi izin yang bersangkutan untuk kembali," ucapnya.

Beruntung, rindu mereka dengan keluarga sedikit terobati karena adanya telepon genggam. Jika rindu, paling tidak para prajurit saling bertegur sapa lewat video call. "Komunikasi Alhamdulillah lancar, karena Handphone sekarang kan sudah canggih kita bisa video call bersama keluarga," terangnya.

Satgas Marinir Pam Ambalat XXVI sendiri terbilang belum lama berada di Pulau Sebatik. Mereka baru bertugas menjaga perbatasan di pulau tersebut hampir tiga minggu.

Namun memang, tugas mereka kali ini cukup berat. Karena, selain menjaga perbatasan, para prajurit juga harus mampu bertahan melawan pandemi virus corona (Covid-19). Untungnya, Pulau Sebatik saat ini masuk dalam zona hijau atau nihil kasus corona.

"Untuk protokol kesehatan kita tetap melaksanakan karena merupakan perintah dari atasan, contohnya seperti tetap menggunakan masker, rajin cuci tangan, berjemur dan berolah raga tetap dilaksanakan" imbuhnya.

Sebenarnya, bukan hanya Satgas Marinir Pam Ambalat XXVI yang saat ini sedang bertugas di perbatasan. Ada banyak prajurit dari kesatuan lainnya yang juga terjun langsung menjaga kedaulatan negara. Merekalah para prajurit yang jiwa dan raganya disumpah untuk menjaga negara.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini