Krisis Tenaga Kesehatan di Tengah Peningkatan Kasus Covid-19

Arie Dwi Satrio, Okezone · Minggu 04 Oktober 2020 12:49 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 04 337 2288172 krisis-tenaga-kesehatan-di-tengah-peningkatan-kasus-covid-19-PyTy5mcNA0.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Jumlah tenaga kesehatan (nakes) di Indonesia terus berkurang signifikan, dalam beberapa waktu belakangan ini. Tak sedikit tenaga kesehatan yang gugur saat berjuang menjadi garda terdepan penanganan pandemi virus corona (Covid-19).

Banyaknya nakes yang gugur tentu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI). Terlebih, PB IDI melihat bahwa kasus konfirmasi positif Covid-19 di Indonesia masih terus meningkat.

"Kehilangan tenaga kesehatan merupakan kerugian besar bagi suatu bangsa, terutama dalam mempertahankan dan mengembangkan aspek kesehatan jumlah tenaga kesehatan, terutama di Indonesia," kata Wakil Ketua Tim Mitigasi PB IDI, Dokter Ari Kusuma melalui tayangan video yang diterima Okezone, Minggu (4/10/2020).

Berdasarkan data yang dikantongi PB IDI, sebanyak 130 dokter dan 92 perawat, meninggal dunia akibat terpapar Covid-19. Kondisi ini, diungkapkan Ari Kusuma, sangat memprihatinkan. Gugurnya para tenaga kesehatan tersebut menjadi sia-sia karena masih banyak masyarakat yang abai terhadap protokol kesehatan.

"Yang memprihatinkan adalah, meski pemerintah dan banyak pihak yang sudah gencar menyampaikan pentingnya protokol kesehatan, namun jumlah kematian tenaga kesehatan terutama dokter, semakin bertambah pesat, dan kita tahu jumlah kematian yang bertambah pesat ini, masyarakat tidak hanya abai terhadap protokol kesehatan, namun juga tidak peduli terhadap keselamatan tenaga kesehatan," ujarnya.

Baca juga: RS Darurat Wisma Atlet Rawat 3.849 Pasien Positif Covid-19

Menurut Ari Kusuma, sebelum adanya pandemi Covid-19, jumlah tenaga kesehatan dan dokter di Indonesia merupakan yang terendah dari rata-rata Asia, serta dunia. Ari pun menjabarkan bahwa satu dokter di Indonesia harus melayani sekira 3.000 pasien.

"Nah, dengan banyaknya korban dari tenaga kesehatan saat ini, maka ke depannya layanan masyarakat dari pasien baik covid maupun non-covid jelas akan terganggu karena kurangnya tenaga medis," pungkasnya.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini