Suasana Mencekam di Sumur Maut saat Pencarian Jasad Pahlawan Revolusi

Muhamad Rizky, Okezone · Minggu 04 Oktober 2020 12:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 04 337 2288156 suasana-mencekam-di-sumur-maut-saat-pencarian-jasad-pahlawan-revolusi-ureRtB8ZIH.jpg ilustrasi: okezone

JAKARTA - Sore itu pada 3 Oktober 1965 setelah peristiwa G30S/PKI,  Asmawi bersama tujuh orang rekannya diajak oleh Lurah Lubang Buaya untuk membenahi sebuah jembatan. Tanpa pikir panjang mereka mengiyakan ajakan tersebut dengan suka rela.

(Baca juga: Titah Soeharto ke Sarwo Edhie: Rebut Pangkalan Udara Halim dan RRI)

Saat itu, mereka tidak benar-benar membenahi jembatan melainkan diperintah untuk mencari sumur tua yang kini dikenal sebagai lubang buaya. Tempat 7 pahlawan dibunuh dan jasadnya dibuang ke dalam sumur usai kejadian G30S/PKI.

Asmawi bersama tujuh rekannya adalah penggali sumur lubang buaya. Ia menceritakan bagaimana kondisi mencekam saat itu yang diperintah untuk menggali sumur di tengah todongan senjata ABRI yang kini dikenal TNI.

(Baca juga: 4 Oktober 1965 Jasad Pahlawan Revolusi Dievakuasi, Ini Cerita Penggali Sumur soal Kondisi Jenazah)

Asmawi menceritakan sumur lubang buaya tersebut tidak begitu saja langsung ditemukan. Butuh waktu 2 jam untuk menemukan sumur tersebut atas perintah seseorang yang mengenakan seragam ABRI dengan baret merah. Prajurit itu pula yang menunjuk tanah mana yang harus digali.

"Waktu itu pencarian sumur bapak yang pakai baret merah bawa besi pas dicocokin (tusuk ke tanah) pas ketemu bunyi besi nah katanya coba gali lubang," ujar Asmawi menceritakan kisahnya sebagaimana dikutip Okezone dari YouTube Kurator Museum pada Sabtu (3/10/2020).

Menurut Asmawi, saat menemukan sumur Lubang Buaya tersebut terlihat sebuah pohon pisang yang baru ditanam. Tanahnya tidak terlalu keras untuk digali. Namun sepanjang penggalian justru tanah tersebut hanya dipenuhi sampah.

"Pertama itu (dalemnya) sampah dulu bukan tanah. Sampahnya macem-macem ada daun pohon pisang masuk," ungkapnya.

(Baca juga: Sebar Narasi Tentara Berseragam di Bandara Soetta, Polisi Selidiki Akun Twitter @BerisikEmak)

Penggalian itu sendiri kata Asmawi dilakukan sekira pukul 16.00 WIB sore hingga pukul 01.00 WIB malam. Selama penggalian mereka tanpa diberi makan ataupun minum.

Asmawi ingat betul bagaimana rekan-rekan dan dirinya kelelahan ditambah tekanan todongan senjata dari prajurit yang menjaga selama proses penggalian. Rasa takut dan lelah bercampur namun mereka tak bisa mengelak untuk melakukan penggalian.

"Takut orang senjata ABRI ditodong disini, (menunjuk belakang punggung) disini (mengarah ke perut)," tambahnya.

Hingga pada akhirnya sekitar kedalaman 11 meter kata Asmawi ia terkejut melihat ada jempol kaki. Karena kondisi kelelahan ia meminta rekannya untuk bergantian. Namun rekannya justru pingsan saat melihat jempol tersebut.

"Pas ketemu jempol saya udah enggak sanggup. Terus pak Saih turun pingsan dia. Abis itu kita ga ada yang turun lagi dan istrahat," tambahnya.

Asmawi mengatakan, ia bersama rekannya istrahat disebuah rumah tak jauh dari Lubang Buaya. Mereka tidur seadanya dan tidak bisa membersihkan diri.

Keesokan harinya Asmawi sudah tidak lagi diminta untuk menggali lubang bersama rekannya. Namun ada pasukan lain yang melakukan pengangkatan jenazah. Bahkan pengangkatan itu disaksikan langsung oleh Presiden ke-2 RI Soeharto.

"Pak Harto hadir saat pengangkatan jenazah malah dia yang duduk di depan sumur. Dia duduk tenang aja," ungkapnya.

Dari posisi itu pula Asmawi melihat bagaimana kondisi jenazah saat diangkut ke ambulans. Meski tidak mengenal siapa jenazah tersebut Asmwai tahu mereka berseragam. "Jenazah masih pakai baju cuma kelihatan ada darah," tandasnya.

Pengangkatan jenazah itu pun selesai sekira jam 12 siang. Lubang Buaya kemudian sepi ditinggalkan pasukan ABRI dan lainnya. Sejak itu mereka berdelapan diizinkan untuk pulang dan kembali ke rumah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini