Kisah Pilu Bang Pane, Penggali Jasad Pahlawan Revolusi yang Meninggal karena Stres

Harits Tryan Akhmad, Okezone · Sabtu 03 Oktober 2020 12:18 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 03 337 2287818 kisah-pilu-bang-pane-penggali-jasad-pahlawan-revolusi-yang-meninggal-karena-stres-Sh1M7USdRK.jpg Tangkapan layar media sosial

JAKARTA - Mahmud adalah salah satu masyarakat yang membantu Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) dalam mencari tempat pembuangan tujuh jendral yang dibunuh oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) di Lubang Buaya, Jakarta saat Gerakan 30 September tahun 1965 atau G30S/PKI.

Dalam video yang diunggah oleh akun Kurator Museum di YouTube menampilkan wawancara Mahmud terhadap pengalaman yang dialaminya usai berhasil menggali sumur tersebut.

(Baca juga: Bantu RPKAD Cari Jasad Pahlawan Revolusi, Hansip Ini Diganjar Piagam dari Try Sutrisno)

Setelah menggali dari 3 Oktober 1965 tepatnya di sore hari, sekitar pukul stengah 1 malam atau tanggal 4 Oktober dini hari penggalian dihentikan usai salah satu teman Mahmud pingsan.

“Dia (Suparman) memegang bahwa ada kaki manusia, kemudia dia pingsan,” ujar Mahmud.

Menurut Mahmud bisa saja salah satu faktor yang membuat Suparman pingsan lantaran para penggali tak makan ataupun minum selama bekerja. Kemudian Suparman diangkat ke atas sumur untuk di evakuasi ke sebuah rumah.

Penggalian sumur pun dihentikan, Mahmud bersama tujuh kawannnya di bawa ke sebuah rumah. Disitu mereka diinterogasi dan disuruh untuk berisitrahat lantaran waktu sudah masuk dini hari.

“Karena memang pada waktu itu TNI (ABRI) bilang ini kejadian untuk dokumentasi negara harus ada gambar foto dan lainnya,” tutur Mahmud.

Lantaran selama di rumah tersebut Mahmud dan temannya mendapatkan penjagaan dari ABRI. Agar suasana akrab, Mahmud pun mengambil sebuah nangka yang ada kemudian dimasak untuk dimakan bersama-sama. “Nangka kuning dikusus setelah matang dimakan rame-rame dengan ABRI,” jelasnya.

(Baca  juga: Ini Penyebab Soeharto Tidak Menjadi Target Pembunuhan saat G30S/PKI)

Hari menjelang siang, Mahmud Cs kemudian diberikan makanan oleh pihak ABRI. Namun salah satu dari penggali sumur enggan menyuap makanan tersebut.

Ya dia adalah Pane. Mahmud pun memaksa agar Pane tetap makan dengan menyuapinnya. Ia khawatir Pane akan sakit jika tak makan disaat itu.

Rasa khawatir itu benar saja. Beberapa bulan setelah adanya penggalian sumur tempat tujuh pahlawan revolusi dibuang oleh PKI, Pane pun meninggal dunia lantaran stres.

“Yang setelah pulang (dari menggali Lubang Buaya), dapat beberapa bulan atau gak sampe setahun karena stres yang terus menerus. Itu bang Pane yang meninggal dari rombongan 8 orang,” tandasnya.

Diketahui pada tanggal 1 Oktober dini hari, Indonesia pernah diguncang peristiwa penculikan 6 orang perwira tinggi dan 1 orang perwira pertama Angkatan Darat. Peristiwa kelam itu dikenal dengan Gerakan 30 September (G30S/PKI).

Adapun mereka tujuh pahlawan revolusi yang menjadi korban yakni, Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani; Mayor Jenderal Raden Soeprapto; Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono; Mayor Jenderal Siswondo Parman; Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan; Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo; serta Lettu Pierre Andreas Tendean.

Mereka disiksa, ditembak, kemudian mayatnya dibuang ke sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Peristiwa pembunuhan para jenderal itu dikenang dengan Gerakan 30 September.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini