Bantu RPKAD Cari Jasad Pahlawan Revolusi, Hansip Ini Diganjar Piagam dari Try Sutrisno

Harits Tryan Akhmad, Okezone · Jum'at 02 Oktober 2020 11:58 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 02 337 2287264 bantu-rpkad-cari-jasad-pahlawan-revolusi-hansip-ini-diganjar-piagam-dari-try-sutrisno-hDW2jdAx4s.jpg Try Sutrisno (dok: Okezone)

JAKARTA – Setelah Gerakan 30 September atau G30S/PKI, terdapat beberapa warga yang turut memberikan bantuan dalam proses evakuasi korban tujuh pahlawan revolusi korban keganasan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Salah satunya adalah Yusuf. Di tahun 1965 saat itu usia Yusuf baru 16 tahun dan pekerjaannya adalah Hansip di kelurahan Lubang Buaya.

Yusuf membantu para tentara Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) dalam mencari tempat korban tujuh jenderal yang dibunuh oleh PKI. Ia tidak sendiri tentunya, bersama tujuh kawan lainnya menggali sumur tua tersebut.

(Baca juga: Saat Istri Jenderal Ahmad Yani Beri Makan Tahanan PKI)

Atas jasa membantu menemukan tujuh pahlawan revolusi yang menjadi korban, Yusuf pun mendapatkan piagam penghargaan dari Jenderal Try Sutrisno yang kala itu menjabat Panglima ABRI.

“Saya diajak berdialog ama pak Try Sutrisno diberikan piagam warna kuning emas. Saya merasa bangga sekali,” tutur Yusuf sebagaimana dilihat Okezone dalam video YouTube dikanal Kurator Museum, Jumat (2/10/2020).

Tak hanya piagam Yusuf juga diberikan hadiah berupa uang, beras, pakaian dan makanan. Ia pun bersyukur kala tahun 1965 dapat berkontribusi memberikan bantuan dalam menggali sumur Lubang Buaya.

Awalnya Yusuf bercerita dirinya tak bahwa akan menggali Lubang Buaya. Dia hanya diminta Lurah setempat untuk membetulkan sebuah jembatan.

Dengan membawa cangkul, Yusuf bergegas mengikuti ajakan itu. Ia pun kaget saat sesampainya di lokasi ia melihat banyak tentara bersenjata dengan baret merah dan melihat tujuh temannya sedang memacul kebon.

Mereka menggali dan menemukan isi sumur berupa sayuran, potongan kain merah, kuning, hijau. “Terus ada serombongam dateng bilang persisnya di Sumur ini. Saya gatau siapa, berpakaian tentara, ada juga pakaian coklat, enggak tau siapa,” ucap Yusuf.

Hari makin larut Yusuf bersama tujuh rekannya mulai lelah. Namun mereka tetap diminta Tentara untuk terus menggali lubang tersebut. Sampai salah satu kawannya akhirnya menekukan tanda bahwa didalam sumur tersebut ada mayat.

Yusuf pun dibawa ke sebuah rumah untuk bersitirahat sampai besok paginya dan tak mengetahui apa yang dilakukan oleh para Tentara. Barulah Yusuf mendapatkan informasi bahwa didalam sumur itu ditemukan mayat.

“Kemudian kita mendengar melihat beberapa petugas tadi yang jalan-jalan cari air cuci tangan basah karena lumpur, kabarnya ngangkat mayat,”tandansya.

Diketahui pada tanggal 1 Oktober dini hari, Indonesia pernah diguncang peristiwa penculikan 6 orang perwira tinggi dan 1 orang perwira pertama Angkatan Darat. Peristiwa kelam itu dikenal dengan Gerakan 30 September (G30S/PKI).

Adapun mereka tujuh pahlawan revolusi yang menjadi korban yakni, Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani; Mayor Jenderal Raden Soeprapto; Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono; Mayor Jenderal Siswondo Parman; Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan; Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo; serta Lettu Pierre Andreas Tendean.

Mereka disiksa, ditembak, kemudian mayatnya dibuang ke sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Peristiwa pembunuhan para jenderal itu dikenang dengan Gerakan 30 September.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini