4 Kejadian di Balik Lahirnya Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober

Hambali, Okezone · Jum'at 02 Oktober 2020 09:45 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 02 337 2287179 4-kejadian-di-balik-lahirnya-hari-kesaktian-pancasila-1-oktober-uIfwQ1i7No.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Bangsa Indonesia memperingati tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Tanggal itu ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 153/Tahun 1967, dilatarbelakangi tragedi berdarah yang merenggut nyawa 6 Jenderal dan 1 perwira utama TNI AD.

Lantas, apa saja fakta-fakta yang berkaitan dengan Hari Kesaktian Pancasil? Berikut data yang dihimpun Okezone dari berbagai sumber:

1. Pembantaian 6 Jenderal dan 1 Perwira TNI

Pembantaian terhadap jenderal dan perwira itu terjadi pada tanggal 30 September 1965. Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi dalang dibalik gerakan itu.

Pancasila.

Mereka yang terbunuh dalam G 30 S/PKI adalah, Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Mayor Jenderal Raden Soeprapto, Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono, Mayor Jenderal Siswondo Parman, Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan, Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo, dan Lettu Pierre Andreas Tendean.

2. Dewan Jenderal TNI

Dewan Jenderal adalah sebuah nama yang ditujukan oleh PKI untuk menuduh beberapa jenderal, yang disebutnya akan melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno pada Hari ABRI, 5 Oktober 1965.

Kelompok ini, menurut Menteri/Panglima Angkatan Darat Letjen Ahmad Yani bernama Dewan Kepangkatan dan Jabatan Tinggi (Wanjakti) dan hanya berfungsi sebagai penasihat bagian kenaikan pangkat dan jabatan dalam Angkatan Darat

Sebagai tandingan, PKI membentuk gerakan yang dinamai Dewan Revolusi Indonesia. Bertindak sebagai Ketua Dewan Revolusi, yaitu Letkol Untung Syamsuri, salah satu perwira ABRI yang berada di bawah pengaruh PKI.

Baca juga: Perjalanan Persembunyian Jenderal Nasution Pasca-Dijadikan Target Dibunuh

Namun, setelah peristiwa G30S hingga usai HUT TNI 5 Oktober 196, keberadaan Dewan Jenderal yang dituduhkan PKI tidak terbukti.

3. Pemberontakan untuk Mengubah Ideologi Negara.

Sebelum terjadinya G30S PKI, muncul pemberontakan yang dipimpin Muso pada tanggal 18 September 1948 di Madiun, Jawa Timur.

Pemberontakan ini dijalankan dengan tujuan utama untuk mendirikan Negara Repblik Soviet Indonesia yang berideologi komunis. Pemberontakan ini juga disebut akan mengganti dasar negara Pancasila dengan paham komunis. Namun, pemberontakan ini dapat digagalkan.

Bahkan tak hanya komunis, pada tahun 1953 hingga 1962, terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Jawa Barat yang dipimpin Kartosuwiryo. Gerakan ini bertujuan untuk mendirikan negara dengan dasar syariat Islam.

Namun, DI/TII berhasil diredam dengan konfrontasi militer. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak, hingga pada akhirnya pemimpin pemberontakan Kartosuwiryo berhasil ditangkap lalu dihukum mati.

4. Tunggangi Pasukan Daerah Luar Jakarta untuk Kudeta.

Terjadi pergeseran pasukan dari masing-masing Kodam untuk mengirimkan perwakilan sebanyak 1 batalion guna mengikuti parade HUT ABRI ke-20, 5 Oktober 1965. Di antaranya batalion 330 Siliwangi, batalion 454 Diponegoro, dan batalion 530 Brawijaya.

Pemberontakan PKI yang dipimpin Letkol Untung secara kebetulan memang ditunjuk sebagai panitia parade pasukan HUT ABRI. Momentum itu lantas dijadikan Untung untuk memperkuat pasukannya dalam melancarkan operasi penculikan Jenderal.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini