Hari Kesaktian Pancasila, Moeldoko Bicara soal Kewaspadaan Menenteramkan dan Menakutkan

Fahreza Rizky, Okezone · Kamis 01 Oktober 2020 14:16 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 01 337 2286757 hari-kesaktian-pancasila-moeldoko-bicara-soal-kewaspadaan-menenteramkan-dan-menakutkan-r5lvbiPRbd.jpg Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko menyebut hari Kesaktian Pancasila yang diperingati tiap 1 Oktober adalah sebuah peristiwa sejarah yang harus selalu diingatkan kepada generasi muda. Kesaktian Pancasila, kata dia, harus dimaknai secara lebih luas.

"Kalau Kesaktian Pancasila, itu memang sebuah peristiwa sejarah yang harus selalu diingatkan kepada generasi muda. Kita jangan sampai melupakan peristiwa sejarah. Kesaktian Pancasila mari kita maknai secara lebih luas," ujarnya melalui keterangan tertulis dari Staf Komunikasi Politik KSP, Kamis (1/10/2020).

Baca Juga:   Hari Kesaktian Pancasila, Jokowi: Kita Ditantang Ujian Tak Alang-Kepalang, Covid-19

Mantan Panglima TNI itu berujar Pancasila harus mewarnai seluruh segi kehidupan masyarakat. Artinya, momen Kesaktian Pancasila bukan sekadar berbicara tentang peristiwa 1965 semata.

"Pancasila harus mewarnai seluruh segi kehidupan kita. Bukan sekadar bicara peristiwa 1965. Kalau dari peristiwa itu pelajaran yang dibangun adalah kewaspadaan," jelasnya.

Peristiwa 1965 adalah sebuah fakta yang pernah terjadi di Indonesia. Karena itulah kewaspadaan harus senantiasa dijaga agar peristiwa tersebut tidak terulang kembali.

"Jangan sampai nanti kita masuk pada situasi yang sama, tapi modelnya berbeda. Peristiwa-peristiwa itu harus menjadi ingatan. Kita harus berfikir maju, tetapi tetap tidak boleh melupakan masa lalu. Jangan sekali-sekali kita melupakan sejarah," tutur Moeldoko.

 

Terkait dengan isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang digulirkan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, Moeldoko berpendapat suatu peristiwa tidak mungkin datang tiba-tiba. Itu harus dipahami dari aspek kesejarahannya. Oleh sebab itu, ia tak ingin isu kebangkitan PKI ini dimainkan secara berlebihan hingga menakuti orang lain.

"Saya sebagai pemimpin yang dilahirkan dari akar rumput bisa memahami peristiwa demi peristiwa. Mengevaluasi peristiwa demi peristiwa. Tidak mungkin datang secara tiba tiba. Karena spektrum itu terbentuk dan terbangun tidak muncul begitu saja. Jadi jangan berlebihan sehingga menakutkan orang lain," imbuhnya.

"Sebenarnya bisa saja sebuah peristiwa besar itu menjadi komoditas untuk kepentingan tertentu. Ada dua pendekatan dalam membangun kewaspadaan. Kewaspadaan yang dibangun untuk menenteramkan dan kewaspadaan yang menakutkan. Bedanya disitu. Tinggal kita melihat kepentingannya. Kalau kewaspadaan itu dibangun untuk menenteramkan maka tidak akan menimbulkan kecemasan. Tapi kalau kewaspadaan itu dibangun untuk menakutkan, pasti ada maksud-maksud tertentu," ucap Moeldoko.

Seorang pemimpin semestinya bisa memilih pilihan yang baik. Moeldoko sendiri memilih kewaspadaan untuk menentramkan terkait isu kebangkian PKI. Ketentraman amat diperlukan karena Indonesia saat ini sedang menghadapi pandemi corona.

"Yang terjadi saat ini, menghadapi situasi saat ini apalagi di masa pandemi, membangun kewaspadaan yang menenteramkan adalah sesuatu pilihan yang bijak," pungkas Moeldoko.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini