Saat Istri Jenderal Ahmad Yani Beri Makan Tahanan PKI

Fahmi Firdaus , Okezone · Kamis 01 Oktober 2020 11:43 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 01 337 2286641 saat-istri-jenderal-ahmad-yani-beri-makan-tahanan-pki-Lyz3nkl4Nn.jpg Amelia A. Yani (dok: Okezone)

SETIAP 1 Oktober bangsa Indonesia selalu memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Peristiwa ini terjadi setelah gerombolan pasukan yang didalangi Partai Komunis Indonesia (PKI), melakukan kudeta yang dikenal dengan Gerakan 30 September atau G30S/PKI.

G30S/PKI merupakan sejarah kelam bangsa Indonesia, lantaran adanya tragedi percobaan kudeta menggulingkan pemerintahan Presiden Soekarno dengan mengubah Indonesia sebagai negara komunis.

(Baca juga: Mimpi Anak Pahlawan Revolusi: Letjen MT Haryono Ditusuk Tombak oleh Orang Misterius)

Sebanyak enam jenderal dan satu perwira TNI-AD gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau G30SPKI Mereka dibunuh secara kejam oleh orang-orang yang terlibat dalam G30S. Mereka disiksa, ditembak, lalu mayatnya dibuang ke sebuah sumur tua di Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta Timur.

(Baca juga: Kisah Mistis di Kamar Jenderal Ahmad Yani, Ada Oknum Menebar Melati dan Sesajen)

Keenam jenderal dan satu perwira TNI-AD itu yakni, Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani; Mayor Jenderal Raden Soeprapto; Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono; Mayor Jenderal Siswondo Parman; Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan; Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo; serta Lettu Pierre Andreas Tendean.

Namun di satu sisi, ada sebuah kisah menarik saat Yayuk Ruliah Sutodiwirjo, istri mendiang Jenderal TNI (Anumerta) Ahmad Yani, memberikan para tahan PKI.

Salah satu putri sang jenderal, Amelia A. Yani, menceritakan kisah tersebut ketika sudah sekira setahun peristiwa Gerakan 30 September (G30S) berlalu.

Sejak peristiwa berdarah di rumah Jenderal Yani di Jalan Lembang D58, Jakarta Pusat pada suatu subuh, 1 Oktober 1965, keluarga Jenderal Yani tak pernah lagi menempati rumah itu.

Pada 1966, istri Jenderal Yani membeli rumah di seberang rumah lama mereka. Dari situ, Yayuk sering melihat para tahanan PKI yang dibawa para personel CPM (Corps Polisi Militer) untuk sekadar bersih-bersih di rumah lama mereka yang kini, difungsikan sebagai Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Ahmad Yani.

“Dulu tahanan PKI setiap beberapa hari seminggu, naik mobil penjara ke rumah (lama) kita. Mereka di sana membersihkan rumput dan halaman sekitar,” ujar Amelia kepada Okezone beberapa waktu lalu.

“Tapi ibu kemudian mengambilkan banyak piring. Diambilkan nasi dan teh manis. Disuruh makan dulu. CPM juga dikasih makan. Para tahanan itu makan dengan lahap meski sedikit masih takut-takut sama CPM. Dari situ saya tahu bahwa ibu sebenarnya sudah memaafkan. Sudah menjalankan rekonsiliasi,” sambungnya.

Selain pada para tahanan PKI, perhatian istri Jenderal Yani itu juga diberikan pada salah satu kolega dekat Jenderal Yani, yakni Mayjen Pranoto Reksosamudro.

Jenderal Pranoto sempat ditahan di Penjara Blok P, Kebayoran Baru, lantaran Asisten III Menpangad bidang Personalia itu, turut dituduh terlibat G30S.

“Ibu juga sering membawakan makanan buat Pak Pranoto ke tahanan. Kata ibu, mesakke (kasihan). Anaknya juga disenangkan sama Ibu. Ibu berusaha anak-anaknya (Pranoto) tak ikut menderita,” tutup Amelia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini