Kajian Potensi Gempa & Tsunami Dahsyat Dibangun dengan Banyak Asumsi

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Kamis 01 Oktober 2020 08:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 01 337 2286483 kajian-potensi-gempa-tsunami-dahsyat-dibangun-dengan-banyak-asumsi-jSlYDUPkWh.jpg Foto: Illustrasi Shutterstock

JAKARTA - Peneliti Paleotsunami Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Eko Yulianto mengatakan, tidak ada informasi atau kajian yang baru tentang potensi gempa Magnitudo (M)9,1 yang mengakibatkan tsunami 20 meter di selatan Jawa.

"Semuanya sudah pernah dikemukakan. Dan yang perlu dipahami oleh masyarakat dan juga reporter adalah bahwa paper tersebut dibangun dengan banyak asumsi," kata Eko saat dikonfirmasi Okezone, Kamis (1/10/2020).

 Baca juga: Potensi Tsunami 20 Meter Diketahui Setelah Simulasi 5 Jam

Ia menjelaskan, asumsi dari potensi gempa M9,1 dan tsunami 20 meter merupakan sesuatu yang dianggap benar. Padahal, kata dia, hasil kajian tersebut belum tentu benar.

Sebab, kajian tersebut basisnya dengan banyak asumsi sehingga kesimpulannya menjadi digiring oleh semua asusmsi-asumsi dari para ahli.

"Jadi angka 20 m itu muncul jika dan hanya jika asumsi-asumsi itu benar. misalnya jika memang seismicity gap sepanjang itu memang runtuh dan menghasilkan gempa dengan skala tersebut (karena tidak semua seismik gap memicu gempa). Jika gempa itu mengakibatkan deformasi lantai samudera dengan volume tertentu dan jika batimetri dasar laut memang seperti yang digunakan untuk menghitung," jelasnya.

 Baca juga: Heboh Gempa Besar dan Tsunami 20 Meter, Ini Panduan Evakuasinya

Eko memastikan, perkiraan gempa dan tsunami 20 meter akan salah bila hasil kajian para ahli tersebut juga salah.

"Jika ada orang lain yang membuat model maka mereka boleh jadi akan menghasilkan angka yang berbeda karena mereka menggunakan seperangkat 'jika-jika' yang berbeda pula," tuturnya.

 

Eko mengingatkan, hasil kajian peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko yang mengeluarkan hasil penelitiannya yang menyebut ada potensi tsunami di Pandenglang, Jawa Barat setinggi 57 meter akibat gempa bumi megathrust.

"Pak Widjokongko BPPT pernah mengeluarkan angka ketinggian tsunami yang berbeda beberapa waktu lalu, yang menimbulkan kehebohan karena menggunakan asumsi yang berbeda," imbuhnya.

Kajian Gempa & Tsunami untuk Tata Ruang di Kawasan Pantai

 

Eko menambahkan, hasil kajian potensi adanya gempa dan tsunami diharapkan sebagai acuan dasar dalam manajemen tata ruang wilayah pantai.

"Meskipun seringkali diklaim bahwa peta risiko tsunami itu sudah ada tapi baik kualitas data, maupun skala petanya sangat tidak memadai untuk digunakan sebagai basis bagi mitigasi risiko tsunami secara umum maupun basis tata ruang secara khusus," tuturnya.

Ia menerangkan, Pemkot Padang sampai kebingungan untuk memilih kajian dari para ahli dalam memperkirakan tsunami kota Padang lantaran adanya lima buah model rendaman tsunami yang berbeda-beda.

"Kalau yang dimaksud adalah potensi atau ancaman bencana tsunami, maka aspek penting pertama yang harus dikelola adalah tata ruang wilayah pantai. Kita mestinya bisa belajar dari kasus Tsunami Selat Sunda 2018 dan Palu 2018," tuturnya.

Sementara itu tsunami terhitung tsunami kecil yang inundasi gelombangnya hanya mencapai sekitar 200 meter dari garis pantai.

"Jika aturan sempadan pantai dipatuhi, maka seharusnya tidak perlu jatuh korban jiwa atau setidaknya korban jiwa dan kerugiannya akan bisa diminimalkan," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini