Potensi Tsunami 20 Meter Diketahui Setelah Simulasi 5 Jam

Fahreza Rizky, Okezone · Rabu 30 September 2020 19:48 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 30 337 2286374 potensi-tsunami-20-meter-diketahui-setelah-simulasi-5-jam-GU6xOtZ7SN.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

JAKARTA - Belakangan ini publik dihebohkan dengan hasil riset gempa bumi megathrust dan potensi tsunami setinggi 20 meter di wilayah Pantai Selatan Jawa. Potensi tsunami hingga 20 meter tersebut diketahui setelah para peniliti melakukan simulasi selama kurang lebih lima jam.

Hasil riset itu berjudul "Implications for megathrust earthquakes and tsunamis from seismic gaps south of Jawa Indonesia" yang diterbitkan dalam jurnal Nature Scientific Report. Riset itu melibatkan peneliti multidisiplin.

Ilmuwan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga menjadi tim peneliti, Prof Sri Widiyantoro mengatakan, riset yang dilakukan mengulas pemodelan dengan skenario terburuk terkait celah seismik dan pengaruhnya terhadap gempa megathrust serta tsunami.

Skenario pertama, pantai selatan Jawa bagian barat didapatkan potensi tsunami dengan ketinggian maksimum 20 meter bilamana celah seismik pecah dan menimbulkan gempa megathrust. Hal ini diketahui setelah dilakukan simulasi selama lima jam.

"Jadi untuk sebelah barat setelah disimulasikan secara lima jam kita dapatkan tinggi tsunami di pantai sepanjang Jawa Barat bagian selatan seperti ini, ini yang sering diberitakan, sebenarnya yang tepat maksimum 20 meter di posisi ini," ucap Sri dalam jumpa pers virtual bersama Kemenristek/BRIN, Rabu (30/9/2020).

Potensi tsunami dengan ketinggian maksimum 20 meter ini bisa terjadi di sisi barat karena sumber pecahannya berada di barat pula. Sedangkan di sisi timur tampak kecil.

Baca Juga : Bakal Paslon Positif Covid-19, Pegawai KPU Kabupaten Malang Dirapid Tes

Sedangkan skenario kedua, bila celah seismik pecah dan terjadi gempa megathrust di sisi timur maka akan terjadi potensi tsunami lebih tinggi dari barat. "Karena yang pecah sebelah timur," imbuhnya.

"Nah bagaimana worst case yang dilakukan? Seperti ini sumber yang di sebelah barat dan timur pecah bersamaan maka terjadilah (tsunami) 20 meter di sebelah barat dan 12 meter di sebelah timur, dan di antaranya rata-ratanya 4,5 sampe 5 meter," ungkapnya.

"Ini yang sebenarnya jadi pemberitaan belakangan ini jd risetnya sangat multidisiplin namun ujungnya skenario bagaimana kalau megathrust terjadi inilah worsct case skanario," ujarnya.

Sri mengakui sebetulnya banyak pemodelan dengan skenario lainnya. Bahkan jumlahnya bisa mencapai puluhan hingga ratusan. Namun karena dalam riset bersifat terbatas, maka dipilihlah skenario terburuk dengan harapan bisa dijadikan pedoman untuk mitigasi bencana.

"Tapi untuk keperluan mitigasi ditampilkan worst case sekarnio seperti ini," jelasnya.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala BRIN, Bambang Brodjonegoro, mengakui hingga saat ini belum ada metode atau teori yang bisa memprediksi kapan terjadinya gempa ataupun tsunami. Dengan demikian hasil riset dari peneliti multidisiplin ini ditujukan agar masyarakat lebih waspada dan antisipatif terhadap kemungkinan bencana tersebut.

"Maksud kegiatan ini bukan untuk menakut-nakuti masyarakat dan saya minta kepada rekan-rekan media bisa menyampaikan ini secara proporsional agar tidak menimbulkan kepanikan berlebihan. Kita sebagai pemangku kepentingan harus berupaya meningkatkan kesiapsiagaan di masyarakat dan mengedepankan usaha mitigasi atau meredam sebesar mungkin dampak bencana," kata Bambang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini